February 3, 2011

facebook penting gak penting

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:34 am

twit

Ketika isu layanan BB akan diblokir santer beredar, aku termasuk orang yang tenang-tenang saja. Karena aku berpikir toh masih bisa chating via YM, masih bisa berkirim sms, dan email. Tapi sekali waktu saat sedang nonton TV, terbaca olehku di running text bahwa bulan Maret situs jejaring sosial facebook akan ditutup oleh pendirinya sendiri. Hmm..ini baru bikin rada-rada panik. Walaupun belum tentu kejadian bener, aku gak mau kehilangan semua kontak teman yang ada di facebook. Kuimpor semua email address teman yang ada di facebook ke Yahoo-ku. Jadi kalau bulan Maret beneran akan ditutup monggooo Mister Z…aku sudah save semua alamat kontak teman-temanku.

Sayang juga sebenarnya kalau FB akhirnya ditutup. Meskipun banyak pihak yang menganggap akun FB lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus kejahatan yang berbau-bau pelecehan seksual, penculikan yang bermula dari perkenalan melalui FB. Lalu kasus heboh seorang wanita yang melakukan penipuan melalui bisnis penjualan voucher yang memakan banyak korban friend-nya di FB. Tapi di sisi bagusnya banyak  yang memanfaatkan FB sebagai media promosi barang dagangan.

Buatku sendiri facebook penting gak penting. Awal aku buat akun, karena diinvite oleh temanku yang sudah lebih dulu punya. Lalu anakku yang membuatkan. Maklum deh jaman dulu agak-agak gaptek kalau soal begini-beginian.

Manfaat pertama yang kurasakan (hampir semua orang kayanya juga lah) aku bisa menemukan dan ditemukan oleh teman-teman jaman kuliah, SMA, SMP bahkan SD. Banyak yang tidak berubah, tapi ada juga yang tidak  kukenali lagi baik dari foto maupun dari namanya karena sudah sangat berubah. Terlebih kalau foto profil yang dipasang bukan gambar diri sendiri, tapi gambar anaknya, bonekanya, kucingnya, atau memakai nama yang berbeda dengan nama saat dulu kukenal mereka. Kalau ada yang mengajak berteman dengan nama dan penampilan tersamar seperti itu aku terpaksa melihat mutual friendnya. Aku tak berani menjadikannya teman kalau sama sekali tak ada mutual friendnya. Aku bukan ABG yang bangga kalau punya teman virtual 2000 orang.  Biar saja temanku cuma sedikit tapi aku mengenal mereka dengan baik. Sebagai privasi, wall, status dan semua dataku ku-setting FRIENDS ONLY yang bisa mengakses. Wallaahu a’lam kalau pren-nya pren bisa juga mengakses…asal data yang terlalu pribadi tak dipajang sepertinya tak  masalah.

Pentingnya FB yang kedua  kurasakan  dalam tugasku sebagai penasehat akademik buat 11 mahasiswaku angkatan 2006. Kasian anak-anakku itu, baru setahun aku mengasuh mereka, terpaksa kutinggal tugas belajar. Meskipun kutinggal gak jauh-jauh amat, tapi tetap butuh waktu khusus kalau ingin bertemu muka. Dan pertemuan khusus yang kami sepakati adalah saat memasuki awal semester baru sebelum pengisian IRS (Isian Rencana Studi). Pengisian IRS memang bisa dilakukan online di mana pun mereka berada, tapi tetap aku menjadwalkan agar bisa bertemu untuk berdiskusi dan mengevaluasi masalah akademik dan non akademik mereka. Kuusahakan untuk mendengarkan satu persatu laporan, ataupun curhat mereka, persis kaya dokter puskesmas keliling buka praktek ^_^

