January 29, 2011

Alah bisa karena kepepet

Filed under: My Stories — ratna @ 9:59 am
Bento minus ayam...sedang digoreng

Bento minus ayam...sedang digoreng

Suatu siang  sesampai di rumah mataku tertuju pada sebuah boks hantaran yang ada di atas meja makan. Setelah kubaca secarik kertas yang menempel di bagian tutupnya ternyata dari tetanggaku yang syukuran berbagi kebahagiaan pasca anaknya dikhitan. Isinya nasi beserta lauk pauk, buah dan suplemen khas Indonesia: krupuk ! Melihat boks seperti itu  ingatanku melayang ke momen yang kualami 5 bulan lalu. Seminggu menjelang lebaran teman-teman sesama perantau di negeri sakura mengajakku untuk ikutan sebuah proyek amal. Caranya sangat mengasyikkan. All we have to do is cooking ! “Naah, kebetulan nih ada Bu Ratna, mau kan kalau kita ajak bantu-bantu masak ?” Wah kalau cuma masak mah hayo aja, apalagi rame-rame. Itung-itung menghalau rasa haru biru karena terpaksa menjalani lebaran jauh dari keluarga.

Tadinya kupikir cuma masak buat kami-kami warga Indonesia yang sedang studi di kampus tempat aku riset. Kalau dijumlah termasuk anak-anak, ada sekitar 30 orang. Baru ngeh kalau bakalan harus masak dalam jumlah besar pas acara belanja. Minyak goreng 6 liter, ebi furai beku 20 boks, paha ayam beku 10 kilo, nanas kalengan 20. “Emang mau masak buat berapa orang Bu Ari ?” Kita mau buat bento 200 boks Bu. Haaa ? Gubrak !!! Untung mobil yang ngangkut belanjaan kami nggak njengat ke belakang karena overload…wakakak lebay.com.

Karena aku gabung di tengah-tengah proyek, ya jadi rada-rada tulalit. Setelah diceritain barulah aku tau ternyata KMII wilayah Kansai mengadakan sholat Ied khusus untuk masyarakat Indonesia yang ada di Kobe, Kyoto, Osaka dan Nara. Untuk menjamu para jamaah di hari kemenangan itu, KMII (oya KMII itu singkatan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral RI Osaka menyediakan nasi boks berisi menu masakan Indonesia yang HALAL. Karena diperkirakan yang akan hadir hampir 1000 jamaah berarti harus disediakan sejumlah itu. Kalau di Indonesia mah itu perkara gampang, tinggal angkat telpon, pilih mau catering Bu Gito, Bu Joko, Bu Ngadiman, pilih mau paket nasi boks yang harga berapa, jumlahnya berapa, asalkan gak mendadak sehari sebelumnya pasti ok dah, cukup kasih DP 50 persen. Pokoknya asal ada uang, dijamin beres gak usah capek-capek. Lha di Jepang ? Biar kata ada uangnya, kalau gak ada yang ngerjain mana bisa ada 1000 boks nasi halal ngejogrok di depan mata ?

So,  akhirnya dibagi-bagilah tugas membuat nasi boks ke para relawan yang bermukim  di Kobe, Osaka, Kyoto dan Nara. Jatah Nara 200 boks, yang akan dikerjakan keroyokan. Menu sudah disepakati ayam goreng kalasan, ebi furai, balado teri kacang, sambel terasi, lalapannya tomat ukuran kecil, irisan kol, timun, buahnya nanas kalengan (berhubung di Jepun harga nanas fresh lebih mahal dibanding kalengan), plus kerupuk. 

Karena mayoritas kami semua punya kesibukan di siang hari, maka acara masak memasak harus dikerjakan sore sampai malam. Kami harus atur strategi yang nggak beda jauh dengan strategi perang. Aku kebagian jadi PJ (Penanggung Jawab) balado teri kacang, Bu Panji berhubung wong Jowo asli jadi PJ ayam kalasan, Bu Niswar jadi PJ nasi plus goreng-goreng ayam dan ebi, Bu Ari PJ sambel terasi, bu Riris PJ buah dan lalapan, PJ krupuk aku lupa siapa ya ?

Kami juga harus mikir mana yang harus dikerjakan duluan.  Balado teri kacang berhubung kering jadi bisa dicicil, dikerjakan 2 hari sebelum hari H. Keliatannya simple, ternyata urutannya panjang juga, goreng kacang, goreng teri, buat sambal lado, tunggu dingin, aduk-aduk setelah itu dimasukkan ke plastik ber-seal. Karena nggak ditimbang, pakai ilmu kirologi, jadi isi gak sama, yang ngerjain juga banyak tangan; baru dapat 150 bungkus eee abis. Hyaah kalau kurangnya cuma 20 plastik sih bisa bongkar pasang (hehe diambilin sedikit-sedikit dari plastik yang udah ok). Tapi karena kurangnya masih banyak,  mau gak mau buat lagi batch ke-2. Terjadi kelucuan, karena yang kebagian belanja beda-beda, teri batch ke-2 ukurannya agak-agak gigantisme. Gak kehabisan akal, setelah digoreng agak-agak dikremes, jadinya cantik juga (balado apa boneka sih kok dibilang cantik??).

