July 29, 2011

Azolla si pupuk hidup

Filed under: All About Biology — ratna @ 4:39 pm

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak  15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti  karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.  

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.

Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak  70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan  terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari  0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla  akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk  kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.  Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari  dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

rice-duck-azolla system

Seorang petani di Kyushu, Jepang  T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan  dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina  dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah  azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap  3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual  (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi).  Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di  Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China). 

azolla

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama.  Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern).

(Dirangkum dari banyak sumber)

January 1, 2011

SUWEG, umbi-umbian berpotensi yang belum populer

Filed under: All About Biology — ratna @ 9:32 pm

Indonesia merupakan negara mega diversity dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brazilia, yang diperkirakan memiliki 10% dari flora dunia dan sebagian besar keanekaragaman hayati tersebut tersimpan dalam hutan hujan tropis Indonesia. Akan tetapi hingga kini, eksploitasi sumber daya hutan hanya berorientasi pada kayu, padahal produk hasil hutan bukan kayu dapat dijadikan salah satu potensi yang dapat menjadi penghasilan masyarakat di sekitar hutan.

Perum Perhutani di beberapa daerah telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat lokal sekitar hutan untuk memanfaatkan tanaman liar dari marga Amorphophallus (keluarga iles-iles) yang salah satu jenisnya lebih dikenal sebagai bunga bangkai (corpse flowers) yaitu  Amorphophallus titanum. Suweg, iles-iles dan porang yang tergolong ke dalam suku talas-talasan oleh beberapa kalangan industri makanan dan  suplemen kesehatan mulai dilirik sebagai bahan baku karena kandungan gizinya. Kelebihan lain dari tanaman tersebut adalah kemapunannya hidup di bawah naungan. Dengan sifat tumbuh yang jarang dimiliki tanaman budidaya lainnya, maka sebagai lahan penanamannya dapat memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan.

Produksi biomassa tanaman termasuk bagian yang bernilai ekonomis (bagian yang dipanen) tersusun sebagian besar dari hasil fotosintesis. Sementara radiasi matahari, sebagai sumber utama cahaya bagi tanaman, menjadi salah satu syarat utama kelangsungan proses fotosintesis. Pengaruh dari radiasi matahari pada pertumbuhan tanaman dapat dilihat sangat jelas pada tanaman yang tumbuh dibawah naungan. Pertumbuhan tanaman di bawah naungan semakin terhambat bila tingkat naungan semakin tinggi. Apabila semua faktor pertumbuhan tidak terbatas, tingkat pertumbuhan tanaman atau produksi biomasa tanaman pada akhirnya akan dibatasi oleh tingkat energi radiasi matahari yang tersedia.

Dalam sistem agroforestri, keberadaan tanaman utama dari jenis tanaman tahunan (pohon) akan mengurangi tingkat radiasi yang diterima oleh tanaman sela khususnya dari jenis tanaman setahun (semusim) seperti tanaman pangan yang tumbuh di antara tanaman utama. Keadaan ini berhubungan dengan habitus tanaman utama yang tinggi,  dan tajuk yang lebat sehingga menghalangi pancaran radiasi yang jatuh pada tanaman sela di sekitarnya. Semakin tinggi habitus tanaman pelindung dan semakin lebat (padat dan besar/lebar) tajuknya, semakin sedikit radiasi yang dapat diterima tanaman sela. Tingkat penetrasi radiasi dapat dimaksimumkan dengan pengelolaan tanaman yang tepat: meliputi pengaturan jarak tanam, ukuran kepadatan tanaman, dan manipulasi pertumbuhan tanaman seperti pemangkasan tajuk. Dalam kaitannya dengan usaha pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan untuk penanaman tanaman sela, harus dipertimbangkan lahan tegakan pohon jenis tertentu yang sesuai dengan sifat tanaman sela yang akan ditanam. Penelitian Murniyanto (2005), berhasil mengidentifikasi 5 jenis tanaman umbi-umbian herba tegak yang paling toleran hidup di bawah tegakan jati yaitu Xanthosoma sagittifolium, Colocasia esculenta, Maranta arundinaceae, Canna edulis dan Amorphophallus campanulatus.

Jenis tanaman yang disebut terakhir merupakan salah satu dari jenis-jenis Amorphophallus yang  berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif selain padi. Hingga saat ini masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa jenis tanaman tertentu sebagai sumber karbohidrat seperti padi, jagung, gandum, sagu dan umbi-umbian. Dan belum semua umbi-umbian dimanfaatkan dan dikembangkan, contohnya ganyong, suweg, ubi kelapa dan gembili. Pengembangan umbi-umbian sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan baku industri berbasis  karbohidrat dapat meningkatkan nilai ekonomi umbi-umbian tersebut.

Di negara lain seperti Jepang, umbi Amorphophallus yang telah dimanfaatkan antara lain A. oncophyllus, A. rivierii, A. bulbifer dan A. konjac yang dikenal sebagai elephant foot yam, sweet yam, konjac plant. Di Indonesia jenis-jenis tanaman tersebut dikenal dengan nama daerah suweg, porang, walur, dan iles-iles yang morfologinya sangat mirip satu dengan lainnya.

konyaku potatoKelebihan umbi suweg adalah kandungan serat pangan, protein dan karbohidratnya yang cukup tinggi dengan kadar lemak yang rendah. Nilai Indeks Glikemik (IG) tepung umbi suweg tergolong rendah yaitu 42 sehingga dapat menekan kadar gula darah, dapat digunakan untuk terapi penderita diabetes mellitus (Faridah, 2006). Konsumsi serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Masyarakat Philipina telah memanfaatkan tepung umbi suweg sebagai bahan pembuat roti. Selain dibuat menjadi tepung, umbi suweg dapat dimakan sebagai sayur, kolak, dikukus, dibuat menjadi bubur, nasi ” tiwul ” suweg, atau sebagai obat sembelit (Heyne, 1987). Tidak menutup kemungkinan suweg diolah menjadi tepung yang dapat menggantikan kedudukan tepung terigu sebagai bahan baku roti. Tepung suweg merupakan hasil olahan dari gaplek suweg.

Proses pengolahan umbi suweg ( Amorphophallus campanulatus Bl) dilakukan dengan pengeringan terlebih dahulu. Caranya, umbi yang dicabut dari dalam tanah dibersihkan, dikupas dan di cuci dengan air bersih. Selanjutnya umbi suweg diiris tipis-tipis dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50 °C selama 18 jam. Kemudian diblender dan diayak sampai diperoleh ukuran tepung 60 mesh. Tepung kemudian dapat dikonsumsi melalui berbagai macam cara pengolahan.

Umbi jenis lain adalah porang, A. oncophyllus. Umbi porang sangat besar, tebalnya dapat mencapai 25 cm, memiliki kandungan glukomanan cukup tinggi. Glukomannan adalah polisakarida yang tersusun atas glukosa dan manosa. Di kawasan Asia Tenggara jenis Amorphophallus penghasil glukomanan yang dikenal dengan konjac plant terdiri dari beberapa jenis yaitu A. rivieri, A. bulbifer, A. konjac. Umbi porang mengandung kristal kalsium oksalat yang jika dimakan mentah akan membuat mulut, lidah dan kerongkongan terasa tertusuk-tusuk. Untuk menghilangkannya, umbi porang dapat dimasak atau dengan mengeringkannya. Bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan rematik, arthritis, gout, dan batu ginjal harus menghindari makanan ini. 

Manfaat porang banyak sekali terutama dalam industri obat dan suplemen makanan, hal ini terutama karena sifat kimia tepung porang sebagai pengental (thickening agent), gelling agent dan pengikat air. Glukomannan saat ini dijadikan suplemen pangan yang dikonsumsi penderita diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, sembelit, dan penurun berat badan. Di Jepang umbi diolah dengan cara dimasak dan dilumatkan untuk mendapatkan pati, kemudian dipadatkan menggunakan air kapur menjadi gel yang disebut ‘Konnyaku’, maupun olahan berbentuk lempengan nata de coco, dan shirataki (seperti mi). Kedua penganan tersebut merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Karena kemampuannya membersihkan saluran pencernaan tanpa bersifat laksatif, memiliki kandungan air tinggi serta rendah kalori, porang digunakan sebagai diet food di Amerika.  Manfaat lain porang adalah sebagai lem, film, penguat kertas, pembungkus kapsul, perekat tablet.

konnyaku05Peluang pasar suweg dan porang sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.  Untuk pangsa pasar dalam negeri, umbi digunakan sebagai bahan pembuat mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan. Pengiriman dilakukan setiap 3 bulan dengan hanya mengandalkan perburuan di alam.

Untuk pangsa pasar luar negeri, masih sangat terbuka terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa. Eksportir porang hanya mensyaratkan umbi kering dan bersih dari cendawan. Sampai saat ini, permintaan pasar akan tepung suweg, porang dan iles-iles tidak dapat terpenuhi. Data statistik menunjukkan pada tahun 1991 volume ekspor mencapai 235 ton dengan nilai 273 ribu dolar Amerika (Sufiani, 1993), sedangkan pada tahun 1997 ekspor gaplek iles-iles ke Jepang, Malaysia, Pakistan, dan Inggris meningkat menjadi 297,6 ton dengan nilai 349.614 dolar Amerika. Pada tahun 1998 ekspor komoditas ini menurun, dan kecenderungan ini berlanjut sampai sekarang. Tahun 2003 total nilai ekspor komoditas iles-iles sebesar 603.335 dolar Amerika, dan tahun 2004  hanya mencapai 12.931 dolar Amerika. Sejak tahun 2005 sampai sekarang ekspor komoditas ini tidak ada lagi.

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Penurunan nilai ekspor komoditas suweg, porang dan iles-iles, bukan karena permintaan pasar yang menurun, tetapi keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan dan lama kelamaan akan habis jika tidak diupayakan penanamannya.  Perkembangbiakan tanaman suweg dan porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Pada setiap kurun waktu empat tahun tanaman ini menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah dan biji. Satu tongkol buah dapat  menghasilkan 250 butir biji yang dapat digunakan sebagai bibit dengan cara disemaikan terlebih dahulu. Akan tetapi perkembangbiakan melalui biji  memerlukan waktu lama hingga membentuk tanaman baru. Perkembangbiakan dengan umbi dapat dilakukan menggunakan umbi yang besar dan kecil. Umbi katak yaitu umbi kecil yang muncul di ketiak daun dapat dikumpulkan, kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan dapat langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

November 14, 2010

MOMIJI, BENDERA CANADA DAN KLOROFIL

Filed under: All About Biology — ratna @ 12:42 pm
Me and red leaves

Me and red leaves

Bulan Oktober dan November di Jepang adalah awal memasuki musim gugur. Udara mulai dingin berkisar antara 5° — 15°C, mungkin buat orang yang tahan dingin masih terasa sejuk. Tapi buatku sudah dingin sekali…ya kira-kira 5x nya suhu di Lembang. Kalau di Indonesia udara dingin biasanya sehabis turun hujan; jadi, dingin selalu berasosiasi dengan basah, lembap dan mendung. Sedangkan di Jepang meskipun matahari bersinar terik, tetap kering tidak hujan, tapi udara dingin sekali; belum ditambah dengan hembusan angin yang makin membuat terasa beku. Tapi Alloh memberi bonus buatku, sebagai penghibur atas tersiksanya aku oleh cuaca dingin. Menjelang musim gugur, daun-daun pohon berganti warna menjadi warna-warna yang bernuansa kuning, jingga, dan yang paling cantik adalah merah marun. Keindahan autumn color ini bahkan dijadikan komoditas pariwisata oleh bangsa Jepang. Tema hiasan di mal pun berbau-bau autumn: Autumn collection, autumn style, autumn edition…

 Irohamomiji istilah yang kutau dari hasil searching, atau yang lebih dikenal dengan “momiji” merupakan jenis tanaman berkayu bernama Acer palmatum, atau Japanese Maple yang tumbuh native di Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, China, timur Mongolia dan bagian tenggara Rusia. Daun acer atau maple memiliki banyak jenis dan kultivar yang juga memiliki bentuk daun maupun warna yang menarik. Ingat bendera Canada ? Yup, itu adalah gambar daun acer; bendera Canada dinamakan Maple Leaf Flag dalam bahasa Perancis disebut l’Unifolié (”the one-leaved”).

Ternyata pohon maple ini banyak sekali jenis (150) maupun kultivarnya (hampir 1000) yang perbanyakannya secara aseksual melalui stek batang, sambung batang (grafting) maupun kultur jaringan. Kultivar yang dicari adalah yang memiliki bentuk daun yang unik, selain dicari pula jenis mana yang cocok sebagai peneduh, semak, maupun sebagai bonsai.

Menurut pengamatanku, pohon maple hampir selalu ditanam di dalam maupun di luar pagar kuil-kuil Jepang. Kalau kita berkunjung saat summer, yang umumnya dikagumi adalah bangunan kuilnya, keindahannya dan ketuaan…hmmm…kok ketuaan…. apa yah istilahnya …maksudku umumnya kuil atau kastil itu berupa bangunan yang sudah tua tapi tetap terpelihara bahkan dijadikan World Heritage, bukan hanya National Heritage. Tapiiii…jika kita berkunjung saat menjelang musim gugur, Subhanallah…pohon-pohon yang biasanya hijau royo-royo, menjadi colorful…berwarna warni…cantik sekali. Jadi, yang bisa tampak indah bukan hanya pohon atau tanaman yang memiliki bunga saja. Pohon tertentu pun bisa menjadi indah dan berharga mahal karena bentuk dan warna daunnya. Masih ingat kan dunia tanaman hias Indonesia yang dihebohkan dengan tanaman Aglaonema yang dihargai berdasarkan jumlah daunnya, maka ada satu pot tanaman yang berharga hingga 10 juta…buat investasi, tapi ada juga yang tertimpa musibah, digondol maling…Inna lillaahi….

Yang membuat warna daun tampak hijau, kita semua belajar sejak SD, adalah molekul klorofil atau zat hijau daun. Lalu mengapa daun bisa ada juga yang berwarna merah, kuning, orange, bahkan violet ? Lalu kenapa juga di Indonesia daun beringin yang hijau seumur-umur ya hijauuuu aja sepanjang tahun. Sedangkan daun puring selalu berwarna warni. Alloh menumbuhkan pohon dan semua tanaman sesuai dengan letak geografisnya, sebelum manusia melakukan budidaya maupun menanam di luar habitat aslinya. Maka ada tanaman yang dikenal sebagai tanaman tropis, subtropis, dan arid (kering sepanjang tahun seperti di gurun pasir). Tanaman di daerah tropis yaitu daerah yang memiliki hanya 2 musim, serta panjang siang dan malam sama, masing-masing 12 jam memiliki fisiologi yang berbeda dengan tanaman subtropis yang memiliki 4 musim, yang dimusim tertentu panjang siang dan malam bisa berubah. Tumbuhan bisa tau kapan akan berganti musim melalui cahaya, dan bersiap menghadapi kondisi alam yang sangat drastis sekalipun.

Yang sangat mudah dilihat adalah perubahan warna daun. Untuk membuat klorofil , daun membutuhkan cahaya matahari dalam jumlah dan durasi tertentu. Dan sepanjang summer, saat cahaya matahari lebih dari cukup dan air tersedia, tumbuhan sibuk membuat dan menabung makanan (glukosa). Berakhirnya summer, dan memasuki musim gugur , panjang siang semakin pendek, menyebabkan produksi klorofil yang membutuhkan cahaya menjadi menurun. Maka klorofil tidak cukup membuat daun berwarna hijau. Akhirnya warna pigmen daun selain klorofil yang berwarna kuning (xantofil), jingga (carotene) yang memang sudah ada dalam jumlah sedikit pada daun menjadi terlihat akibat tidak tertutupi (unmasked) oleh klorofil. Sedangkan warna merah terang dan ungu daun pohon tertentu, dibuat pada saat musim gugur.

Pada pohon maple, glukosa hasil fotosintesis tersimpan dalam daun setelah fotosintesis berhenti. Sinar matahari dan udara malam yang dingin di musim gugur menyebabkan daun mengubah glukosa menjadi pigmen merah yang dinamakan antosianin Sementara warna coklat pada daun pohon yang lain lagi seperti pohon oak, merupakan tannin, disintesis dari materi sisa yang masih ada dalam daun. Pigmen-pigmen ini melindungi daun dari cahaya matahari yang terik juga menurunkan titik beku, agar daun tidak beku meskipun suhu sangat dingin. Seperti manusia, daun pun punya siklus hidup.

Manusia lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Sehelai daun muncul sejak berupa tunas, hingga dewasa, kering dan gugur karena jaringannya mati akibat serangan serangga, penyakit atau cuaca. Daun gugur bisa satu persatu jika sudah tua atau mengalami senesensi (senescent), tetapi juga bisa gugur serentak karena kondisi alam seperti musim gugur atau musim kering (ingat pohon jati ?). Gugurnya daun sesungguhnya suatu bentuk pertahanan hidup bagi sebuah pohon.

Subhanallah …betapa efisiennya suatu pohon, sebelum memasuki musim dingin yang bersuhu sangat rendah, air yang membentuk kristal es tidak mungkin diserap oleh akar, cahaya mataharipun berkurang, maka pohon menggugurkan daunnya. Toh sudah cukup banyak hasil fotosintesis yang ditabung selama musim panas. Sebelum daun gugur, glukosa, nitrogen dan zat-zat berharga lain yang telah diserap oleh akar di saat summer akan diambil kembali masuk ke pembuluh batang sebelum daun gugur. Nanti saat winter berakhir dan masuk musim semi, zat-zat ini akan dibutuhkan lagi oleh pohon untuk bertunas dan memulai siklus yang baru. Kalau kita analogikan, seperti orang tua sebelum meninggal akan mewariskan apapun bagi anak-anaknya, ilmu, harta maupun nasehat.