Kerepotan terjadi saat aku harus meninggalkan mereka ke Jepang 6 bulan. Akhirnya kuminta mereka membuat thread di inbox FB semacam mailing list mini yang beranggotakan 11 anak-anakku dan aku. Di thread itulah siapapun yang punya masalah tentang kuliah, ujian, proposal penelitian, seminar, skripsi, bebas menulis dan bercerita. Siapapun bisa membaca, saling bertanya, saling memberi saran, saling menyemangati, kadang-kadang juga saling meledek. Seru juga membaca pesan mereka. Kalau tidak perlu jawaban dariku aku cukup membuka thread, membaca dan kubiarkan mereka berdiskusi. Dari situ aku bisa memantau kemajuan kuliah atau kemajuan penelitian mereka masing-masing. Kalau dipikir-pikir lucu juga, padahal universitas sudah menyediakan media untuk berkomunikasi melalui suatu sistem informasi akademik berbasis internet. Tetapi  kami lebih memilih lewat FB….ketauan Pak Rektor bisa berabe nih. Gak apa-apa ya Pak, bukan saya saja lho Pak yang lebih memberdayakan FB untuk urusan akademik. Beberapa teman saya  juga sesekali buat pengumuman ujian, deadline laporan, deadline ini itu membuat DPO  or Daftar Pencarian Orang (baca: mahasiswa) di wall mereka, maka si mahasiswa yang juga jadi pren pasti baca. Jaman 10 tahun yang lalu saat aku jadi PA angkatan 2000 agak susah mau manggil mahasiswa, apalagi kalau mahasiswa di tingkat akhir.

Dari FB aku bisa tau sedang apa, dimana dan mau apa teman-temanku hanya dengan melihat statusnya.  Di bulan Oktober saat aku di Nara, seorang temanku – sebut saja Ratih namanya – mengontak aku via FB, dia akan mengikuti sebuah workshop di Kobe. Kamipun mencoba janjian bertemu. Padahal selama 15 tahun di Indonesia kami belum pernah bertemu setelah lulus kuliah. Aku di Jakarta, dia di Surabaya, ketemunya ya lewat FB.  Maka terjadilah komunikasi intens lewat FB sehari sebelum hari H. Ratih memberiku nama hotel tempatnya menginap, nomer kamar, dan nama stasiun kereta terdekat dengan hotel. So, berangkatlah aku dari Nara ke Kobe berbekal jadwal dan rute kereta serta letak hotel yang kuprint dari google map. Alhamdulillah kami bisa bertemu. Rasanya gak percaya.  Kata Ratih “Gimana ceritanya kalau gak ada FB ya Mbak…mana bisa kita ketemu…di Jepun lagi” hmmm betul Tih…untung ada FB.

Selain berita gembira seperti  hari ulang tahun, pernikahan, kelahiran, wisuda, berita duka pun banyak kuketahui pertama kali justru lewat FB. Tahun 2009 saat aku di jepang aku membaca berita duka berpulangnya dosenku, guruku Bapak Drs. Ellyzar I.M. Adil. Sebelum berangkat aku sempat bertemu beliau;  rasanya tak percaya waktu kubaca berita itu di wall salah satu mahasiswaku. Lalu tahun 2010 kemarin saat aku berada di jepang untuk kali yang kedua, kembali aku membaca berita meninggalnya dosenku yang lebih senior, Bapak Drs. Sunarya Wargasasmita. Setelah itu baru aku menerima pemberitahuan dari milis dosen. Mengirim berita via email agak ’sedikit’ repot karena kita harus memasukkan alamat yang kita tuju. Tapi “mengirim” berita melalui  FB kita cukup menulis di wall, dalam sekejap berita sudah terbaca oleh banyak orang.

Tools, bisa punya dua peran. Baik dan tidak baik.  Semua bergantung pada sang user. Kalau bijaksana dan disiplin menggunakannya, Insya Alloh peran tidak baiknya  bisa minimal. Harus kuakui FB memang “connecting people”. Selain juga bisa jadi tempat belajar gratis (pulsanya mah gak gratis ye)…aku senang punya friend yang hobi posting link religi, link edukasi, doa-doa, lagu-lagu, kalimat-kalimat bijak yang memotivasi, gambar-gambar makanan, dan tempat wisata. Dari mahasiswa dan mantan mahasiswaku aku juga bisa ‘belajar’ istilah atau apapun yang sedang trend yang kadang juga gak aku mengerti. Aku juga bisa tau sekarang mereka ada di mana, berkarya dimana.

Dan yang gak penting…..kalau aku lagi dongkol karena  jadwal kereta ngaret deui, ada tempat buat ngedumel….heheh…di tembok facebook!!

January 30, 2011

Jago karate(h)

Filed under: My Opinion — ratna @ 11:47 am

Ada anekdot, seseorang bertanya kepada temannya sedang apa dia. Sang teman menjawab: “Jago karateh”. Sang teman mengira temannya itu sekarang telah menjadi seorang pendekar yang mumpuni bela diri karate. Padahal sebenarnya dia sedang menjaga kertas, alias menjual kertas. Dalam bahasa Minang “jago karateh” artinya menjaga kertas.

Jika kita melihat arti konotatif, menjaga kertas bisa berarti menjaga agar kita tidak boros dalam penggunaan kertas. Aku ingat waktu kuliah salah seorang dosenku tiba-tiba berkata pada teman yang duduk di bangku baris terdepan. “ Wah kamu itu memboroskan kertas”. Temanku dan kami semua hanya bengong mendengarnya, lalu Pak dosen menjelaskan, karena tulisan temanku itu besar-besar, maka akan cepat menghabiskan buku, buku itu kumpulan kertas, kertas itu berasal dari kayu, untuk mendapatkan kayu harus menebang pohon, padahal pohon tidak bisa didapat dalam waktu seminggu dua minggu. Butuh waktu singkat untuk menebang pohon tapi butuh waktu lama untuk membesarkannya. Semakin banyak pohon ditebang akan berakibat  semakin terganggunya keseimbangan alam, akibatnya banjir. Waduh !! Dari tulisan besar-besar ujungnya bisa menyebabkan banjir…hehehe nakutin bener.

Tapiii..betul juga lho, jauh juga pemikiran Pak dosenku itu. Tampaknya beliau seseorang yang sangat peduli dengan lingkungan. Seyogyanyalah semua orang yang pernah belajar ilmu biologi berpikir dan peduli dengan segala sesuatu yang hidup, dengan lingkungan tempat kita hidup. Berarti semua orang dooong…karena ilmu biologi sudah dipelajari sejak SD.

Kita semua pasti pernah mendengar kata “paperless”. Sejak kita mengenal banyak urusan dalam bisnis maupun sekolah yang ujungnya pakai “e”, electronic sebenarnya saat itulah kita sudah mulai menghemat penggunaan kertas. E-mail, e-book, e-paper e-banking, dan mungkin banyak e- e- lainnya. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita berkirim surat menggunakan kertas, apakah diprint, apakah diketik pakai mesin tik, apalagi ditulis tangan…. udah tahun kuda kali. Bahkan berkirim kartu saat hari raya Idul Fitri atau hari Natal mungkin juga banyak berkurang karena orang lebih suka berkirim ucapan menggunakan SMS. Menulis cukup sekali tapi bisa dikirim ke banyak orang dengan tarif kirim murah. Malah ada yang hanya meneruskan pesan yang dikirim oleh teman. Apalagi sekarang setelah telepon seluler makin beragam fiturnya, jejaring sosial pun dimanfaatkan. Tidak perlu dikirimi satu-persatu. Tinggal tulis saja di wall facebook, maka semua teman yang jumlahnya fantastis, 200—1000 an akan bisa membaca ucapan selamat yang kita tulis. Hemat kertas, hemat pulsa, dan hemat energi (mengetik) buat si jempol ^_~

Dalam soal di atas, kita memang sudah mulai melakukan penghematan kertas. Tapi coba lihat apakah kita juga sudah bisa menghemat kertas dalam hal lain ?

Setiap akhir tahun ajaran, aku selalu menemukan buku-buku tulis anakku yang SD ataupun yang SMA, baru 1/2 yang terpakai. Mau dipakai lagi untuk tahun berikutnya tapi kok sepertinya pelit sekali. Yang namanya anak-anak selalu maunya semua baru di tahun ajaran baru, tas, sepatu, baju seragam, peralatan sekolah, dan buku. Gak tega juga kalau buku aja gak dibelikan yang baru. Tapi bagaimana dengan sisa lembar-lembar buku yang cukup banyak itu ? Akhirnya kugunting, kukumpulkan yang masih kosong, kujadikan satu dengan binder dan kujadikan catatan apa saja, mau catatan belanja, oret-oretan. Kadang kalau sudah begitu anakku juga yang pakai.

Mungkin yang lebih efisien adalah mahasiswa yang menggunakan binder berisi lembaran kertas lepasan (loose leaf). Dalam satu binder bisa memuat catatan untuk beberapa mata kuliah. Sehingga penggunaan lembaran kertas tidak perlu melebihi keperluan. Tapi di sisi lain, mahasiswa boros sekali dengan yang namanya kertas fotokopi.  Handout kuliah, fotokopi, text book, fotokopi, soal ujian dari kakak kelas, fotokopi, contoh laporan, fotokopi. Apalagi kalau fotokopi tidak bolak-balik, makin banyak ruang kosong kertas yang tersia-sia. Ada juga sih yang memanfaatkan halaman kosong fotokopian untuk mencatat materi kuliah.

Banyak juga mahasiswa yang smart, saat harus menulis draft skripsi yang memerlukan diskusi dan koreksi intens dengan pembimbing, mereka mencetaknya di kertas bekas. Mereka baru mencetaknya di kertas baru saat naskah sudah final disetujui dan di bawa ke ujian seminar maupun ujian sarjana. Mungkin mereka tidak berpikir jauh menghemat demi peduli pada lingkungan, tapi peduli dengan kantung mereka sendiri, harga kertas kan lumayan buat kantung mahasiswa. Demi penghematanpun mereka berusaha memeriksa, mengedit secermat mungkin naskah sehingga kesalahan ketik bisa minimal. Kejadiannya akan lain kalau si mahasiswa anak tajir (katanya singkatan harta banjir…anak orang kaya gitu lho), mau ngeprint menghabiskan 1 rim nggak perlu mikir.

Kebiasaan yang baik saat sebagai mahasiswa harusnya dilanjutkan saat sudah bekerja, mentang-mentang di kantor, pakai kertas milik kantor, mau ngeprint gak pernah dicek lagi, kalau salah ulang lagi. Akhirnya banyak kertas tak berguna yang menumpuk. Merasa bukan beli dengan uang sendiri, lalu menjadi boros.

Kita cenderung boros kertas karena kita tidak sadar bahwa kertas tak ‘semurah’ yang kita sangka. Industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di dunia dengan output 178 juta ton pulp, 278 juta ton kertas dan karton, menghabiskan 670 juta ton kayu. Pertumbuhan industri kertas diperkirakan antara 2% hingga 3.5% per tahun, sehingga membutuhkan kayu log yang dihasilkan dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta hektar setiap tahun. Industri kertas juga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk beroperasi. Energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kertas dalam bentuk panas dihasilkan dari pembakaran sampah padat (sisa potongan kayu) dan uap serta bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO2, NOx, dan CO2. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Sebelum akhirnya sampai di tangan kita, sehelai kertas dibuat tahap sangat panjang. Dan untuk mendapatkan sifat akhir kertas yang sesuai dengan penggunaannya, maka serat kertas mengalami proses modifikasi dan pencampuran dengan bahan kimia tertentu.  Salah satu tahap yang penting adalah proses pemutihan kertas (bleaching). Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. klor (Cl2 atau ClO2) atau hipoklorit (NaOCl) Klor digunakan karena sifat-sifatnya yang reaktif, efektif dan menghasilkan pulp dengan sifat fisik dan derajat putih tinggi. Proses pemutihan pulp kertas tidak hanya membuat pulp menjadi lebih putih atau cerah, tetapi juga membuatnya stabil sehingga tidak menguning atau kehilangan kekuatan selama penyimpanan.

Namun aspek lingkungan yang dominan pada industri pulp dan kertas justru terletak pada proses pemutihan. Hipoklorit akan membentuk kloroform dalam air. Saat proses pemutihan, klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin merupakan suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya.

Nah, setelah kita tau betapa tidak murahnya kertas, apakah kita tetap akan melakukan bussines as usual ?

Ini adalah beberapa hal nyata yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan penggunaan kertas, membudayakan paperless life style:

-Pikirkan perlu sekali kah kita membeli dan berlangganan koran konvesional, sementara banyak sudah koran ternama yang memiliki fasilitas e-paper. Kalau mau jujur, apakah kita akan membaca seluruh berita yang ada di lembaran koran ? Seringkali kita hanya membaca headlinenya saja.

-Di kantor – kantor biasakan untuk tidak mengeprint laporan atau dokumen yang ada. Biasakan membacanya melalui layar komputer langsung.

-Pergunakan LAN messaging untuk mengirim pesan singkat. Kita bisa dengan cepat meng-copy paste informasi instan yang dibutuhkan tanpa perlu mencetak, bila perlu file tersebut bisa dikirim via e-mail

-Ajak karyawan dan mitra bisnis untuk bersurat secara elektronik sebisa mungkin. Selain cepat biayanya juga sangat hemat.

-Jika harus mencetak dokumen, pastikan dokumen yang akan diprint sudah sempurna. Hindari kesalahan mengeprint ulang karena akan boros kertas, boros tinta ujung – ujungnya memboroskan uang kita.

-Digitalisasikan seluruh dokumen kita. Mesin scanner saat ini tidak terlalu mahal, tetapi jangan menggunakan scanner flatbed biasa (jika masih menyayangi kesehatan jiwa kita).

-Bagi pemilik kartu kredit ubah pengiriman billing statement kartu menjadi elektronik dan minta Bank untuk mengirimkannya melalui email daripada tetap mengrimkan hard paper melalui pos.

-Biasakan memanfaatkan e-book ketimbang buku konvensional. Harga e-book jauh lebih murah daripada buku yang dicetak di kertas.

Tentunya ada kasus tertentu yang memang butuh dokumen dalam versi kertas. Contohnya: sertifikat tanah karena jika dibuat hanya dalam format elektronik, orang-orang nakal bisa mengedit, mengutak-atik jadi ASPAL dan sulit DIJAMIN keabsahannya.

Jadi jangan anggap enteng penggunaan kertas. Pikir dua kali setiap kita akan menggunakan kertas. Apabila penggunaan kertas dapat dihindari sebaiknya lakukan itu. Dengan begitu, kita dapat membantu melestarikan BUMI demi anak dan cucu.

Reducing paper (Sumber: google)

Reducing paper (Sumber: google)

January 29, 2011

84H4SA Y4NG M3MBINGUNGK4N

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:35 pm
ibu, aku ud ngasi draft kasar k pembimbing 1 bu, biar bs d perbaiki scepatny..hehe
ibu, aku blm tw mw up kpn,pgn ny si juni akhr bu,tp ga tau klw mundur lg,blm brani memastikn hehe doain aj bu,biar cpet maju..

oia,mw nanya,ttd bu ratna yg d scan itu,d print aj trs tempel d berkas yg musti ad ttd PA nya,atau d apain y?
btuh info nih..
thx b4

 Hmm…entah sejak kapan bahasa Indonesia jadi ajaib seperti itu. Seingatku waktu jamannya telepon seluler belum secanggih sekarang sehingga tidak banyak fitur-fiturnya selain hanya layanan SMS (Short Message Service), bahasa tulisannya masih ‘sopan’. Maksudnya kalaupun harus menulis dibatasi hanya 150 karakter untuk sekali pengiriman sms, umumnya orang masih menggunakan singkatan yang umum dan sudah dikenal sejak dulu. Contohnya yg = yang, dgn = dengan, utk = untuk, bhw = bahwa, bkn = bukan.   

Lalu kecenderungan yang terjadi sekarang, makin banyak singkatan yang tidak berpola. Dan semakin pusing membacanya. Beruntung otak kita adalah otak buatan Tuhan yang kapasitas dan kemampuan interpretasinya sangat bagus, Subhanallaah…

Komputer yang canggih aja, untuk membaca sebuah file harus punya software yang cocok. Kalau nggak, yang keluar cuma kotak-kotak.

Aku pernah dapat postingan menarik:

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa per ktaa.Laur bisaa kan? Sdaar aatu ngagk klaian brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag batrantn

Hehe itu memang contoh ekstrim. Kalau aku dapat sms seperti itu nggak bakal aku jawab deh. Sekarang ini setelah ponsel semakin canggih, bisa berkirim SMS, MMS, bahkan e-mail yang bisa kita pakai untuk menulis dengan lebih leluasa jumlah karakternya, eeee kok malah makin hemat nulisnya. Lihat aja tuh sms mahasiswaku di atas (kira-kira yang nulis ngerasa nggak ya ?) : aku blm tw mw up kpn

Kalau hanya digunakan dalam situasi informal dalam pergaulan sepertinya nggak akan menjadi masalah. Yang akan menjadi masalah kalau kebiasaan menulis seperti itu terbawa ke situasi formal seperti sekolah atau kantor. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bapak-bapak dan ibu guru di SMP, SMA jika harus memeriksa ulangan murid-muridnya dan membaca tulisan bak bahasa planet atau bahasa Rusia yang penuh dengan huruf mati. Terlebih kalau ulangan atau ujian dalam bentuk esai bagi siswa SMA ataupun mahasiswa. Terkadang dalam ujian yang harus menjelaskan sesuatu, kita menuangkan apa yang ada di otak kita ke dalam tulisan. Apa yang ada di pikiran kita itulah yang kita tulis. Lha kalau sehari-hari sudah terbiasa menulis dengan sistem sms yang singkat dan padat, bukan tidak mungkin secara refleks, tidak disengaja itulah yang akan ditulis oleh tangan di kertas ujian. Ah mudah-mudahan ini hanya kekuatiranku saja yang berlebihan.

Sampai saat ini aku belum mendengar keluhan dari teman-temanku sesama dosen tentang pengalaman mereka saat harus memeriksa kertas ujian mahasiswa. Kemungkinan pertama, mahasiswa masih sopan dan tau aturan bisa mengubah saklar ON dan OFF di otak dan tangannya, jadi saat berkirim pesan di akun facebook atau twitter atau sms dengan peer group-nya, mereka pakai bahasa ajaib itu. Tapi saat harus menulis jawaban ujian, menulis laporan, menulis makalah, naskah skripsi, tombol ON untuk bahasa Indonesia lengkap dengan EYD-nya lah yang menyala.

Kemungkinan kedua, teman-temanku para dosen itu sudah beradaptasi dengan tulisan ajaib para mahasiswa.

Aku sering mendengar anakku yang masih dalam masa-masa ABG sering sekali menyebut alay. Waktu kutanya “apa tuh Mal artinya ?” Ya pokoknya yang norak-norak gitu Ma. Setelah kutanya lagi norak yang bagaimana, anakku bingung juga menjawabnya. Pernah suatu kali waktu kami jalan berdua, kami melihat segerombolan pelajar SMA bercelana abu-abu tetapi dengan pipa celana yang ketat seperti celana jeans model pencil istilah anak-anak sekrang. Masya Allah..seragam sekolah mestinya ada pakemnya…lha kok dibuat seperti legging. Mendadak anakku bilang…”nah itu namanya anak alay Ma”.

Belakangan aku dengar itu singkatan dari anak layangan.

Nah sekarang ada lagi istilah bahasa alay yang selidik punya selidik ternyata bahasa dengan tulisan atau kata yang mengkombinasikan antara huruf dan angka. Aku jadi ingat dengan plat nomor polisi yang bisa dibaca sebagai sebuah kata. Gosipnya polisi akan merazia dan mengenakan denda Rp 300 ribu pada pemilik mobil yang menggunakan nomor cantik itu. Hmm…tidak ada asap kalau tidak ada api. Yang ngeluarin nomer kan polisi ? Hehe mungkin polisi takut pusing bacanya kali kalau di jalan tiba-tiba harus menyemprit mobil yang melanggar rambu lalu lintas. Bukannya lebih gampang dikenali kalau nomor polisi bisa terbaca dengan jelas.

Memang kreatif dengan nyleneh hanya beda tipis. Kadang-kadang sesuatu yang lurus, taat kaidah  menghasilkan keteraturan, keseragaman yang sifatnya monoton. Sebaliknya ketidakteraturan kebebasan akan melahirkan kreativitas. Semua sah-sah saja asalkan masih berada dalam koridor yang benar.

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Mbok yao..

Filed under: My Opinion — ratna @ 9:54 am

cc greenpeaceCrop Circle. Jujur, aku baru tau istilah ini dari fenomena yang sebelumnya sudah pernah kulihat di film Sign yang dibintangi oleh Mel Gibson. Sebelum menonton film itu aku sama sekali tidak tau tentang crop circle. Setelah kumasukkan dua kata itu dalam mesin pencari di dunia maya, keluarlah 2.090.000 entri yang membahasnya. Ternyata sudah sejak lama fenomena ini ada. Hmm kemana aja ya gue selama ini ? Hehehe… emang manusia itu harus selalu belajar, membaca, melihat, mendengar, membaui.