Memang di rantau kita harus banyak akal selain banyak sabar. Ayam kalasan yang seharusnya pakai air kelapa untuk ngungkep disubstitusi pakai pocari sweat.  Tak ada rotan, akar pun jadi. Rasanya ya sama enaknya tuh. Tapi yang tak sengaja mensubstitusi  bahan pun ada hihihi…ada kisah nyata temenku bapak-bapak yang sedang ikut program riset juga di Ibaraki, beli minyak goreng. Sampai di asrama dipakailah untuk menggoreng. Tunggu punya tunggu…minyak bukannya memanas dan encer kok malah mengkristal dan gosong. Setelah dicicipi sa’ ndulit…kok manis ? Ternyata itu gula cair alias simple syrup…hihi..maklum deh buta huruf kanji, begitu lihat ada yang penampakannya mirip minyak goreng kuning dan kentalnya langsung aja comot. Kuledekin…mau nggoreng apa mau buat puding caramel pak ? Temanku yang lain, bapak-bapak juga, di Kyoto, ceritanya mau nggoreng ikan asin bawaan dari Indonesia. Setelah ‘minyak’ dituang ke penggorengan, ditunggu panas, ikan asin dimasukkan, bukannnya garing dan menguning keemasan, si ikan kok malah mengembang dan pletok-pletok. Pas dicicipi dan dibaui, ternyata itu teh dalam botol plastik kemasan besar. Lha kok bisa….?

Kalau pengalamanku, belanja dengan teman yang sama-sama short-term stay (bukan student yang lebih pinter baca tulisan kanji), mau nyari gula pasir, ketemu, kami menimang-nimang kemasan yang kami duga gula; tapi perasaanku kok gak enak (cieee sok kaya paranormal aja). Mbak Ila temenku bilang “Bu Ratna, kalau ini gula pasir kenapa ada gambar kepulauan Jepangnya ya ?”  Hmmm iya ya…akhirnya penasaran aku cari lagi di rak lain. Bingo ! Ketemu deh bungkusan yang gambarnya sendok. Setelah kami jejerkan, tampilan gula pasir sama ‘gula pasir’ yang ternyata garam itu sama putihnya, sama besar butirannya. Yang beda cuma kemasannya. Kemasan garam agak kecil. Huah..kalau sempet kebeli itu garam, biarpun diwariskan ke temen yang long-term stay, sampai lulus  gak abis-abis deh. Lha wong garam jepang itu uasssiiiin ne rek. Pake sedikit aja udah asin buanget….dikirain mau kawin ntar.

Voila ! Akhirnya sampailah kami di malam takbiran. Kami janjian mulai masak ba’da Isya setelah selesai kerjaan di lab masing-masing. Markas besar dapur umum ada 4 tempat di kamar asrama yang tipe family. Aku kebagian tugas goreng ebi furai 10 pak @10 potong = 100 ebi. Di tempat lain ada yang kebagian goreng ayam kalasan dan ebi juga. Perkara nasi semua kebagian tugas dengan mengerahkan semua rice cooker yang ada. Masaknya aja beberapa kloter karena sebagian besar rice cooker kapasitas kecil. Kami berdelapan menyiapkan 200 boks yang sudah harus siap jam 6 pagi tanggal 1 Syawal karena perjalanan dari Nara ke Kobe tempat sholat Ied dengan mobil 1,5 jam lewat tol. Serasa Bandung Bondowoso yang ditantang Loro Jonggrang untuk buat 1000 candi aja deh.  Alhamdulillah pekerjaan bisa 80% selesai sampai tengah malam. Lalu dilanjutkan sekitar jam 3 pagi menata semua isi dalam boks bento. Beberapa kepanikan kecil terjadi karena sempat kekurangan sambel, kekurangan nasi.  Kira-kira jam setengah 7 pagi 200 boks bento selesai dipak, dan kami pun berangkat  menuju Kobe.

Alhamdulillah rasanya lega sekali sudah berhasil mengerjakan tugas mulia, berat tapi menyenangkan. Bu Panji sebagai pimpro berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah gotong royong memasak. Aku kagum pada semua teman-temanku itu, baik yang membawa keluarga maupun yang jomblo lokal; dalam urusan masak memasak menurut pengakuan mereka statusnya dari zero become hero. Zero karena pertama kali merantau dan tinggal di asrama nggak bisa masak sampai akhirnya pada lihai-lihai memasak segala menu masakan Indonesia. Maklumlah selezat-lezatnya masakan jepang, tak bisa mengalahkan kerinduan akan masakan Indonesia.  Jadi bermodalkan koneksi internet yang nggak lumrah (cepatnya),  resep masakan apapun bisa segera dicari. Lihat di lemari es ada bahan apa, bingung mau masak apa, langsung cari resep di internet, gak usah diprint, bolak-balik aja dari kompor ke laptop ke talenan…hehehe…lha wong dapur sama tempat tidur cuma dua langkah jaraknya. Kamar ukuran ringkes.

Temanku itu ada yang mengaku awalnya sama sekali tidak bisa memasak, tapi setelah setahun mendampingi suami  tugas belajar, jangankan cuma ayam goreng, masak rendang, mie ayam, bakso, rawon, roti, pizza dan cake pun hayuh monggo. Di Jepang bukannya tidak ada yang jual cake, roti, pizza, mie goreng…ada…tapi seringkali banyak “ranjau”nya yang menjadikannya tidak halal. Mau tak mau harus masak dan buat sendiri. Saat halal bihalal dalam rangka lebaran iedul Fitri, kami berkumpul dan makan bersama juga masak bersama, dengan menu khas lebaran lengkap dengan ketupatnya. Berhubung tidak mungkin mendapatkan daun kelapa dipakailah aluminium foil sebagai pembungkus beras yang dimasak menggunakan slow cooker semacam rice cooker. Seperti kata pepatah ” Alah bisa karena biasa“….mudah-mudahan aku nggak kualat  kalau memelesetkannya menjadi “ Alah bisa karena kepepet”

Tak ada yang tak bisa kita kerjakan asal kita mau mencoba. Itu yang selalu kutekankan pada kedua anakku. Jangan nyerah sebelum mencoba. Dan nggak perlu nunggu sampai kepepet juga kali ya.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment