July 29, 2011

Budaya swalayan

Filed under: My Stories — ratna @ 4:45 pm

Vending machine tiket kereta

Mesin fare adjustment Mesin fare adjustment
Beli bensin Beli bensin

Seorang teman pernah mengatakan bahwa upah tenaga kerja di Jepang, mungkin juga di negara-negara Eropa sangat mahal. Swalayan adalah solusinya. Ya..vending machine berisi aneka minuman seperti teh, kopi, soft drink, air mineral, minuman isotonic, bisa kita temukan  di mana saja. Dalam jumlah yang terbatas ada pula vending machine berisi rokok. Khusus untuk rokok, tidak dapat menggunakan uang, tetapi voucher khusus yang baru dapat dibeli jika pembeli sudah berumur  di atas 18 tahun…Dan Alhamdulillah semua vending machine dapat beroperasi dengan baik, karena tak ada satu tangan jahil pun yang berusaha ‘mengakali’-nya ….(tau kan maksudku ?)

Naik bus kota, ada dua macam cara pembayaran, bisa langsung memasukkan koin sesuai dengan jarak perjalanan kita; biasanya saat naik, pintu masuk dibuka oleh supir, lalu kita ambil tiket yang keluar dari mesin. Di tiket tertera nomor, yang menunjukkan awal penghitungan tarif yang harus kita bayar hingga tempat tujuan. Sebelum turun, koin dimasukkan bersamaan dengan tiket ke boks yang ada di samping tempat duduk supir. Supir hanya mengawasi dan mengucapkan terima kasih setiap kali ada penumpang memasukkan koin dan turun dari bus….hehe…gak capek ya…kaya kaset rusak….

Oh ya cara lainnya adalah dengan membeli kartu yang bisa dibeli di stasiun kereta, kartu ini bisa diisi ulang jika sudah habis. Pemilik kartu cukup menempelkan kartunya ke scanner yang ada di dekat supir.

Mau naik kereta, bertransaksi pun dengan vending machine; bisa membayar dalam bentuk tiket sekali jalan, atau membeli kartu terusan yang bernilai 1000, 2000, atau 5000 yen. Setiap masuk peron, tiket dimasukkan ke slot masuk, nanti tiket akan keluar melalui slot di sisi dalam peron. Ketika sampai di stasiun tujuan dan akan keluar, prosesnya sama, tetapi jika tiket atau kartu kita bernilai kurang dari tarif sebenarnya, pintu penghalang akan otomatis tertutup disertai suara peringatan. Biasanya petugas stasiun sudah tau, berarti si penumpang harus melakukan “fare adjustment”. Di mesin ini kita memasukkan tiket; mesin akan menghitungkan berapa kekurangan tarif yang harus dibayar.  Di beberapa vending machine yang tidak ada tombol English version-nya kalau mau cepat, aku biasanya membeli tiket seharga 150 yen, nanti di tempat tujuan tinggal adjustment…soalnya kadang pusing baca peta jalur kereta dan mencari tau berapa harga tiketnya…hehe…trik dari teman juga tuh…

Mengisi bensin pun swalayan. Pengemudi mobil harus turun, memencet tombol berapa liter bensin yang akan dibeli, dan memasukkan nozzle ke tangki mobil. Setelah itu membayarnya di dalam bangunan yang berhadapan dengan mesin tempat pengisian bensin. Kalau di SPBU Indonesia, bangunan seperti itu biasanya untuk menjual oli, dan bahan lain untuk keperluan mobil, atau toko swalayan kecil yang menjadi satu kesatuan dengan SPBU. Kalau mau coba-coba kabur setelah mengisi bensin…bisa aja siih…tapi akan terlihat karena ada kamera CCTV …

Saat belanja di pasar swalayan, kasir akan memindai barcode harga barang belanjaan kita, lalu meletakkannya lagi di keranjang lain. Beda dengan  di Indonesia, selesai discan, barang belanjaan langsung dimasukkan ke kantung-kantung plastik oleh kasir…kadang malah ada asisten kasir. Di Jepang, setelah bayar, kita ditawari apakah mau kantung plastik atau tidak, karena sudah jadi kebiasaan orang Jepang yang berbelanja, membawa tas belanjaan dari nilon (seperti bahan  untuk payung) yang bisa dilipat. Jika kita minta tas plastik, kasir akan memberi  dua atau tiga lembar sesuai banyaknya belanjaan. Di dekat kasir berderet meja. Di situ kita memasukkan sendiri belanjaan kita, trolley dan keranjangnya harus dikembalikan di dekat pintu keluar.

Pengalaman lain adalah di kantin kampus …itu adalah kali pertamaku makan siang di Jepang. Di panel atas bench tempat serving makanan tertulis kalau kita harus beli tiket sesuai dengan makanan yang dijual pada hari itu. Terpaksa aku keluar lagi, di depan pintu masuk cafetaria  ada papan bergambar makanan; di sebelah papan bergambar itu ada vending machine, kita tinggal pilih mau makan apa. Tiket diserahkan ke waiter di dalam. Soooo…gak usah pake omong-omongan.

Kuperhatikan mereka yang sudah selesai makan, masing-masing harus mengembalikan baki di satu tempat di depan jendela dapur. Sisa makanan dibuang ke bak  penampungan, sumpit, di tempat sampah yang terpisah dengan botol plastik, sedangkan gelas, piring atau mangkuk harus dicemplungin ke bak-bak air besar yang sudah berisi sabun. Kita memasukannya lewat sebuah loket. Di balik loket yang merupakan sambungan dapur untuk memasak, ada petugas yang mengambil mangkuk-mangkuk yang terapung di bak itu, membasuhnya dan memasukkan ke mesin pengering. Jadi meja bekas tempat kita makan tetap bersih, tidak  seperti kalau kita mau makan di restoran siap saji di Jakarta, saat kita datang harus dibersihkan dulu karena masih kotor bekas pengunjung sebelumnya. Hmmm teratur banget yaaa….sebenarnya Indonesia bisa juga begitu, tapi nanti makin banyak pengangguran deh…abis semuanya self service…

July 8, 2011

Jikken iseng

Filed under: My Stories — ratna @ 2:18 pm

Jikken = experiment (bhs Jepang) , iseng: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sekadar main-main; tidak bersungguh-sungguh. Namanya juga iseng ya nggak penting-penting amat sih, cuma karena penasaran aja. Penasaran karena dari pengamatan random, muncul pertanyaan…lalu sampai kepada hipotesis. Untuk membuktikan hipotesis harus dilakukan pembuktian. Lalu masalahnya apa ?

Latar belakang masalah, karena aku penasaran kok  2 orang temanku bisa punya model tulisan tangan yang sama, baik huruf maupun angka.

Secara tidak sengaja aku juga melihat tulisan petugas penginstall saluran gas di dormitory, yang hampir sama dengan tulisan teller bank, lalu juga tulisan petugas di City Hall bagian urusan alien card. Bahkan setelah kuperhatikan coretan tulisan Akashi Sensei pun nyaris sama juga!!

Tulisan petugas penginstall gas

Tulisan petugas penginstall gas

 

Tulisan petugas kantor pos

Tulisan petugas kantor pos

Akhirnya mulailah kulakukan pengambilan data.

Tempat jikken, Laboratory of Plant Molecular Morphogenesis, Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Nara.

Kumulai dari Saki mentorku dan Hanada yang bench-nya di sebelahku.

Agar tidak mengganggu, sampel lain kuambil jika kebetulan ada yang memang sedang ngobrol santai, sedang tidak mengerjakan apapun. Biasanya kalau sudah jam 7–8 malam. Karena di jam-jam itu mereka biasanya selesai makan malam sebelum melanjutkan pekerjaan. Reaksi pertama pasti heran saat kuminta mereka menuliskan huruf kecil a sampai j dan angka 1 sampai 10. Aku cuma senyum dan kukatakan “my second experiment”…

Lalu kujelaskan kepada mereka keherananku kenapa hampir semua tulisan orang Jepang mirip. Bahkan cara mereka membuat lingkaran (contohnya melingkari pilihan…di form-form biasanya ada piihan sex: male/female, marital status: single/married) pun sama. Lingkaran dibuat searah jarum jam, beda dengan kita yang rata-rata berlawanan arah jarum jam…iya apa iya ?

kato

Lalu untuk angka, yang sangat terlihat jelas hampir seragam angka 7 dan 9. Waktu ‘temuan’ku itu kupaparkan kepada mereka, mereka pun heran, dan baru membanding-bandingkan tulisannya sendiri dengan tulisan teman lainnya.

Waa lucu banget …

 maki harada

Gimana cara guru sekolah dasar di Jepang mengajar  menulis ya ? Jaman aku kecil sampai sekarang si Adek, masih belajar menulis huruf sambung pakai buku bergaris tiga. Hasilnya yang terbawa sampai sekarang, tulisan tidak sambung dan setiap orang beda. Ada juga yang mirip sih.

Lalu kuingat waktu pertama kali si Adek masuk les metode belajar matematika asal jepang. Waktu baru masuk, working sheet-nya sampai hampir sebulan hanya menebalkan angka 1 sampai 10 yang tercetak di lembaran angka dengan garis terputus-putus. Adek betul-betul bosan karena dia merasa sudah fasih menulis angka. Tetapi setelah berbulan-bulan barulah terlihat hasilnya: tulisannya menjadi kecil-kecil dan rapi. Awalnya, tulisan Adek besar-besar dan kurang rapi.

Mungkin seperti itu pula metode belajar menulis yang diajarkan di SD Jepang.

metode nulis

Dulu aku pernah tau bahwa katanya bentuk tanda tangan atau tulisan tangan seseorang berkaitan erat dengan karakter dan kepribadiannya. Bahkan ada orang yang bisa ‘membaca’ karakter seseorang hanya dengan mempelajari bentuk tulisannya. Nah …sepertinya ini tidak berlaku untuk orang jepang, …karena kuperhatikan karakter dan sifat teman-temanku itu sangat berbeda satu dengan yang lain, padahal tulisan tangan mereka nyaris mirip.

Tapi ada karakter umum yang melekat di semua orang jepang adalah: sangat sopan dan santun, menghargai orang lain, siap membantu tanpa diminta, tetapi tidak ingin mencampuri urusan orang lain.

January 29, 2011

Alah bisa karena kepepet

Filed under: My Stories — ratna @ 9:59 am
Bento minus ayam...sedang digoreng

Bento minus ayam...sedang digoreng

Suatu siang  sesampai di rumah mataku tertuju pada sebuah boks hantaran yang ada di atas meja makan. Setelah kubaca secarik kertas yang menempel di bagian tutupnya ternyata dari tetanggaku yang syukuran berbagi kebahagiaan pasca anaknya dikhitan. Isinya nasi beserta lauk pauk, buah dan suplemen khas Indonesia: krupuk ! Melihat boks seperti itu  ingatanku melayang ke momen yang kualami 5 bulan lalu. Seminggu menjelang lebaran teman-teman sesama perantau di negeri sakura mengajakku untuk ikutan sebuah proyek amal. Caranya sangat mengasyikkan. All we have to do is cooking ! “Naah, kebetulan nih ada Bu Ratna, mau kan kalau kita ajak bantu-bantu masak ?” Wah kalau cuma masak mah hayo aja, apalagi rame-rame. Itung-itung menghalau rasa haru biru karena terpaksa menjalani lebaran jauh dari keluarga.

Tadinya kupikir cuma masak buat kami-kami warga Indonesia yang sedang studi di kampus tempat aku riset. Kalau dijumlah termasuk anak-anak, ada sekitar 30 orang. Baru ngeh kalau bakalan harus masak dalam jumlah besar pas acara belanja. Minyak goreng 6 liter, ebi furai beku 20 boks, paha ayam beku 10 kilo, nanas kalengan 20. “Emang mau masak buat berapa orang Bu Ari ?” Kita mau buat bento 200 boks Bu. Haaa ? Gubrak !!! Untung mobil yang ngangkut belanjaan kami nggak njengat ke belakang karena overload…wakakak lebay.com.

Karena aku gabung di tengah-tengah proyek, ya jadi rada-rada tulalit. Setelah diceritain barulah aku tau ternyata KMII wilayah Kansai mengadakan sholat Ied khusus untuk masyarakat Indonesia yang ada di Kobe, Kyoto, Osaka dan Nara. Untuk menjamu para jamaah di hari kemenangan itu, KMII (oya KMII itu singkatan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral RI Osaka menyediakan nasi boks berisi menu masakan Indonesia yang HALAL. Karena diperkirakan yang akan hadir hampir 1000 jamaah berarti harus disediakan sejumlah itu. Kalau di Indonesia mah itu perkara gampang, tinggal angkat telpon, pilih mau catering Bu Gito, Bu Joko, Bu Ngadiman, pilih mau paket nasi boks yang harga berapa, jumlahnya berapa, asalkan gak mendadak sehari sebelumnya pasti ok dah, cukup kasih DP 50 persen. Pokoknya asal ada uang, dijamin beres gak usah capek-capek. Lha di Jepang ? Biar kata ada uangnya, kalau gak ada yang ngerjain mana bisa ada 1000 boks nasi halal ngejogrok di depan mata ?

So,  akhirnya dibagi-bagilah tugas membuat nasi boks ke para relawan yang bermukim  di Kobe, Osaka, Kyoto dan Nara. Jatah Nara 200 boks, yang akan dikerjakan keroyokan. Menu sudah disepakati ayam goreng kalasan, ebi furai, balado teri kacang, sambel terasi, lalapannya tomat ukuran kecil, irisan kol, timun, buahnya nanas kalengan (berhubung di Jepun harga nanas fresh lebih mahal dibanding kalengan), plus kerupuk. 

Karena mayoritas kami semua punya kesibukan di siang hari, maka acara masak memasak harus dikerjakan sore sampai malam. Kami harus atur strategi yang nggak beda jauh dengan strategi perang. Aku kebagian jadi PJ (Penanggung Jawab) balado teri kacang, Bu Panji berhubung wong Jowo asli jadi PJ ayam kalasan, Bu Niswar jadi PJ nasi plus goreng-goreng ayam dan ebi, Bu Ari PJ sambel terasi, bu Riris PJ buah dan lalapan, PJ krupuk aku lupa siapa ya ?

Kami juga harus mikir mana yang harus dikerjakan duluan.  Balado teri kacang berhubung kering jadi bisa dicicil, dikerjakan 2 hari sebelum hari H. Keliatannya simple, ternyata urutannya panjang juga, goreng kacang, goreng teri, buat sambal lado, tunggu dingin, aduk-aduk setelah itu dimasukkan ke plastik ber-seal. Karena nggak ditimbang, pakai ilmu kirologi, jadi isi gak sama, yang ngerjain juga banyak tangan; baru dapat 150 bungkus eee abis. Hyaah kalau kurangnya cuma 20 plastik sih bisa bongkar pasang (hehe diambilin sedikit-sedikit dari plastik yang udah ok). Tapi karena kurangnya masih banyak,  mau gak mau buat lagi batch ke-2. Terjadi kelucuan, karena yang kebagian belanja beda-beda, teri batch ke-2 ukurannya agak-agak gigantisme. Gak kehabisan akal, setelah digoreng agak-agak dikremes, jadinya cantik juga (balado apa boneka sih kok dibilang cantik??).

Memang di rantau kita harus banyak akal selain banyak sabar. Ayam kalasan yang seharusnya pakai air kelapa untuk ngungkep disubstitusi pakai pocari sweat.  Tak ada rotan, akar pun jadi. Rasanya ya sama enaknya tuh. Tapi yang tak sengaja mensubstitusi  bahan pun ada hihihi…ada kisah nyata temenku bapak-bapak yang sedang ikut program riset juga di Ibaraki, beli minyak goreng. Sampai di asrama dipakailah untuk menggoreng. Tunggu punya tunggu…minyak bukannya memanas dan encer kok malah mengkristal dan gosong. Setelah dicicipi sa’ ndulit…kok manis ? Ternyata itu gula cair alias simple syrup…hihi..maklum deh buta huruf kanji, begitu lihat ada yang penampakannya mirip minyak goreng kuning dan kentalnya langsung aja comot. Kuledekin…mau nggoreng apa mau buat puding caramel pak ? Temanku yang lain, bapak-bapak juga, di Kyoto, ceritanya mau nggoreng ikan asin bawaan dari Indonesia. Setelah ‘minyak’ dituang ke penggorengan, ditunggu panas, ikan asin dimasukkan, bukannnya garing dan menguning keemasan, si ikan kok malah mengembang dan pletok-pletok. Pas dicicipi dan dibaui, ternyata itu teh dalam botol plastik kemasan besar. Lha kok bisa….?

Kalau pengalamanku, belanja dengan teman yang sama-sama short-term stay (bukan student yang lebih pinter baca tulisan kanji), mau nyari gula pasir, ketemu, kami menimang-nimang kemasan yang kami duga gula; tapi perasaanku kok gak enak (cieee sok kaya paranormal aja). Mbak Ila temenku bilang “Bu Ratna, kalau ini gula pasir kenapa ada gambar kepulauan Jepangnya ya ?”  Hmmm iya ya…akhirnya penasaran aku cari lagi di rak lain. Bingo ! Ketemu deh bungkusan yang gambarnya sendok. Setelah kami jejerkan, tampilan gula pasir sama ‘gula pasir’ yang ternyata garam itu sama putihnya, sama besar butirannya. Yang beda cuma kemasannya. Kemasan garam agak kecil. Huah..kalau sempet kebeli itu garam, biarpun diwariskan ke temen yang long-term stay, sampai lulus  gak abis-abis deh. Lha wong garam jepang itu uasssiiiin ne rek. Pake sedikit aja udah asin buanget….dikirain mau kawin ntar.

Voila ! Akhirnya sampailah kami di malam takbiran. Kami janjian mulai masak ba’da Isya setelah selesai kerjaan di lab masing-masing. Markas besar dapur umum ada 4 tempat di kamar asrama yang tipe family. Aku kebagian tugas goreng ebi furai 10 pak @10 potong = 100 ebi. Di tempat lain ada yang kebagian goreng ayam kalasan dan ebi juga. Perkara nasi semua kebagian tugas dengan mengerahkan semua rice cooker yang ada. Masaknya aja beberapa kloter karena sebagian besar rice cooker kapasitas kecil. Kami berdelapan menyiapkan 200 boks yang sudah harus siap jam 6 pagi tanggal 1 Syawal karena perjalanan dari Nara ke Kobe tempat sholat Ied dengan mobil 1,5 jam lewat tol. Serasa Bandung Bondowoso yang ditantang Loro Jonggrang untuk buat 1000 candi aja deh.  Alhamdulillah pekerjaan bisa 80% selesai sampai tengah malam. Lalu dilanjutkan sekitar jam 3 pagi menata semua isi dalam boks bento. Beberapa kepanikan kecil terjadi karena sempat kekurangan sambel, kekurangan nasi.  Kira-kira jam setengah 7 pagi 200 boks bento selesai dipak, dan kami pun berangkat  menuju Kobe.

Alhamdulillah rasanya lega sekali sudah berhasil mengerjakan tugas mulia, berat tapi menyenangkan. Bu Panji sebagai pimpro berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah gotong royong memasak. Aku kagum pada semua teman-temanku itu, baik yang membawa keluarga maupun yang jomblo lokal; dalam urusan masak memasak menurut pengakuan mereka statusnya dari zero become hero. Zero karena pertama kali merantau dan tinggal di asrama nggak bisa masak sampai akhirnya pada lihai-lihai memasak segala menu masakan Indonesia. Maklumlah selezat-lezatnya masakan jepang, tak bisa mengalahkan kerinduan akan masakan Indonesia.  Jadi bermodalkan koneksi internet yang nggak lumrah (cepatnya),  resep masakan apapun bisa segera dicari. Lihat di lemari es ada bahan apa, bingung mau masak apa, langsung cari resep di internet, gak usah diprint, bolak-balik aja dari kompor ke laptop ke talenan…hehehe…lha wong dapur sama tempat tidur cuma dua langkah jaraknya. Kamar ukuran ringkes.

Temanku itu ada yang mengaku awalnya sama sekali tidak bisa memasak, tapi setelah setahun mendampingi suami  tugas belajar, jangankan cuma ayam goreng, masak rendang, mie ayam, bakso, rawon, roti, pizza dan cake pun hayuh monggo. Di Jepang bukannya tidak ada yang jual cake, roti, pizza, mie goreng…ada…tapi seringkali banyak “ranjau”nya yang menjadikannya tidak halal. Mau tak mau harus masak dan buat sendiri. Saat halal bihalal dalam rangka lebaran iedul Fitri, kami berkumpul dan makan bersama juga masak bersama, dengan menu khas lebaran lengkap dengan ketupatnya. Berhubung tidak mungkin mendapatkan daun kelapa dipakailah aluminium foil sebagai pembungkus beras yang dimasak menggunakan slow cooker semacam rice cooker. Seperti kata pepatah ” Alah bisa karena biasa“….mudah-mudahan aku nggak kualat  kalau memelesetkannya menjadi “ Alah bisa karena kepepet”

Tak ada yang tak bisa kita kerjakan asal kita mau mencoba. Itu yang selalu kutekankan pada kedua anakku. Jangan nyerah sebelum mencoba. Dan nggak perlu nunggu sampai kepepet juga kali ya.

How to make school vacations worthwhile

Filed under: My Stories — ratna @ 9:32 am

Have you found yourself in a situation where you want to go on vacation but find yourself putting it off because you couldn’t leave your work ? The school vacations are here. Every student, including my sons, is excited, but suddenly I had a headache. You know why ? For a very simple reason: my husband and I have to work from 9 a.m. to 5 p.m, five days a week. So we can’t accompany our sons on their vacation. But from now on, I can arrange my work schedule and spend time with my sons as well. Probably you’d like to know how I can manage it ? Let’s see.

In the school’s annual calendar, there are three vacation periods. The first, a vacation between the first and second semesters falls at the end of the year. Some families welcome this shorter school vacation, because it usually coincides with Christmas and New Year. If we want to have longer vacations, we can take a couple of days off from work. During this vacation my family will decide to visit a few places out of town — even out of the country (if we can afford it) for recreation.

Beaches and mountains are the most favored destinations, or we can use the opportunity to visit relatives. Second is a vacation on the Islamic holiday that marks the end of Ramadhan, the fasting month. We ussually spend the day simply having fun and enjoying ourselves. Most families have private parties and visit relatives. Generally, we have a good time with family and friends. Thus, the way we spend the holiday almost exactly the same way every year.

Here we go ! The third vacation is the longest, after student finish their studies at one level and proceed to the next. It takes about two to three weeks in the middle of the year (June – July). Many parents – including me – shudder at the thought of having their children at home for three weeks ! We will feel guilty if we let this happen, even though we do not have holidays the same as theirs. But we have to think harder to make these holidays unforgettable moments for them. They have already worked hard during semester. The children have the right to enjoy themselves. So we aim for days off by balancing between this and the end-of-year holiday.

What am I going to do with my children ? First we decide the place and kind of activities we will do during two or three weeks of their vacation. On weekdays when my schedule is tight, I will use my spare time after work to accompany my children swimming, shopping, or buying schoolbooks. By doing this they feel happy. On the weekend, we usually travel together and experience a culinary journey as seen on recent TV programs. The more “unusual” the cuisine the more curious we are, and want to try it.

Watching the latest movies at the cinema: That is another favorite activity for us. During the holiday season, many new movies are launched such as Shrek 3, Fantastic Four and Harry Potter. I choose movies that are suitable for my son, who are 14 and seven years old. If an appropriate film is not available at the cinema, I buy DVD and we watch it at home and make the atmosphere like the real thing – home theater accompanied by Coke and popcorn.

Besides that, my eldest son sometimes comes up with the idea to pick a day of the week as “sports day”. We start off by riding a bicycle around the neighborhood or playing badminton or basketball in the backyard.

One thing I’m grateful for is that we have our own backyard. There, the whole family can share the joy of gardening: My Mom thought me so when I was a kid. So I asked myself, “Why don’t I try it with my own children ?” We started by thinking about what to grow – chilies, tomatoes, peanuts, and leaf vegetables such as spinach. I ask my children to plant their seeds, then cover them up with soil and compost, watering them well. Amazingly, they enjoyed it. For me, is not just about planting. It;s about taking advantage of “gardening moments” with my kids…it might just turn out to be one of the highlights of their vacation.

Meanwhile, our family loves food, so I always have a lot of it in my kitchen. In the holiday season I have to provide extra food. Usually I ask them to list what kind of food they want most. If there is food that I can cook by myself, I will allow my sons to help me prepare it. I choose easy recipes like doughnuts, meatball, siomay (dumplings) fruit punch. What a fun it is if we could cook our favorite food ourselves ! It’s not that difficult.

Last year, we identified some major targets. By the end of the vacation, my eldest son was able to drive the car, the younger ride his bicycle. At the end of the vacation we went shopping for school items such as books, stationery, school uniforms, bags and shoes. I also involved them in this activity. We hope the above-mentioned activities were time well spent. They didn’t just waste time watching TV or using their Play Station. Best of all, I can entertain my children with a range of educational activities so they feel confident enough to attempt other things in the future and can concentrate much better on their studies when back at school.***

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

January 24, 2011

Escorting jatropha freak

Filed under: My Stories — ratna @ 11:30 am

IMG_6166Di hari pertama datang ke lab, aku disambut dengan ‘tugas mulia’. “Bu Ratna, hari rabu bisa kan jemput Sensei dan rombongan di bandara ?” Sebenarnya berita ini bukan berita baru. Dua minggu sebelum aku kembali ke tanah air teman se-labku di sana juga mengabariku. “Mbak, tadi Yokota Sensei ndatengin aku dan bilang minta dijemput tanggal 5 Januari di hotel bandara.”
Maka jadilah aku jam 9 sudah di Airport Jakarta Hotel yang ada di terminal 2F. Belum sampai di meja resepsionis, aku di”sambut” Sensei yang menghampiriku. “Welcome to Jakarta”…wahaha…bisa becanda juga dia, mudah-mudahan bukan bermaksud menyindir, karena perjanjiannya jam 9.30 berangkat menuju Bogor. Lalu beliau memperkenalkan aku kepada semua anggota rombongan yang berjumlah 17 orang, tidak semua dari NAIST; ada peneliti dari Kasertsart Univ, Ryukyu Univ dan Riken.

Dalambus di  perjalanan menuju Bogor aku sempat duduk di sebelah Yokota Sensei, berbasa-basi sebentar lalu beliau berkata “Sorry I have to prepare my presentation”, berarti dia sudah ingin mengakhiri percakapan dan mulai asyik dengan laptopnya. Bengongku gak berlangsung lama karena Akashi Sensei yang duduk di seberangku tiba-tiba bertanya pohon apa yang ada di sepanjang tepi jalan tol Wiyoto Witono. Kujelaskan itu adalah mangrove. Hingga menjelang masuk Bogor aku betul-betul seperti orang yang diwawancarai oleh Sensei. Beliau bertanya banyak sekali mengenai kondisi lab dan risetku, dengan permintaan terakhir dia minta diantar melihat lab dan rumah kaca.  

Sebenarnya tugasku mengawal rombongan sampai di hotel sudah selesai, dan aku bermaksud pamit untuk ketemu besok lagi, tetapi Yokota Sensei mengajakku untuk ikut lunch bareng. “Please have a lunch with us, I treat you. I want you to tell me about Indonesian food.” Hmm sepertinya gak cuma sekadar makan, mungkin ada yang ingin dibicarakan. Aku dan Yokota Sensei memesan Soto Bandung, Akashi Sensei pesan mie goreng.
Sambil menunggu pesanan terjadi percakapan berkisar makanan Indonesia, emping melinjo, kecap asin dan kecap manis, belut, sampai soal petani di Indonesia yang bisa panen padi 3x setahun. Mereka heran karena di Jepang tanam padi hanya bisa 1x setahun. Selesai makan aku pamit, Sensei bertanya “Would you join us to the jatropha field tomorrow ?”. Setelah kujawab ya, mereka berucap “See you” dan masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk collaboration meeting dengan tim Jatropha Indonesia.
 
Pagi berikutnya, aku sampai di lobby hotel, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan ketua rombongan sebagai jam berangkat. Tak berapa lama kemudian hampir semua anggota rombongan sudah berkumpul di lobby. Bus carteran sudah sejak pagi parkir di halaman hotel. Jam 8 kurang 10 menit bus meninggalkan halaman hotel. Aku duduk di kursi terdepan bersama Pak Adi sebagai penunjuk jalan. Tujuan kami adalah Kebun Percobaan Jarak di Pakuwon Sukabumi.
 
Ada pemandangan menarik. Kulihat Yokota Sensei duduk memangku setumpuk sertifikat yang harus ditanda tangani dan dicap yang akan dibagikan untuk peserta seminar besok. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 200 lembar. Hyuh tega bener panitianya. Memang tadi sebelum naik bus, Sensei berkata padaku “ I had a homework to do “ sambil menunjukkan map plastik ber-zipper yang beliau jinjing. Kalau di luar jendela ada yang menarik, beliau jeda sejenak dan melihat ke luar. Kalau pas macet beliau kerja lagi. Karena beliau duduk selang satu bangku di belakangku jadi aku bisa dengan leluasa mencuri pandang, memonitor apa yang sedang beliau kerjakan.

Perjalanan mulai menyebalkan karena beberapa kali melewati pasar. Macet. Selain itu di depan kami berderet juga truk-truk yang mengangkut entah apa sehingga makin memperparah antrian. Mudah-mudahan jepun-jepun itu sudah pernah mendengar sebelumnya bahwa di Indonesia yang namanya macet itu sudah biasa. Kalau nggak macet malah luar biasa. 
 
Jam 10 lebih sedikit kami sampai di tujuan. Kompleks Kebun Induk Jarak pagar di Pakuwon ini ternyata menempati area yang sangat luas, ada kantor administrasi, ada wisma, musholla dan tempat workshop yang masing-masing berupa bangunan yang terpisah. Kami semua digiring ke tempat workshop oleh penanggung jawab Kebun. Kebun Induk ini berada di bawah naungan Dep. Pertanian. Karena kunjungan kami sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya pihak Kebun sudah mempersiapkan semuanya.

Tanpa banyak prolog dimulailah penjelasan tentang tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang sejak sepuluh tahun terakhir menjadi tanaman paling top – dibicarakan oleh kalangan peneliti, pengusaha, di hampir seluruh dunia sebagai kandidat penghasil biodiesel, biosolar – karena bersifat renewable fuel menggantikan fossil fuel yang suatu saat akan habis disedot dari perut bumi.  Bahkan pemerintah mengeluarkan undang-undang/kebijakan tentang pengembangan bahan bakar nabati khususnya jarak.
 
Penjelasan menggunakan bahasa Indonesia yang langsung ditranslate oleh ketua rombongan. Jepun-jepun itu yang semuanya adalah dosen dan peneliti mendengarkan dengan seksama. Penjelasan paling menarik buat mereka adalah informasi kapan buah jarak matang fisiologis sebagai benih, kapan buah matang untuk dipanen sebagai penghasil minyak, berapa lama viabilitasnya, pada suhu berapa benih tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Aku tau ini dari Dr. Kajikawa peneliti yang sedang menjalani post doc di lab tempat aku riset di Nara kemarin. Menurut dia, sampai dengan saat ini informasi semacam itu masih sulit diperoleh dari publikasi ilmiah internasional. Lucu juga sih, penelitian hebat-hebat yang mengulik sampai ke tingkat molekular sudah sangat maju, tapi penelitinya sendiri masih banyak yang belum tau bagaimana kondisi A – Z si jarak ini di lapangan. Bisa dimaklumi karena jarak sebenarnya tanaman daerah tropis. Di Jepang jarak bisa tumbuh sampai fase generatif (menghasilkan buah) hanya di pulau Okinawa. Di tempat lain bisa tumbuh tapi tidak bisa berbuah.
 
Mereka makin kagum pada sesi demo pengepresan biji jarak sampai mengeluarkan cairan minyak kasar. Mungkin mereka harus mengakui kepiawaian peneliti Indonesia, bahwa hanya dengan mesin sederhana rancangan peneliti di Kebun ini bisa ‘dipanen’ minyak jarak setelah dimurnikan lagi dengan alat penyulingan. Selain produk berupa minyak, by product-nya pun dipajang di tempat workshop. Sisa pengepresan yang disebut seed cake atau bungkil yang masih mengandung sedikit minyak dibuat menjadi briket bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku. Tungku khusus pun sudah dirancang dan dibuat. Kulit buah yang ditampung dalam bak besar setelah diolah dan diberi tambahan bahan lain digunakan untuk pakan kambing yang dipelihara di kandang yang terletak di area kebun juga. Subhanallaah…selama ini yang kutau tidak ada bagian dari tanaman jarak yang bisa dikonsumsi dalam artian bisa dimakan karena mengandung racun.
 
Aku sempat berkeliling dan melihat-lihat produk hasil buatan peneliti yang dipajang. Ternyata yang diolah bukan hanya biji jarak, ada juga minyak kelapa sawit, minyak kemiri, nyamplung, pometia (matoa). Di satu meja aku melihat lampu teplok yang jadul banget, inget lampu di rumah Mbah Putri di Jogja jaman aku SD dulu. Aku juga ingat Ibuku pernah cerita kalau di jaman penjajahan Jepang semua orang di desa disuruh nanam pohon jarak untuk diambil minyaknya untuk penerangan lampu teplok karena harga minyak tanah mahal. Mungkin itu sebabnya hampir di seluruh Indonesia tanaman ini mudah ditemukan sebagai tanaman pagar…dan nama lokalnya pun jarak pagar. Selain ada pula yang namanya jarak kepyar, jarak ulung, jarak bali. Ternyata sejak dulu wong jepun pinter ya…makanya bisa ngejajah bangsa kita.
 
Kunjungan diakhiri dengan foto bersama. Acara berikutnya adalah makan siang. Sebenarnya ada permintaan dari rombongan untuk makan siang di resto Rindu Alam, karena Sensei pernah makan di sana mungkin terkesan dengan suasana dan makanannya. Tapi rasanya mustahil bisa sampai di sana dalam waktu 1 jam. Rundown acara di atas kertas memang mengalokasikan 1,5 jam di Pakuwon tapi kenyataannya molor jadi 2 jam. Akhirnya berhubung sudah jam 12, diputuskan makan di rumah makan lain. Seketemunya aja, kata ketua rombongan. Alhamdulillah nemu restoran yang cukup representatif yang menghidangkan menu masakan Indonesia, tempatnya juga bernuansa tradisionil…
 
Aku diminta menginventaris minuman apa yang akan dipesan oleh anggota rombongan. Agak repot karena daftar menu berbahasa Indonesia. Waktu kubacakan ada jus markisah mereka bertanya “what kind of fruit is markisah ?” Setelah kujelaskan, cukup banyak yang ingin mencoba. Beberapa ada yang memesan jus jeruk, dan air putih saja. Tapi umumnya mereka minta jus tanpa es.  Setelah kupikir-pikir mereka mungkin takut sakit perut kalau minum air mentah. Beda lah dengan di Jepang yang bisa minum langsung air dari keran.
Setelah tugasku selesai memesan menu dan minuman, aku izin sholat. Selesai sholat kulihat mereka sudah mulai makan. Beberapa yang duduk di dekatku menanyakan “what is this ?” waktu mau makan tempe goreng. Wah ada juga yang belum tau tempe ya. Padahal kelompok peneliti Jepang di Univ. Osaka ada yang sudah meneliti kandungan antioksidan pada kedelai yang sudah difermentasi menjadi tempe lho.
 
Yang lucu lagi, baru aja aku selesai menjelaskan dan baru mau bilang hati-hati dengan cabe yang pedas sekali…ee si Sensei main masukin aja cabe rawit utuh yang disediain di piring ke mulutnya. Kulihat mimik mukanya biasa aja sih…tapi dia bilang…”karai..” terus cepet-cepet minum. “Oh sorry Sensei, I just want to say it’s very hot.” Wakakak…gerakannya lebih cepat dari pada kata-kata yang akan kukeluarkan. Tapi emang dasarnya pengen tau ya, si Sensei yang satu lagi dia ambil terong bulat dari piring yang berisi lalapan trus dia tanya, ini apa. “It’s an eggplant”. Dia heran karena terong yang biasa dia makan di Jepang yang panjang ungu.  

Yokota Sensei sebenarnya menawarkan ke ketua rombongan supaya bill dibayar sharing, karena jumlah orang jepang jauh lebih banyak dalam rombongan. Tapi ketua rombongan menolak dan ingin mentraktir sebagai penghormatan dari  tuan rumah. Denger-denger sih wong jepun emang gitu, di budaya mereka jarang ada istilah traktir mentraktir, apa-apa ya bayar sendiri. Aku ingat beberapa kali pergi dengan Saki san meskipun judulnya dia nganterin aku pergi, tapi kalau mau kutraktir dia gak pernah mau. Selalu “betsu-betsu (separate)…mirip ya sama istilah kita BS-BS (bayar sendiri sendiri).
Tujuan berikutnya adalah kebun teh Gunung Mas. Kami harus melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. Dan ternyata kemacetannya jauh lebih parah dari pada tadi pagi. Bus benar-benar berhenti jegrek di jalan.  

Jam setengah lima sore baru kami sampai di Gunung mas, padahal tadi berangkat jam setengah dua dari Sukabumi. Rombongan cuma berjalan sekitar setengah jam menyusuri area perkebunan PT Gunung Mas yang merupakan daerah agrowisata. Jadwal di atas kertas sebenarnya setelah lunch di Rindu Alam dan jalan-jalan di kebun teh adalah PULANG ke Bogor. Tapi melihat antrian mobil yang turun menuju Jakarta dan Bogor juga gila, akhirnya diputuskan sebelum balik ke Bogor makan malam dulu di Rindu Alam.

Di Rindu Alam karena sudah magrib dan berkabut tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Acaranya ya langsung makan. Kami duduk terpisah menjadi 4 meja. Sementara menunggu pesanan datang, pramusaji restoran menyuguhkan berbagai kue basah jajan pasar seperti lemper dan getuk lindri. Ternyata rasa getuk lindri pas di lidah mereka sebab tidak terlalu manis. Begitu pula teh tawar yang disuguhkan seperti umumnya di restoran ala Sunda. Mereka justru tidak suka rasa teh yang terlalu manis. Sebelum makanan datang kulihat Yokota Sensei sebagai pimpinan rombongan Jepun mengumumkan sesuatu, tapi karena dalam Nihonggo aku ga ngerti apa artinya. Di akhir acara makan barulah aku ngeh, ternyata untuk acara makan itu bill dibayar oleh pihak jepun dibagi rata 17 orang…hihihi…kirain dibayarin semua sama Yokota Sensei. Yang ditugasi mengumpulkan uang Kajikawa san yang duduk di depanku. Aku geli ngeliat semua anggota rombongan nyaris serempak buka dompet dan mengeluarkan uang sejumlah Rp 60 ribu. Ada yang nyerahin pecahan 100 ribuan, ada yang 50 + 10 ada yang 50 + 20. Jumlah bill sekitar 1 juta rupiah…
Akhirnya setelah sekitar 15 menit mengumpulkan uang dan mencocokkan dengan jumlah bill, Kajikawa menyerahkan uangnya ke ketua rombongan untuk dibayarkan ke kasir. Kajikawa bilang “Your government have to redenominated the currency.” Hahaha..kebanyakan nol nya dia bilang. Bener juga siy terlalu banyak nol dan terlalu banyak pecahan uang. Secara psikologis kalau belanja pakai yen waktu di Jepang enteng aja, karena dalam yen 2 nol di rupiah ngglinding. Begitu di rumah dihitung dan dikonversi ke rupiah baru timbul rasa bersalah. Buset belanjaan gue kenapa jadi segitu mahalnya yah ?  Gimana ya nanti kalau pemerintah Indonesia beneran jadi menerapkan redenominasi ? Bisa-bisa makin konsumtif karena ngerasa harga barang tiba-tiba jadi “lebih murah”, sementara penghasilan tetap. Uhmm…yah itu dipikirin nanti aja kali yee.
Yang terpikir olehku saat itu adalah ..jam berapa kami semua sampai di rumah kalau jam 19.30 masih di Puncak ? Perkiraanku ga meleset jauh, jam 9 kurang seperempat kami tiba di hotel. Kami berpisah untuk bertemu lagi besok di acara half-day-seminar dengan audience lebih banyak dosen, peneliti, dan mahasiswa.IMG_6162

November 13, 2010

Kenanganku bersama BALIVEAU

Filed under: My Stories — ratna @ 6:57 am
 

 

Sebagai Koordinator Pendidikan kala itu, aku cukup tercengang mendengar kabar bahwa mahasiswa angkatan 2004 yang akan masuk menjadi penghuni baru berjumlah 80 an anak. Hal pertama yang terpikir adalah bagaimana caranya aku harus berbicara di depan mereka agar suaraku tidak tenggelam di antara riuhnya suara yang keluar dari 80 mulut. Seperti tahun-tahun sebelumnya Kordik harus mendampingi Pimpinan Departemen menyambut mahasiswa baru di lantai dasar Gedung E….dan memberikan penjelasan dari A sampai Z tentang departemen Biologi.  Setiap akan berkenalan dengan tiap angkatan baru, selalu ada rasa penasaran…akan seperti apa mereka nanti… responsif ? Tanpa ekspresi ? kompak ? individualis ? Aku termasuk orang yang kurang bisa menilai pada perjumpaan pertama. Tapi setidaknya seusai aku presentasi di depan mereka, perasaanku mengatakan angkatan ini lumayan asik.

Reuni akbar Biologi Feb 2010

Reuni akbar Biologi Feb 2010

 

Sesi penyambutan

 

 

Kelas Bahasa Indonesia

Ada rasa tersanjung, tapi ada juga rasa kuatir di antara rasa semangat akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, saat aku ditawari oleh Bu Boen bersama-sama Bu Susi dan Bu Mega mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia untuk mahasiswa semester 1 Biologi.  Bagaimana kalau nanti begini…bagaimana kalau nanti begitu…. kalimat ragu itu berlompatan di pikiranku. Aku takut karena kebodohanku, aku menyampaikan sesuatu yang salah…

Tetapi setelah mendapat bekal dari Bu Boen …langkahku ringan memasuki B 20…duh..lupa..204 ya ? Di kelas meskipun serius mendengarkan kuliah dari Bu Boen, tetapi diskusi dan pembahasan soal selalu meriah bersama anak-anak itu. Aku mendapat bagian anak-anak dengan nama abjad H, I, J, K…kalau tidak salah…yang paling kuingat Hartiyowidi…Kinasih….Henri…(maafkan Ibu kalau salah yaa…jangan-jangan itu waktu periksa ujian yang lain..^_^).

Yang paling seru saat belajar menulis tanda baca, dengan paragraph latihan Ice Juice…nilai kalian hampir semua jeblok….

Tapi percayalah…waktu dulu semester 1, nilai ku pun tidak lebih bagus dari kalian. Itu artinya, kita sebagai pengguna bahasa Indonesia belumlah bisa menggunakannya dengan baik dan benar. Hmmm…kenangan yang sangat manis…

Kelas Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Kalau tidak salah…mulai angkatan 2004 diberlakukan penyelenggaraan praktikum secara parallel. Masya ALLAH…terbayanglah betapa heboh dan capeknya …sedangkan mengawal praktikum 1 kali untuk satu angkatan saja sudah melelahkan. Tetapi lagi-lagi karena peserta praktikum yang kooperatif dan antusias….meskipun hampir semua alat digunakan bergantian (alias antri)…rasa lelah itu terbayar dengan kepuasan.  Di praktikum ini aku sangat teringat dengan Ekawati, Ayudia Nirmala, Latifah Nurdahlanti…

Pesanku

Anak-anakku… sebagai gurumu…yang pernah sedikit memberikan ilmu kepada kalian, simpan dan amalkanlah semua ilmu, pengetahuan, pengalaman yang kalian dapatkan sepanjang hidup kalian. Jangan lihat dari mana datangnya ilmu, pengetahuan dan pengalaman itu…dari seorang anak kecil pun jangan kalian anggap remeh.. Setelah kalian dapatkan, sampaikan dan amalkanlah ilmu, pengetahuan dan pengalaman kalian itu kepada siapa saja yang membutuhkan…. Karena kalian adalah guru sejati bagi calon anak-anak kalian kelak…

Tidak harus menjadi seorang guru untuk mengajarkan hal-hal yang baik pada orang lain. Ilmu yang tidak diamalkan, seperti pohon yang rindang tetapi tidak memberi manfaat buat orang yang ada di sekelilingnya…seperti pohon yang tidak berbuah…malah hanya menggugurkan daun…menjadi sampah yang mengotori.

Anak-anakku,

Aku bangga melihat prestasi kalian…meskipun aku tidak tau satu persatu di mana kalian sekarang berkarya. Di mana pun kalian berkarya dan mengamalkan ilmu…yakinlah dan niatkanlah bahwa kalian sedang BERIBADAH…sehingga apapun yang kalian lakukan …hanya keikhlasan yang terasa..

Nara, September 2010

(Notes ini kubuat atas permintaan Mulyati Dewi Aisyah sebagai salah satu testimoni untuk buku BALIVEAU)

November 12, 2010

REUSE, REDUCE, RECYCLE

Filed under: My Stories — ratna @ 6:56 pm

garbage1

The Environmental Protection Agency reports the United States produces approximately 220 million tons of garbage each year. This is equivalent to burying more than 82,000 football fields six feet deep in compacted garbage. There are no statistics readily available for the entire planet. Each American makes about 4 pounds of garbage daily. If the rest of the world produced as much as Americans, there would be about 10 MILLION tons daily, or 4 TRILLION tons yearly. Enough to cover Texas twice. This also fills enough trucks to form a line to the moon. (wikianswer.com)

 Seandainya sampah-sampah itu bisa jadi duit….hmm tapi ditangan pemulung, sampah memang akan menjadi uang. Sejak shubuh mereka sudah berkelana dari satu bak sampah ke bak sampah lain. Mereka berlomba dulu-duluan berburu sampah dengan tukang sampah yang memang dibayar untuk ‘mengosongkan’ bak sampah di setiap rumah baik di komplek elit, setengah elit sampai perumahan campuran….asalkan yang punya sampah udah bayar retribusi. Kalau belum bayar, sampai itu sampah menggunung, juga gak bakalan diangkut. Berterimakasihlah pada pasukan berani (tahan) bau yang mengurus sampah kita….gak kebayang kalau mereka tiba-tiba mogok kerja.

 Selama di Jepang, peraturan mengharuskan aku berbuat ‘lebih banyak dan aktif’ dibanding di kampung halamanku, Indonesia tercinta. Saat pertama menerima kunci kamar asrama, bagian administrasi kampus juga memberiku satu bendel kertas ‘manual’ berisi how to…how to…yang Alhamdulillah bilingual….hehe…kalau huruf keriting semua bakalan langsung jadi sampah pertamaku tuh. Lha iya…buat apa ? Kalau dibaliknya masih kosong masih bisa dipakai untuk oret-oretan, atau untuk ngeprint di lab.

Setelah kubaca sepintas Student Dormitory Leaflet, aku manggut-manggut, gak ada satu celahpun yang terlewat dari si pembuat peraturan, sehingga hak bagi satu penghuni dibatasi oleh hak buat penghuni lain. Contohnya, “Do not make excessive noise (musical instruments, stereo, TV) that disturbs neighbors as walls are not soundproofed”. Atau, “Keep the common spaces neat so that everyone can use them comfortably. Common space is maintained using your facility fees. Please try to conserve water and electricity”

Dari sebegitu banyak tata cara yang paling memerlukan perhatian khusus adalah GARBAGE COLLECTION. Kampusku terletak di kota Ikoma, sedangkan Nara merupakan Perfecture (kalo ga salah…^_^ …..I’m not a good citizen, maklum deh I’m only an alien). Maka dari itu, pemerintah kota Ikoma membuat peraturan supaya semua warganya sebelum membuang sampah harus memilah-milahnya terlebih dulu. Kategori sampah terdiri atas BURNABLE dan NON-BURNABLE. Sampah bekas/sisa masak, tisu, plastic bungkus makanan, kotak kemasan susu cair, juice, itu tergolong burnable. Kotak bekas susu, juice, snack sebelum dimasukkan ke trash bag harus dikempiskan dulu, mungkin supaya tidak voluminous. Trash bag bisa berupa kantung sampah besar untuk buang sampah, bisa juga istilah kita tas kresek bekas belanja, asalkan bening (transparan) …di sini gak ada tas kresek hitam. Ada kresek yang tidak transparan, biasanya berwarna biru muda atau abu-abu, dipakai kalau kita membeli pembalut atau pantyline di mal atau convenience store. Oleh kasirnya langsung perabotan cewek itu dimasukkan ke kantung plastik semacam itu. Jadi ingat waktu SMP jaman baru puber  kalau harus beli pembalut sendiri ke toko rasanya malu banget sama orang karena keliatan meskipun di dalam tas kresek yang bening. Trash bag harus transparan mungkin supaya petugas kolektor sampah langsung bisa lihat kalau-kalau ada sampah yang salah kapling.

Selain Burnable dan Non-burnable ada kategori RECYCLABLE WASTE, terbagi menjadi bottles and cans dan PET bottles. Bottles and cans termasuk kaleng bir, soft drink dari aluminium, kaleng makanan kemasan, semua harus harus dibilas dengan air tanpa sabun, kecuali botol bekas kosmetik dan spray cans.

Khusus sampah berupa botol plastic PET (Polyethylene terephthalate) bekas minuman soft drink, teh, juice, sebelum dibuang dibilas dulu;  label dan tutupnya dimasukkan ke sampah burnable. Ternyata setelah tanya sama Profesor Google, di tempat pengolahan limbah plastik di Amrik sana,  botol PET disortir dari barang lain, termasuk logam, beling, drink carton, plastik yang lebih rigid lagi seperti PVC ( Polyvinyl chloride, bahan untuk pipa, orang Indonesia bilangnya pipa paralon, padahal Pralon kan nama merek), HDPE, polypropylene. Juga harus dipisah dari plastik yang lebih tipis dan lentur seperti plastik untuk kresek (terbuat dari low density polyethylene). Botol PET ini nanti akan dipress menjadi balok-balok untuk disetor ke perusahaan recycle. Perusahaan recycle selanjutnya akan mencacah botol PET menjadi serpihan kecil disebut “PET flakes”, jadi inget corn flakes. Serpihan kecil ini masih mengandung sisa label kertas atau plastik dan plastic caps (tutup botol). Tutup botol  akan dibuang melalui proses lain. Nah sepertinya pemerintah kota Ikoma sudah mengantisipasi atau mungkin diminta oleh perusahaan recycle, supaya tidak harus membeli alat khusus untuk membuang tutup botol, maka kami sebagai penghasil sampah tangan pertama diharuskan untuk memisahkan tutup dengan botolnya, juga mengelotok labelnya. Karena agak berbeda dengan di luar Nara, kulihat di tempat sampah rata-rata botol masih lengkap dengan tutup dan labelnya. Tetapi standar tempat sampah di Jepang (di Singapore juga) selalu ada tiga kompartemen berlainan warna dan gambar. Satu untuk kaleng bekas minuman, satu untuk botol PET, dan satu untuk yang selain itu.

Untuk membuang minyak bekas menggoreng (jelantah), kita tidak boleh menuang begitu saja ke sembarang tempat apalagi ke sink bak cuci piring. Terlebih di Jepang yang hampir seluruh rumah berupa bangunan flat bertingkat, sehingga sistem pipa sangat penting perawatannya. Ada yang mampet sedikit saja pasti bakalan jadi bencana buat semua penghuni di satu blok gedung. Jadi minyak harus diserap dengan kertas koran atau kertas apa saja, malah ada semacam spons khusus yang dijual di toko 100 yen. Setelah semua minyak terserap baru kertas atau spons itu dimasukkan ke sampah burnable. Buat aku yang males ribet, yah selama di Jepang acara goreng menggoreng dibatasi hingga level terendah…kecuali kalau lagi kangen makan teri sambel….ya mau gak mau kudu harus nggoreng. Lagian makanan tumis-tumis, kuku-kukus, kuah-kuah lebih sehat dari pada deep frying food toh…? Hehehe…nge-les aje…ntar balik ke Indo gorengan lagi deh…

Sampai dimana tadi ? Oh iya itu tadi baru 2 kategori umum. Dua kategori itu masih dibagi lagi; ada BURNABLE WASTE berupa botol plastic bekas kosmetik, paper cups, sandal jepit, barang-barang terbuat dari kulit, sepatu olah raga, barang-barang dari karet, CD, kaset. Barang-barang seperti ini akan diambil 2x dalam seminggu. Sampah lain lagi seperti furniture, electric carpets (untuk musim dingin), kasur, selimut, box/lemari plastic, pot bunga, koper (suitcase), ski boots, helm, mainan anak, masuk kategori BURNABLE BULKY WASTE. Sampah seperti ini diambil (frequency of collection) nya 3x dalam setahun. Yang termasuk UNBURNABLE WASTE berupa sepeda, sepeda motor (lebih dari 50 cc..hihi…gile, buang kok barang ginian), payung, panci, ceret, kompor, jam, vacuum cleaner, radio kaset recorder, kipas angin, heater (pokoknya semua home electric appliances), barang-barang keramik, diambil sekali sebulan. Ditambahi keterangan di manual-nya : weight cannot exceed that carried by two people; Request the store at which you bought these goods to take them back. Mungkin karena itu  orang Jepang punya kebiasaan menjual kembali barangnya sebelum rusak tapi sudah bosan memakainya. Hampir setiap sebulan sekali mereka mengadakan bazaar semacam garage sale yang pesertanya adalah orang-orang yang ingin ‘membuang’ barangnya, mungkin mau beli barang baru tapi supaya rumahnya gak penuh, barang lama harus dihabisin dulu. Bagi si pembuang sudah tidak berguna tapi pasti masih berguna untuk orang lain. Menurut cerita teman-teman, kadang bisa dapat rice cooker, heater, bahkan laptop yang dibuang oleh pemiliknya di tempat pembungan sampah kampus…^_*

Kategori terakhir adalah HARMFUL AND DANGEROUS WASTE yaitu mercury batteries, dry battery, clinical thermometer, cermin, fluorescent lamp. Barang-barang ini harus dimasukkan ke dalam red bags khusus katanya. Akan dikumpulkan atau diambil 4x dalam setahun di bulan Maret, Juni, September, dan Desember.

Di lab juga berlaku peraturan yang sama. Di setiap lorong bench kerja tersedia 3 macam bak sampah plastic yang diberi tiga macam trash bag, warna hitam untuk limbah plastic seperti tip pipet, cling wrap, rubber gloves ataupun sarung tangan plastic, botol bekas bahan kimia, weighing boat (plastic untuk menimbang zat kimia), pokoke yang judulnya plastic. Lalu trash bag warna biru untuk limbah kertas, seperti tisu, paper towel, kotak kertas bekas wadah plastic gulung, kotak kemasan bahan kimia. Trash bag bening untuk sampah domestic bekas wadah makanan; di labku tiap student dapat bench untuk laboratory work dan bench computer. Biasanya sambil browsing atau ngetik mereka bisa sambil ngemil atau makan siang, gak tau tuh di labku gak strict tidak boleh makan dan minum, padahal yang namanya lab pasti ada racunnya yang kadang gak tercium, gak terlihat…tapi di setiap sink tersedia sabun cuci tangan. Jadi limbah bekas bungkus roti, snack, beda dengan limbah eksperimen.

Untuk satu lab disediakan wadah tempat limbah aluminium foil, limbah kaca/beling (tulisan katakana-nya garasu)sempet bingung apaan siiih…garasu, garasi…ternyata asalnya dari “glass”  hayah…gak bisa bilang L dan gak bisa nyebut huruf mati di ujung…

Ada lagi limbah yang berbahaya yaitu limbah gel agar bekas elektroforesis, karena gel ini menggunakan pewarna khusus untuk DNA yang disebut ethidium bromide, zat karsinogenik dan mutagenic. Gak tau tuh kapan tumpukan gel dibuangnya karena tiap kali aku buang gel masih banyak aja dalam wadahnya. Kalau tiap orang di lab dalam sehari buang gel rata-rata 160 ml aja, widiiih…ngeri deh.

Limbah lain adalah limbah kultur ataupun kontaminan bakteri, cendawan, penanganannya harus mengikuti peraturan / SOP yang berlaku universal bagi lab pengguna mikroba sebagai objek riset. Jika sudah tidak dipakai atau akan dibuang harus dimusnahkan dalam autoklaf dengan suhu dan tekanan tertentu (seperti panci tekan). Istilah ku dan teman-teman di labku di Indonesia di-killing.  

Kami di Indonesia sering saling ledek…wah kok keseringan killing dari pada kultur…hahaha..artinya kulturnya lebih sering terkena kontaminasi. Yang ditanam sel daun, yang tumbuh subur malah cendawan….yang dikultur cendawan malah yang nongol bakteri…cape deeeh. Berarti bumi Indonesia itu kaya,…bahkan di udara aja bertebaran keanekaragaman hayati berupa ribuan jenis spora mikroba. Tinggal pilih aja media yang sesuai…tunggu 2 hari…nongol deh mereka…trus dipanen….

Jadwal pengambilan sampah pun ada ketentuannya. Yang jelas hari minggu dan libur nasional tidak akan ada pengambilan sampah. Jadi ya kalau hari sabtu lupa buang sampah, you have to keep your garbage in your room until the next collection day. Sampah burnable diambil tiap hari rabu dan sabtu. Sampah botol PET tiap hari senin minggu kedua, sampah kaleng tiap senin pertama dan ketiga.

Di lab  juga ada pembagian hari buang sampah. Labku jadwal buang sampah dan bersih-bersih lab adalah tiap jumat jam 13. Awalnya aku gak diberitahu, tapi ya ikut aja. Semua student dan asisten professor ikutan kerja. Cuma Yokota Sensei dan Akashi Sensei aja yang gak ikutan. Ada yang nyapu, ngepel, mengosongkan bak sampah lalu mengumpulkannya dan menggunakan trolley mereka bergantian membawanya ke luar gedung untuk dikumpulkan di container sampah khusus gedung BIO. Setiap gedung punya sendiri-sendiri kayanya. Di setiap dormitory juga ada bangunan khusus untuk buang sampah.

 Oh ya aku teringat kebijakan salah satu hotel di Kobe, saat aku diajak ketemuan dengan  teman kuliahku dulu. Dia sedang mengikuti workshop di Kobe selama seminggu. Jadi setiap pagi bagian housekeeping hotel menyediakan kertas yang mencantumkan option apakah kita meminta seprai, sarung bantal, selimut, handuk, hand towel, diganti hari itu, ataukah diganti 2 hari sekali. Jika kita tidak meminta untuk mengganti, tetapi hanya merapihkan saja, maka sebagai apresiasi, pihak management hotel akan memberikan reward berupa air mineral gratis sebanyak jumlah item yang tidak diganti. Dari prinsip ekologi dan penghematan energi jelas, jika belum terlalu kotor, buat apa dicuci karena dengan begitu akan menghemat air, sabun cuci, dan listrik untuk laundry.

 Wahai teman, jika pembuat peraturan dan pelaksana peraturan mau bekerja sama, sebuah sistem akan berjalan tertib dan semua akan merasakan hasilnya. Dan jangan pernah menjadi penganut jargon “peraturan dibuat kan untuk dilanggar…”

