July 29, 2011

Budaya swalayan

Filed under: My Stories — ratna @ 4:45 pm

Vending machine tiket kereta

Mesin fare adjustment Mesin fare adjustment
Beli bensin Beli bensin

Seorang teman pernah mengatakan bahwa upah tenaga kerja di Jepang, mungkin juga di negara-negara Eropa sangat mahal. Swalayan adalah solusinya. Ya..vending machine berisi aneka minuman seperti teh, kopi, soft drink, air mineral, minuman isotonic, bisa kita temukan  di mana saja. Dalam jumlah yang terbatas ada pula vending machine berisi rokok. Khusus untuk rokok, tidak dapat menggunakan uang, tetapi voucher khusus yang baru dapat dibeli jika pembeli sudah berumur  di atas 18 tahun…Dan Alhamdulillah semua vending machine dapat beroperasi dengan baik, karena tak ada satu tangan jahil pun yang berusaha ‘mengakali’-nya ….(tau kan maksudku ?)

Naik bus kota, ada dua macam cara pembayaran, bisa langsung memasukkan koin sesuai dengan jarak perjalanan kita; biasanya saat naik, pintu masuk dibuka oleh supir, lalu kita ambil tiket yang keluar dari mesin. Di tiket tertera nomor, yang menunjukkan awal penghitungan tarif yang harus kita bayar hingga tempat tujuan. Sebelum turun, koin dimasukkan bersamaan dengan tiket ke boks yang ada di samping tempat duduk supir. Supir hanya mengawasi dan mengucapkan terima kasih setiap kali ada penumpang memasukkan koin dan turun dari bus….hehe…gak capek ya…kaya kaset rusak….

Oh ya cara lainnya adalah dengan membeli kartu yang bisa dibeli di stasiun kereta, kartu ini bisa diisi ulang jika sudah habis. Pemilik kartu cukup menempelkan kartunya ke scanner yang ada di dekat supir.

Mau naik kereta, bertransaksi pun dengan vending machine; bisa membayar dalam bentuk tiket sekali jalan, atau membeli kartu terusan yang bernilai 1000, 2000, atau 5000 yen. Setiap masuk peron, tiket dimasukkan ke slot masuk, nanti tiket akan keluar melalui slot di sisi dalam peron. Ketika sampai di stasiun tujuan dan akan keluar, prosesnya sama, tetapi jika tiket atau kartu kita bernilai kurang dari tarif sebenarnya, pintu penghalang akan otomatis tertutup disertai suara peringatan. Biasanya petugas stasiun sudah tau, berarti si penumpang harus melakukan “fare adjustment”. Di mesin ini kita memasukkan tiket; mesin akan menghitungkan berapa kekurangan tarif yang harus dibayar.  Di beberapa vending machine yang tidak ada tombol English version-nya kalau mau cepat, aku biasanya membeli tiket seharga 150 yen, nanti di tempat tujuan tinggal adjustment…soalnya kadang pusing baca peta jalur kereta dan mencari tau berapa harga tiketnya…hehe…trik dari teman juga tuh…

Mengisi bensin pun swalayan. Pengemudi mobil harus turun, memencet tombol berapa liter bensin yang akan dibeli, dan memasukkan nozzle ke tangki mobil. Setelah itu membayarnya di dalam bangunan yang berhadapan dengan mesin tempat pengisian bensin. Kalau di SPBU Indonesia, bangunan seperti itu biasanya untuk menjual oli, dan bahan lain untuk keperluan mobil, atau toko swalayan kecil yang menjadi satu kesatuan dengan SPBU. Kalau mau coba-coba kabur setelah mengisi bensin…bisa aja siih…tapi akan terlihat karena ada kamera CCTV …

Saat belanja di pasar swalayan, kasir akan memindai barcode harga barang belanjaan kita, lalu meletakkannya lagi di keranjang lain. Beda dengan  di Indonesia, selesai discan, barang belanjaan langsung dimasukkan ke kantung-kantung plastik oleh kasir…kadang malah ada asisten kasir. Di Jepang, setelah bayar, kita ditawari apakah mau kantung plastik atau tidak, karena sudah jadi kebiasaan orang Jepang yang berbelanja, membawa tas belanjaan dari nilon (seperti bahan  untuk payung) yang bisa dilipat. Jika kita minta tas plastik, kasir akan memberi  dua atau tiga lembar sesuai banyaknya belanjaan. Di dekat kasir berderet meja. Di situ kita memasukkan sendiri belanjaan kita, trolley dan keranjangnya harus dikembalikan di dekat pintu keluar.

Pengalaman lain adalah di kantin kampus …itu adalah kali pertamaku makan siang di Jepang. Di panel atas bench tempat serving makanan tertulis kalau kita harus beli tiket sesuai dengan makanan yang dijual pada hari itu. Terpaksa aku keluar lagi, di depan pintu masuk cafetaria  ada papan bergambar makanan; di sebelah papan bergambar itu ada vending machine, kita tinggal pilih mau makan apa. Tiket diserahkan ke waiter di dalam. Soooo…gak usah pake omong-omongan.

