January 30, 2011

Jago karate(h)

Filed under: My Opinion — ratna @ 11:47 am

Ada anekdot, seseorang bertanya kepada temannya sedang apa dia. Sang teman menjawab: “Jago karateh”. Sang teman mengira temannya itu sekarang telah menjadi seorang pendekar yang mumpuni bela diri karate. Padahal sebenarnya dia sedang menjaga kertas, alias menjual kertas. Dalam bahasa Minang “jago karateh” artinya menjaga kertas.

Jika kita melihat arti konotatif, menjaga kertas bisa berarti menjaga agar kita tidak boros dalam penggunaan kertas. Aku ingat waktu kuliah salah seorang dosenku tiba-tiba berkata pada teman yang duduk di bangku baris terdepan. “ Wah kamu itu memboroskan kertas”. Temanku dan kami semua hanya bengong mendengarnya, lalu Pak dosen menjelaskan, karena tulisan temanku itu besar-besar, maka akan cepat menghabiskan buku, buku itu kumpulan kertas, kertas itu berasal dari kayu, untuk mendapatkan kayu harus menebang pohon, padahal pohon tidak bisa didapat dalam waktu seminggu dua minggu. Butuh waktu singkat untuk menebang pohon tapi butuh waktu lama untuk membesarkannya. Semakin banyak pohon ditebang akan berakibat  semakin terganggunya keseimbangan alam, akibatnya banjir. Waduh !! Dari tulisan besar-besar ujungnya bisa menyebabkan banjir…hehehe nakutin bener.

Tapiii..betul juga lho, jauh juga pemikiran Pak dosenku itu. Tampaknya beliau seseorang yang sangat peduli dengan lingkungan. Seyogyanyalah semua orang yang pernah belajar ilmu biologi berpikir dan peduli dengan segala sesuatu yang hidup, dengan lingkungan tempat kita hidup. Berarti semua orang dooong…karena ilmu biologi sudah dipelajari sejak SD.

Kita semua pasti pernah mendengar kata “paperless”. Sejak kita mengenal banyak urusan dalam bisnis maupun sekolah yang ujungnya pakai “e”, electronic sebenarnya saat itulah kita sudah mulai menghemat penggunaan kertas. E-mail, e-book, e-paper e-banking, dan mungkin banyak e- e- lainnya. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita berkirim surat menggunakan kertas, apakah diprint, apakah diketik pakai mesin tik, apalagi ditulis tangan…. udah tahun kuda kali. Bahkan berkirim kartu saat hari raya Idul Fitri atau hari Natal mungkin juga banyak berkurang karena orang lebih suka berkirim ucapan menggunakan SMS. Menulis cukup sekali tapi bisa dikirim ke banyak orang dengan tarif kirim murah. Malah ada yang hanya meneruskan pesan yang dikirim oleh teman. Apalagi sekarang setelah telepon seluler makin beragam fiturnya, jejaring sosial pun dimanfaatkan. Tidak perlu dikirimi satu-persatu. Tinggal tulis saja di wall facebook, maka semua teman yang jumlahnya fantastis, 200—1000 an akan bisa membaca ucapan selamat yang kita tulis. Hemat kertas, hemat pulsa, dan hemat energi (mengetik) buat si jempol ^_~

Dalam soal di atas, kita memang sudah mulai melakukan penghematan kertas. Tapi coba lihat apakah kita juga sudah bisa menghemat kertas dalam hal lain ?

Setiap akhir tahun ajaran, aku selalu menemukan buku-buku tulis anakku yang SD ataupun yang SMA, baru 1/2 yang terpakai. Mau dipakai lagi untuk tahun berikutnya tapi kok sepertinya pelit sekali. Yang namanya anak-anak selalu maunya semua baru di tahun ajaran baru, tas, sepatu, baju seragam, peralatan sekolah, dan buku. Gak tega juga kalau buku aja gak dibelikan yang baru. Tapi bagaimana dengan sisa lembar-lembar buku yang cukup banyak itu ? Akhirnya kugunting, kukumpulkan yang masih kosong, kujadikan satu dengan binder dan kujadikan catatan apa saja, mau catatan belanja, oret-oretan. Kadang kalau sudah begitu anakku juga yang pakai.

Mungkin yang lebih efisien adalah mahasiswa yang menggunakan binder berisi lembaran kertas lepasan (loose leaf). Dalam satu binder bisa memuat catatan untuk beberapa mata kuliah. Sehingga penggunaan lembaran kertas tidak perlu melebihi keperluan. Tapi di sisi lain, mahasiswa boros sekali dengan yang namanya kertas fotokopi.  Handout kuliah, fotokopi, text book, fotokopi, soal ujian dari kakak kelas, fotokopi, contoh laporan, fotokopi. Apalagi kalau fotokopi tidak bolak-balik, makin banyak ruang kosong kertas yang tersia-sia. Ada juga sih yang memanfaatkan halaman kosong fotokopian untuk mencatat materi kuliah.

Banyak juga mahasiswa yang smart, saat harus menulis draft skripsi yang memerlukan diskusi dan koreksi intens dengan pembimbing, mereka mencetaknya di kertas bekas. Mereka baru mencetaknya di kertas baru saat naskah sudah final disetujui dan di bawa ke ujian seminar maupun ujian sarjana. Mungkin mereka tidak berpikir jauh menghemat demi peduli pada lingkungan, tapi peduli dengan kantung mereka sendiri, harga kertas kan lumayan buat kantung mahasiswa. Demi penghematanpun mereka berusaha memeriksa, mengedit secermat mungkin naskah sehingga kesalahan ketik bisa minimal. Kejadiannya akan lain kalau si mahasiswa anak tajir (katanya singkatan harta banjir…anak orang kaya gitu lho), mau ngeprint menghabiskan 1 rim nggak perlu mikir.

Kebiasaan yang baik saat sebagai mahasiswa harusnya dilanjutkan saat sudah bekerja, mentang-mentang di kantor, pakai kertas milik kantor, mau ngeprint gak pernah dicek lagi, kalau salah ulang lagi. Akhirnya banyak kertas tak berguna yang menumpuk. Merasa bukan beli dengan uang sendiri, lalu menjadi boros.

Kita cenderung boros kertas karena kita tidak sadar bahwa kertas tak ‘semurah’ yang kita sangka. Industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di dunia dengan output 178 juta ton pulp, 278 juta ton kertas dan karton, menghabiskan 670 juta ton kayu. Pertumbuhan industri kertas diperkirakan antara 2% hingga 3.5% per tahun, sehingga membutuhkan kayu log yang dihasilkan dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta hektar setiap tahun. Industri kertas juga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk beroperasi. Energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kertas dalam bentuk panas dihasilkan dari pembakaran sampah padat (sisa potongan kayu) dan uap serta bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO2, NOx, dan CO2. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Sebelum akhirnya sampai di tangan kita, sehelai kertas dibuat tahap sangat panjang. Dan untuk mendapatkan sifat akhir kertas yang sesuai dengan penggunaannya, maka serat kertas mengalami proses modifikasi dan pencampuran dengan bahan kimia tertentu.  Salah satu tahap yang penting adalah proses pemutihan kertas (bleaching). Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. klor (Cl2 atau ClO2) atau hipoklorit (NaOCl) Klor digunakan karena sifat-sifatnya yang reaktif, efektif dan menghasilkan pulp dengan sifat fisik dan derajat putih tinggi. Proses pemutihan pulp kertas tidak hanya membuat pulp menjadi lebih putih atau cerah, tetapi juga membuatnya stabil sehingga tidak menguning atau kehilangan kekuatan selama penyimpanan.

Namun aspek lingkungan yang dominan pada industri pulp dan kertas justru terletak pada proses pemutihan. Hipoklorit akan membentuk kloroform dalam air. Saat proses pemutihan, klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin merupakan suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya.

Nah, setelah kita tau betapa tidak murahnya kertas, apakah kita tetap akan melakukan bussines as usual ?

Ini adalah beberapa hal nyata yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan penggunaan kertas, membudayakan paperless life style:

-Pikirkan perlu sekali kah kita membeli dan berlangganan koran konvesional, sementara banyak sudah koran ternama yang memiliki fasilitas e-paper. Kalau mau jujur, apakah kita akan membaca seluruh berita yang ada di lembaran koran ? Seringkali kita hanya membaca headlinenya saja.

-Di kantor – kantor biasakan untuk tidak mengeprint laporan atau dokumen yang ada. Biasakan membacanya melalui layar komputer langsung.

-Pergunakan LAN messaging untuk mengirim pesan singkat. Kita bisa dengan cepat meng-copy paste informasi instan yang dibutuhkan tanpa perlu mencetak, bila perlu file tersebut bisa dikirim via e-mail

-Ajak karyawan dan mitra bisnis untuk bersurat secara elektronik sebisa mungkin. Selain cepat biayanya juga sangat hemat.

-Jika harus mencetak dokumen, pastikan dokumen yang akan diprint sudah sempurna. Hindari kesalahan mengeprint ulang karena akan boros kertas, boros tinta ujung – ujungnya memboroskan uang kita.

-Digitalisasikan seluruh dokumen kita. Mesin scanner saat ini tidak terlalu mahal, tetapi jangan menggunakan scanner flatbed biasa (jika masih menyayangi kesehatan jiwa kita).

-Bagi pemilik kartu kredit ubah pengiriman billing statement kartu menjadi elektronik dan minta Bank untuk mengirimkannya melalui email daripada tetap mengrimkan hard paper melalui pos.

-Biasakan memanfaatkan e-book ketimbang buku konvensional. Harga e-book jauh lebih murah daripada buku yang dicetak di kertas.

Tentunya ada kasus tertentu yang memang butuh dokumen dalam versi kertas. Contohnya: sertifikat tanah karena jika dibuat hanya dalam format elektronik, orang-orang nakal bisa mengedit, mengutak-atik jadi ASPAL dan sulit DIJAMIN keabsahannya.

Jadi jangan anggap enteng penggunaan kertas. Pikir dua kali setiap kita akan menggunakan kertas. Apabila penggunaan kertas dapat dihindari sebaiknya lakukan itu. Dengan begitu, kita dapat membantu melestarikan BUMI demi anak dan cucu.

Reducing paper (Sumber: google)

Reducing paper (Sumber: google)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment