February 3, 2011

facebook penting gak penting

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:34 am

twit

Ketika isu layanan BB akan diblokir santer beredar, aku termasuk orang yang tenang-tenang saja. Karena aku berpikir toh masih bisa chating via YM, masih bisa berkirim sms, dan email. Tapi sekali waktu saat sedang nonton TV, terbaca olehku di running text bahwa bulan Maret situs jejaring sosial facebook akan ditutup oleh pendirinya sendiri. Hmm..ini baru bikin rada-rada panik. Walaupun belum tentu kejadian bener, aku gak mau kehilangan semua kontak teman yang ada di facebook. Kuimpor semua email address teman yang ada di facebook ke Yahoo-ku. Jadi kalau bulan Maret beneran akan ditutup monggooo Mister Z…aku sudah save semua alamat kontak teman-temanku.

Sayang juga sebenarnya kalau FB akhirnya ditutup. Meskipun banyak pihak yang menganggap akun FB lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus kejahatan yang berbau-bau pelecehan seksual, penculikan yang bermula dari perkenalan melalui FB. Lalu kasus heboh seorang wanita yang melakukan penipuan melalui bisnis penjualan voucher yang memakan banyak korban friend-nya di FB. Tapi di sisi bagusnya banyak  yang memanfaatkan FB sebagai media promosi barang dagangan.

Buatku sendiri facebook penting gak penting. Awal aku buat akun, karena diinvite oleh temanku yang sudah lebih dulu punya. Lalu anakku yang membuatkan. Maklum deh jaman dulu agak-agak gaptek kalau soal begini-beginian.

Manfaat pertama yang kurasakan (hampir semua orang kayanya juga lah) aku bisa menemukan dan ditemukan oleh teman-teman jaman kuliah, SMA, SMP bahkan SD. Banyak yang tidak berubah, tapi ada juga yang tidak  kukenali lagi baik dari foto maupun dari namanya karena sudah sangat berubah. Terlebih kalau foto profil yang dipasang bukan gambar diri sendiri, tapi gambar anaknya, bonekanya, kucingnya, atau memakai nama yang berbeda dengan nama saat dulu kukenal mereka. Kalau ada yang mengajak berteman dengan nama dan penampilan tersamar seperti itu aku terpaksa melihat mutual friendnya. Aku tak berani menjadikannya teman kalau sama sekali tak ada mutual friendnya. Aku bukan ABG yang bangga kalau punya teman virtual 2000 orang.  Biar saja temanku cuma sedikit tapi aku mengenal mereka dengan baik. Sebagai privasi, wall, status dan semua dataku ku-setting FRIENDS ONLY yang bisa mengakses. Wallaahu a’lam kalau pren-nya pren bisa juga mengakses…asal data yang terlalu pribadi tak dipajang sepertinya tak  masalah.

Pentingnya FB yang kedua  kurasakan  dalam tugasku sebagai penasehat akademik buat 11 mahasiswaku angkatan 2006. Kasian anak-anakku itu, baru setahun aku mengasuh mereka, terpaksa kutinggal tugas belajar. Meskipun kutinggal gak jauh-jauh amat, tapi tetap butuh waktu khusus kalau ingin bertemu muka. Dan pertemuan khusus yang kami sepakati adalah saat memasuki awal semester baru sebelum pengisian IRS (Isian Rencana Studi). Pengisian IRS memang bisa dilakukan online di mana pun mereka berada, tapi tetap aku menjadwalkan agar bisa bertemu untuk berdiskusi dan mengevaluasi masalah akademik dan non akademik mereka. Kuusahakan untuk mendengarkan satu persatu laporan, ataupun curhat mereka, persis kaya dokter puskesmas keliling buka praktek ^_^

Kerepotan terjadi saat aku harus meninggalkan mereka ke Jepang 6 bulan. Akhirnya kuminta mereka membuat thread di inbox FB semacam mailing list mini yang beranggotakan 11 anak-anakku dan aku. Di thread itulah siapapun yang punya masalah tentang kuliah, ujian, proposal penelitian, seminar, skripsi, bebas menulis dan bercerita. Siapapun bisa membaca, saling bertanya, saling memberi saran, saling menyemangati, kadang-kadang juga saling meledek. Seru juga membaca pesan mereka. Kalau tidak perlu jawaban dariku aku cukup membuka thread, membaca dan kubiarkan mereka berdiskusi. Dari situ aku bisa memantau kemajuan kuliah atau kemajuan penelitian mereka masing-masing. Kalau dipikir-pikir lucu juga, padahal universitas sudah menyediakan media untuk berkomunikasi melalui suatu sistem informasi akademik berbasis internet. Tetapi  kami lebih memilih lewat FB….ketauan Pak Rektor bisa berabe nih. Gak apa-apa ya Pak, bukan saya saja lho Pak yang lebih memberdayakan FB untuk urusan akademik. Beberapa teman saya  juga sesekali buat pengumuman ujian, deadline laporan, deadline ini itu membuat DPO  or Daftar Pencarian Orang (baca: mahasiswa) di wall mereka, maka si mahasiswa yang juga jadi pren pasti baca. Jaman 10 tahun yang lalu saat aku jadi PA angkatan 2000 agak susah mau manggil mahasiswa, apalagi kalau mahasiswa di tingkat akhir.

Dari FB aku bisa tau sedang apa, dimana dan mau apa teman-temanku hanya dengan melihat statusnya.  Di bulan Oktober saat aku di Nara, seorang temanku – sebut saja Ratih namanya – mengontak aku via FB, dia akan mengikuti sebuah workshop di Kobe. Kamipun mencoba janjian bertemu. Padahal selama 15 tahun di Indonesia kami belum pernah bertemu setelah lulus kuliah. Aku di Jakarta, dia di Surabaya, ketemunya ya lewat FB.  Maka terjadilah komunikasi intens lewat FB sehari sebelum hari H. Ratih memberiku nama hotel tempatnya menginap, nomer kamar, dan nama stasiun kereta terdekat dengan hotel. So, berangkatlah aku dari Nara ke Kobe berbekal jadwal dan rute kereta serta letak hotel yang kuprint dari google map. Alhamdulillah kami bisa bertemu. Rasanya gak percaya.  Kata Ratih “Gimana ceritanya kalau gak ada FB ya Mbak…mana bisa kita ketemu…di Jepun lagi” hmmm betul Tih…untung ada FB.

Selain berita gembira seperti  hari ulang tahun, pernikahan, kelahiran, wisuda, berita duka pun banyak kuketahui pertama kali justru lewat FB. Tahun 2009 saat aku di jepang aku membaca berita duka berpulangnya dosenku, guruku Bapak Drs. Ellyzar I.M. Adil. Sebelum berangkat aku sempat bertemu beliau;  rasanya tak percaya waktu kubaca berita itu di wall salah satu mahasiswaku. Lalu tahun 2010 kemarin saat aku berada di jepang untuk kali yang kedua, kembali aku membaca berita meninggalnya dosenku yang lebih senior, Bapak Drs. Sunarya Wargasasmita. Setelah itu baru aku menerima pemberitahuan dari milis dosen. Mengirim berita via email agak ’sedikit’ repot karena kita harus memasukkan alamat yang kita tuju. Tapi “mengirim” berita melalui  FB kita cukup menulis di wall, dalam sekejap berita sudah terbaca oleh banyak orang.

Tools, bisa punya dua peran. Baik dan tidak baik.  Semua bergantung pada sang user. Kalau bijaksana dan disiplin menggunakannya, Insya Alloh peran tidak baiknya  bisa minimal. Harus kuakui FB memang “connecting people”. Selain juga bisa jadi tempat belajar gratis (pulsanya mah gak gratis ye)…aku senang punya friend yang hobi posting link religi, link edukasi, doa-doa, lagu-lagu, kalimat-kalimat bijak yang memotivasi, gambar-gambar makanan, dan tempat wisata. Dari mahasiswa dan mantan mahasiswaku aku juga bisa ‘belajar’ istilah atau apapun yang sedang trend yang kadang juga gak aku mengerti. Aku juga bisa tau sekarang mereka ada di mana, berkarya dimana.

Dan yang gak penting…..kalau aku lagi dongkol karena  jadwal kereta ngaret deui, ada tempat buat ngedumel….heheh…di tembok facebook!!