Karena di Indonesia kejadian ini baru pertama kali terjadi maka reaksi yang muncul sangat heboh dan ramai. Ada yang menghubungkan dengan keberadaan UFO, persis seperti analisis banyak orang di dunia bahwa crop circle adalah jejak bekas ‘pesawat’ UFO yang mendarat di bumi. Persis seperti cerita di film Sign, yang tokoh utamanya benar-benar dihantui oleh mahluk alien berkepala lonjong dengan mata aneh yang sangat terkenal itu.

Kalau kata orang-orang yang suka dengan hal-hal berbau politik: pasti orang dibalik ini semua ingin mengalihkan perhatian masyarakat dari isu Gayus, atau isu lain yang lebih penting dibahas. Karena pers Indonesia meskipun bersifat multi media tetapi berita yang dibahas setiap hari nyaris seragam ! Jaman aku SMA dulu, kalau tidak baca koran/harian rasanya ketinggalan berita. Tapi sekarang, cukup hanya dengan mendengarkan berita di TV (dari 14 stasiun TV) sambil menjalani rutinitas pagi, kita sudah tau berita apa yang menjadi headline hari itu. Baca berita di media online pun pasti kita akan menemukan topik yang sama. Maka mudah saja ‘menghapus’ atau mengalihkan perhatian masyarakat . Lempar saja berita yang lebih heboh, meskipun tidak penting.

Kalau kata orang penyuka seni: crop circle adalah suatu karya seni yang mengagumkan karena umumnya hanya dibuat dalam waktu semalam, berukuran besar dan memiliki pola yang indah; setelah browsing kulihat ternyata pola yang dibuat tidak melulu berbentuk lingkaran. Ada yang berbentuk karakter kucing lucu Hello Kitty, bentuk mobil, yang tujuannya adalah mengiklankan produk atau perusahaan. Hari ini di wall facebook salah seorang temanku ada yang memposting crop circle berbentuk wajah si Gayus (kayanya mah photoshop) ^_^ orang Indonesia memang kalau urusan begini patut diacungi jempol kreativitasnya. Tapi kalau disuruh cari solusi bagaimana mengatasi masalah kemacetan kota Jakarta, patut diacungi jempol ke bawah.

Seni vs kerusakan ? Yup, crop circle sejak jaman dulu selalu dibuat di area persawahan atau ladang padi, gandum atau ladang jagung. Terpikirkah oleh si pembuat karya seni ini kalau batang tanaman sudah patah dan rebah ke permukaan tanah, tidak akan bisa tegak lagi seperti semula ? Kejadian di Sleman yang kulihat dari TV, tanaman padi yang menjadi korban sudah menampakkan bulir-bulir buah, mungkin sebulan atau 2 bulan lagi bakal dipanen. Aku berani bertaruh pemilik sawah tidak tahu menahu tentang ‘kegilaan’ ini, mimpi pun nggak. Mudah-mudahan pemiliknya adalah petani kaya yang tidak akan tiba-tiba jatuh miskin akibat berkurangnya hasil panen (kalau padi itu masih bisa hidup dan masih bisa dipanen). Mungkin kata si penanam padi: saya sudah susah payah menanam, merawat padi sejak benih sampai menjelang panen, kok dirusak hanya dalam waktu semalam ?

Kalau kata aku: terlepas dari siapa atau apa yang sudah membuat jejak di persawahan Sleman Jogja itu – UFO yang mendaratkah ? Atau orang-orang terlalu kreatif yang sedang bingung ingin menunjukkan kreasinya ? Aku betul-betul nggak peduli. Tapi mbok yao jangan meninggalkan kerusakan. Mbok yao kalau mau buat karya seni, buat deh di hamparan alang-alang yang kalaupun rusak gak akan ada orang yang teriak rugi. Atau buat aja di kepala masing-masing sehingga tercipta cukuran rambut model baru. Atau akan lebih bagus kalau karya seni menggunakan tanaman dibuat dengan cara bukan merebahkan tanaman yang sudah tumbuh tegak, tapi menanamnya sejak awal dengan konfigurasi yang sudah dirancang sebelumnya, seperti labirin atau tulisan tertentu

Aku hanya rela kalau jejak semacam itu terjadi akibat hempasan angin taifun atau bekas lewat segerombolan hewan yang bermigrasi menyeberangi ladang atau sawah.