Kuperhatikan mereka yang sudah selesai makan, masing-masing harus mengembalikan baki di satu tempat di depan jendela dapur. Sisa makanan dibuang ke bak  penampungan, sumpit, di tempat sampah yang terpisah dengan botol plastik, sedangkan gelas, piring atau mangkuk harus dicemplungin ke bak-bak air besar yang sudah berisi sabun. Kita memasukannya lewat sebuah loket. Di balik loket yang merupakan sambungan dapur untuk memasak, ada petugas yang mengambil mangkuk-mangkuk yang terapung di bak itu, membasuhnya dan memasukkan ke mesin pengering. Jadi meja bekas tempat kita makan tetap bersih, tidak  seperti kalau kita mau makan di restoran siap saji di Jakarta, saat kita datang harus dibersihkan dulu karena masih kotor bekas pengunjung sebelumnya. Hmmm teratur banget yaaa….sebenarnya Indonesia bisa juga begitu, tapi nanti makin banyak pengangguran deh…abis semuanya self service…

Azolla si pupuk hidup

Filed under: All About Biology — ratna @ 4:39 pm

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak  15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti  karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.  

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.

Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak  70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan  terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari  0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla  akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk  kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.  Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari  dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

rice-duck-azolla system

Seorang petani di Kyushu, Jepang  T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan  dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina  dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah  azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap  3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual  (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi).  Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di  Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China). 

azolla

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama.  Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern).

(Dirangkum dari banyak sumber)

July 8, 2011

Jikken iseng

Filed under: My Stories — ratna @ 2:18 pm

Jikken = experiment (bhs Jepang) , iseng: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sekadar main-main; tidak bersungguh-sungguh. Namanya juga iseng ya nggak penting-penting amat sih, cuma karena penasaran aja. Penasaran karena dari pengamatan random, muncul pertanyaan…lalu sampai kepada hipotesis. Untuk membuktikan hipotesis harus dilakukan pembuktian. Lalu masalahnya apa ?

Latar belakang masalah, karena aku penasaran kok  2 orang temanku bisa punya model tulisan tangan yang sama, baik huruf maupun angka.

Secara tidak sengaja aku juga melihat tulisan petugas penginstall saluran gas di dormitory, yang hampir sama dengan tulisan teller bank, lalu juga tulisan petugas di City Hall bagian urusan alien card. Bahkan setelah kuperhatikan coretan tulisan Akashi Sensei pun nyaris sama juga!!

Tulisan petugas penginstall gas

Tulisan petugas penginstall gas

 

Tulisan petugas kantor pos

Tulisan petugas kantor pos

Akhirnya mulailah kulakukan pengambilan data.

Tempat jikken, Laboratory of Plant Molecular Morphogenesis, Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Nara.

Kumulai dari Saki mentorku dan Hanada yang bench-nya di sebelahku.

Agar tidak mengganggu, sampel lain kuambil jika kebetulan ada yang memang sedang ngobrol santai, sedang tidak mengerjakan apapun. Biasanya kalau sudah jam 7–8 malam. Karena di jam-jam itu mereka biasanya selesai makan malam sebelum melanjutkan pekerjaan. Reaksi pertama pasti heran saat kuminta mereka menuliskan huruf kecil a sampai j dan angka 1 sampai 10. Aku cuma senyum dan kukatakan “my second experiment”…

Lalu kujelaskan kepada mereka keherananku kenapa hampir semua tulisan orang Jepang mirip. Bahkan cara mereka membuat lingkaran (contohnya melingkari pilihan…di form-form biasanya ada piihan sex: male/female, marital status: single/married) pun sama. Lingkaran dibuat searah jarum jam, beda dengan kita yang rata-rata berlawanan arah jarum jam…iya apa iya ?

kato

Lalu untuk angka, yang sangat terlihat jelas hampir seragam angka 7 dan 9. Waktu ‘temuan’ku itu kupaparkan kepada mereka, mereka pun heran, dan baru membanding-bandingkan tulisannya sendiri dengan tulisan teman lainnya.

Waa lucu banget …

 maki harada

Gimana cara guru sekolah dasar di Jepang mengajar  menulis ya ? Jaman aku kecil sampai sekarang si Adek, masih belajar menulis huruf sambung pakai buku bergaris tiga. Hasilnya yang terbawa sampai sekarang, tulisan tidak sambung dan setiap orang beda. Ada juga yang mirip sih.

Lalu kuingat waktu pertama kali si Adek masuk les metode belajar matematika asal jepang. Waktu baru masuk, working sheet-nya sampai hampir sebulan hanya menebalkan angka 1 sampai 10 yang tercetak di lembaran angka dengan garis terputus-putus. Adek betul-betul bosan karena dia merasa sudah fasih menulis angka. Tetapi setelah berbulan-bulan barulah terlihat hasilnya: tulisannya menjadi kecil-kecil dan rapi. Awalnya, tulisan Adek besar-besar dan kurang rapi.

Mungkin seperti itu pula metode belajar menulis yang diajarkan di SD Jepang.

metode nulis

Dulu aku pernah tau bahwa katanya bentuk tanda tangan atau tulisan tangan seseorang berkaitan erat dengan karakter dan kepribadiannya. Bahkan ada orang yang bisa ‘membaca’ karakter seseorang hanya dengan mempelajari bentuk tulisannya. Nah …sepertinya ini tidak berlaku untuk orang jepang, …karena kuperhatikan karakter dan sifat teman-temanku itu sangat berbeda satu dengan yang lain, padahal tulisan tangan mereka nyaris mirip.

Tapi ada karakter umum yang melekat di semua orang jepang adalah: sangat sopan dan santun, menghargai orang lain, siap membantu tanpa diminta, tetapi tidak ingin mencampuri urusan orang lain.