PENGALAMAN BERBELANJA MAKANAN HALAL DI JEPANG

Filed under: My Stories — ratna @ 6:48 pm

cemilan

HAMPARKAN SAJADAHMU DI MANA SAJA DI BUMI SAKURA

Filed under: My Stories — ratna @ 6:37 pm

Ritual tahunan yang kulalui bersama anak dan suami tercinta setiap Hari Raya Idul Fitri adalah pulang mudik ke rumah orang tua di Madiun. Yang paling seru dan banyak kenangan, jika kami naik kendaraan pribadi. Nyaman karena kami bisa berhenti kapan dan di mana saja, tidak mengejar target harus sampai dimana dan jam berapa. Kami berangkat hampir selalu setelah shubuh; kalau tidak macet, perjalanan dapat kami tempuh dalam waktu 15 jam. Itu sudah termasuk waktu untuk berhenti sholat, unloading cairan di kantung kemih dan loading bensin (^_^). Tidak ada acara makan karena meskipun safar kedua anakku tetap bertahan tidak membatalkan puasa…..lebih berat bayarnya Mah…begitu kata mereka. Biasanya kira-kira setengah jam sebelum waktu sholat dzuhur, aku dan anak-anak sudah ‘hunting ‘ mesjid yang bakal kami singgahi. Kriterianya, harus yang terletak di sebelah kiri jalan (supaya tidak harus putar balik arah), yang punya tempat parkir besar atau di depan mesjid ada tempat untuk parkir mobil, dan terakhir, yang tempat wudhu-nya cukup bersih; mesjid tidak harus besar dan bagus, yang penting bersih. Kadang sudah berhenti, pas masuk, tempat wudlu-nya bau, lantainya kotor, padahal sandal sudah harus dibuka…kalau sudah begitu, naik mobil lagi dan hunting lagi. Bersyukur kita berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga hampir dalam jarak 2 km selalu ada mesjid, musholla atau langgar, itu baru yang di tepi jalan Pantura, mungkin akan makin banyak jika kita mengambil jalur alternatif melewati jalan-jalan kecil. Belum termasuk musholla yang ada di SPBU. Trik suamiku yang memang pengalaman traveling ngubek-ngubek pulau Jawa jalan darat, kalau mau sholat lebih baik di mesjid atau musholla. Tapi kalau mau pepsi (bukan merek minuman lho ya) or bakery ^_^ lebih baik di SPBU, biarpun harus bayar yang penting bersih. WC di mesjid memang gratis, tapi lebih sering kurang bersih… Selama di Jepang, aku dan teman-teman sesama muslim punya kesepakatan, jika akan pergi seharian suntuk sampai malam, kami membawa perlengkapan sholat dan kompas (bukan nama koran juga yaaa). Tapi kalau baru berangkat setelah dzuhur, biasanya kami menjama’ dzuhur dengan ashar. Maghrib biasanya kami jama’ dengan Isya jika kami sampai di asrama sudah masuk waktu Isya. Perlengkapan lain yang selalu kubutuhkan adalah botol plastik bekas minum air mineral. Jadi setelah isinya habis diminum, botol belum kubuang sampai waktunya harus wudlu. Memang saat bepergian ke luar rumah, yang agak jadi masalah adalah ambil wudlu. Botol berguna untuk menampung air dari keran (umumnya keran menggunakan sistem sensor, cukup kita dekatkan mulut botol ke mulut keran…airnya ngocor deh). Di toilet jangan harap ada ember plus gayung… hehe..indonesia bangeeeettt. Standar toilet termasuk yang ada di stasiun, dilengkapi dengan wastafel dan cermin. Jadi kalau mau wudlu terpaksa – maap-maap – kaki nangkring masuk ke wastafel. Kalau toilet pas ramai, akhirnya membasuh muka sampai telinga di wastafel, untuk kaki terpaksa tampung air di botol, lalu cari WC yang closetnya jongkok (japanese style closet), dan basuh atau siram kaki di situ, pelan-pelan supaya air basuhan tidak nyiprat ke mana-mana dan air di closet juga tidak memercik lagi ke kaki kita. WC hampir semua lantainya kering, baik yang jongkok ataupun yang western toilet style (posisi duduk). Hmmm kok bisa ya…di Indonesia yang namanya WC selalu always basah…yang bisa bertahan kering sepertinya WC di mal-mal atau hotel keren yang tiap sebentar dipel sama cleaning servicenya. Mungkin karena gak ada ember itu makanya gak basah…hehe…masalahnya wong Indonesia selesai buang air harus dibanjur, kalau wong jepun mungkin pakai tisu kelar urusan. Terlebih kalau musim dingin, meskipun dibanjur pakai air hangat, pasca terkena air, pasti efeknya dingiiiinnnn…. Beres urusan wudlu, urutan berikutnya adalah mencari tempat untuk sholat. Di Jepang banyak sekali temple/castle juga koen (taman) atau public area yang terbuka, mungkin di Indonesia seperti di area Monas, Taman Suropati. Aku pernah sholat di temple, taman, tempat parkir, tangga dan tepi kali. Semuanya berkesan dan tak akan pernah kulupakan. Yang paling lucu adalah saat aku berdua dengan seorang teman ingin mencari tempat sholat di halaman luar Todaiji Temple di Nara. Todaiji Temple sebagai landmark Nara, sangat terkenal karena di dalamnya terdapat patung Buddha terbesar di Jepang, Nara Daibutsu (Great Buddha of Nara). Kami berdua mencari tempat yang sepi di halaman temple yang luas itu. Yaaa sebisa mungkin di tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang pengunjung. Memang kalau toh akhirnya ada satu-dua orang yang lewat, paling banter akan menengok sejenak dan jalan lagi. Karakter orang Jepang menurutku ‘mind your own business’…asal gak bikin gaduh dan gak ganggu, mereka akan cuek aja. Lha kalau kita sengaja sholat di tempat yang ramai banget, baru tuh bakal jadi tontonan orang banyak, bisa-bisa malah didatangi security deh. Kenapa kubilang lucu ? Setiap kali dapat spot yang kami anggap ok, ternyata setelah didekati banyak ‘ranjau’ kotoran kijang…hihihiiiii….mirip kotoran kambing bulet-bulet hitam (eh malah dibahas yak, soriiii). Oiya, kijang (sika) adalah mascot Nara. Todaiji Temple terletak di area Nara Park. Kijang-kijang itu sengaja dibiarkan hidup bebas di halaman temple dan di Nara Park yang luas, berbaur dengan pengunjung, hampir sama seperti kijang-kijang yang ada di Istana Bogor. Kalau ‘kijang-kijang’ di Jakarta rame-rame ngabisin bensin karena ‘parkir’ di jalanan tiap jam pulang kantor Hampir 15 menit kami blusu’an – apa ya bahasa Indonesia-nya- pokoknya jalan seperti orang nyari barang yang jatuh. Akhirnya dapat tempat yang lumayan bersih, hanya saja beraspal, agak berbatu-batu dan panas, tidak ternaungi pohon. Tadinya kami berharap bisa dapat tempat di hamparan rumput di bawah pohon. Rupanya tempat seperti itu juga jadi favorit si kijang untuk BAB… hehehe. Di hamparan yang keras dan gak ada pohonnya mereka gak mau poop kayanya…(di kuliah Ilmu Perilaku Hewan dibahas gak ya defecation sites favoritnya mammalia ^_^…dulu gak ikut kuliahnya siiiih). Giliran kompas yang membantu kami mencari arah barat, setelah ketemu baru kami hamparkan plastik semacam tikar kecil, nyaris seukuran sajadah, biasanya untuk alas piknik anak-anak jepang. Sajadah beneran kupakai untuk sholat di asrama. Kami sholat bergantian. Pengalaman lain lagi sewaktu aku pergi berdua saja dengan teman jepangku, sekaligus mentor-ku Saki Hoshiyasu, seorang mahasiswa doktor tahun ketiga. Dia dibayar khusus oleh Student Affair Section kampus NAIST sebagai Teaching Assistant bagi visiting researcher seperti aku, atau exchange student yang terdaftar di lab tempatku riset. Dia mengajariku bagaimana mengoperasikan semua alat yang akan kupakai di lab, karena hampir semua panel yang ada di alat-alat bertuliskan aksara kanji…termasuk microwave !!…tobaaat, bener-bener jadi buta huruf waktu pertama masuk lab. Dia juga mendampingi aku ke City Hall, Kantor Walikota untuk membuat alien card (KTP untuk orang asing yang stay lebih dari 90 hari; beneran dianggap mahluk asing ~ alien), apply asuransi kesehatan, buka account bank, sampai ke mal menemani beli kasur tipis, selimut, bantal, gorden, dan kulkas bekas….huihh….full service dah pokoknya mah. Ceritanya, hari ahad tanggal 24 Oktober kemarin merupakan jadwal rutin maintenance tahunan untuk saluran air, listrik dan gas di semua gedung di kampus, termasuk dormitory jam 10.00 –16.00. Pengumuman dikirim 2—3 minggu sebelumnya via email, juga selebaran-selebaran yang di tempel di pintu masuk dormitory. NO WATER PERIODE, AND ALL-CAMPUS POWER FAILURE istilah mereka. Sehari sebelumnya DOWNTIME FOR NETWORK atau INTERNET OFFLINE di lab dan di asrama. Bayangin, udah kaya jamannya Flinstone, gak ada air, listrik, gas, putus hubungan dengan dunia maya… mau ngapain kan. Kerja di lab gak bisa, di asrama kalau tahan tidur seharian kedinginan ya mangga wae. Nah, Saki san menawari aku untuk jalan-jalan kemana aja terserah aku. Akhirnya dia memilihkan Arasiyama di Kyoto. Sepertinya Saki gak biasa lihat ramalan cuaca sebelum pergi, padahal teman Indonesiaku sudah telpon pagi-pagi sebelum listrik mati menanyakan apakah jadi pergi, karena ramalan hari itu akan hujan seharian katanya. Aku siap-siap bawa payung. Dan benar ! Mulai datang sampai mau pulang hujan gerimis aje…gak ada sang bangau tapi ^_^ jadi inget lagunya Bang Benyamin sama Mpok Ida Royani dah. Karena berangkat dari Nara sudah jam 11, kami sampai sekitar jam 1, lalu makan, lalu masuk ke salah satu rumah yang ternyata tempat membuat kimono. Setelah itu jalan-jalan di bawah guyuran gerimis. Akhirnya masuk waktu ashar jam 14.50 (semakin bergeser ke winter, waktu sholat semakin maju). Kukatakan pada Saki “I have to pray”. Dia tanya apa aku butuh peralatan atau bangunan khusus ? Kujelaskan aku sudah membawanya, kutunjukkan alas plastik, kompas, kaos kaki dan kaos tangan. Kebetulan ada tempat istirahat berupa tempat duduk beratap yang menyatu dengan bangunan toilet. Kuminta dia menungguku di situ, sekalian menjaga tasku, aku masuk toilet untuk wudlu. Selesai wudlu aku mengambil semua peralatan dan mencari tempat. Saki sempat bilang “It’s hard”…aku menangkap maksudnya, dia melihat persiapan aku mau sholat sepertinya susah sekali. Aku cuma senyum. Aku menemukan tempat yang kuanggap agak sepi dan Alhamdulillah kurasakan hujan berhenti. Aku sholat dzuhur dijama’ dengan ashar. Sholat khusyu bukan berarti tuli kan ya. Selama sholat terdengar orang berbicara keras-keras, sepertinya dekat sekali. Setelah selesai sholat dan berdiri sambil melipat alas, barulah aku tau, ternyata aku sholat menghadap kearah sungai Hozu yang merupakan jalur untuk boat tours. Masya Allah…hihihi…memang sewaktu melintasi jembatan tadi aku ngeliat dari kejauhan banyak boat yang disewakan. Saki juga nawarin apa mau naik boat, tapi sepertinya gak memungkinkan karena hujan. Hehe..niatnya mau nyari tempat sholat yang sepi eh ternyata malah gak sengaja dapat tempat yang dilewatin orang plesir….gomen…gomen… Memang sungainya agak turun dibanding tempat aku sholat. Pasti mereka yang melaju dengan boat dan pas lewat ngeliat aku dari kejauhan…heran kali mereka …ngapain tuh orang tunggang tungging hujan-hujanan. Tapi Subhanallaah…sepanjang aku sholat, hujan benar-benar berhenti. Selesai sholat aku dan Saki menjelajah lagi sampai daerah yang namanya Bamboo grooves…daaaaaan hujan lagi…malah semakin asoi…benar-benar unforgettable moment.