January 29, 2011

84H4SA Y4NG M3MBINGUNGK4N

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:35 pm
ibu, aku ud ngasi draft kasar k pembimbing 1 bu, biar bs d perbaiki scepatny..hehe
ibu, aku blm tw mw up kpn,pgn ny si juni akhr bu,tp ga tau klw mundur lg,blm brani memastikn hehe doain aj bu,biar cpet maju..

oia,mw nanya,ttd bu ratna yg d scan itu,d print aj trs tempel d berkas yg musti ad ttd PA nya,atau d apain y?
btuh info nih..
thx b4

 Hmm…entah sejak kapan bahasa Indonesia jadi ajaib seperti itu. Seingatku waktu jamannya telepon seluler belum secanggih sekarang sehingga tidak banyak fitur-fiturnya selain hanya layanan SMS (Short Message Service), bahasa tulisannya masih ‘sopan’. Maksudnya kalaupun harus menulis dibatasi hanya 150 karakter untuk sekali pengiriman sms, umumnya orang masih menggunakan singkatan yang umum dan sudah dikenal sejak dulu. Contohnya yg = yang, dgn = dengan, utk = untuk, bhw = bahwa, bkn = bukan.   

Lalu kecenderungan yang terjadi sekarang, makin banyak singkatan yang tidak berpola. Dan semakin pusing membacanya. Beruntung otak kita adalah otak buatan Tuhan yang kapasitas dan kemampuan interpretasinya sangat bagus, Subhanallaah…

Komputer yang canggih aja, untuk membaca sebuah file harus punya software yang cocok. Kalau nggak, yang keluar cuma kotak-kotak.

Aku pernah dapat postingan menarik:

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa per ktaa.Laur bisaa kan? Sdaar aatu ngagk klaian brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag batrantn

Hehe itu memang contoh ekstrim. Kalau aku dapat sms seperti itu nggak bakal aku jawab deh. Sekarang ini setelah ponsel semakin canggih, bisa berkirim SMS, MMS, bahkan e-mail yang bisa kita pakai untuk menulis dengan lebih leluasa jumlah karakternya, eeee kok malah makin hemat nulisnya. Lihat aja tuh sms mahasiswaku di atas (kira-kira yang nulis ngerasa nggak ya ?) : aku blm tw mw up kpn

Kalau hanya digunakan dalam situasi informal dalam pergaulan sepertinya nggak akan menjadi masalah. Yang akan menjadi masalah kalau kebiasaan menulis seperti itu terbawa ke situasi formal seperti sekolah atau kantor. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bapak-bapak dan ibu guru di SMP, SMA jika harus memeriksa ulangan murid-muridnya dan membaca tulisan bak bahasa planet atau bahasa Rusia yang penuh dengan huruf mati. Terlebih kalau ulangan atau ujian dalam bentuk esai bagi siswa SMA ataupun mahasiswa. Terkadang dalam ujian yang harus menjelaskan sesuatu, kita menuangkan apa yang ada di otak kita ke dalam tulisan. Apa yang ada di pikiran kita itulah yang kita tulis. Lha kalau sehari-hari sudah terbiasa menulis dengan sistem sms yang singkat dan padat, bukan tidak mungkin secara refleks, tidak disengaja itulah yang akan ditulis oleh tangan di kertas ujian. Ah mudah-mudahan ini hanya kekuatiranku saja yang berlebihan.

Sampai saat ini aku belum mendengar keluhan dari teman-temanku sesama dosen tentang pengalaman mereka saat harus memeriksa kertas ujian mahasiswa. Kemungkinan pertama, mahasiswa masih sopan dan tau aturan bisa mengubah saklar ON dan OFF di otak dan tangannya, jadi saat berkirim pesan di akun facebook atau twitter atau sms dengan peer group-nya, mereka pakai bahasa ajaib itu. Tapi saat harus menulis jawaban ujian, menulis laporan, menulis makalah, naskah skripsi, tombol ON untuk bahasa Indonesia lengkap dengan EYD-nya lah yang menyala.

Kemungkinan kedua, teman-temanku para dosen itu sudah beradaptasi dengan tulisan ajaib para mahasiswa.

Aku sering mendengar anakku yang masih dalam masa-masa ABG sering sekali menyebut alay. Waktu kutanya “apa tuh Mal artinya ?” Ya pokoknya yang norak-norak gitu Ma. Setelah kutanya lagi norak yang bagaimana, anakku bingung juga menjawabnya. Pernah suatu kali waktu kami jalan berdua, kami melihat segerombolan pelajar SMA bercelana abu-abu tetapi dengan pipa celana yang ketat seperti celana jeans model pencil istilah anak-anak sekrang. Masya Allah..seragam sekolah mestinya ada pakemnya…lha kok dibuat seperti legging. Mendadak anakku bilang…”nah itu namanya anak alay Ma”.

Belakangan aku dengar itu singkatan dari anak layangan.

Nah sekarang ada lagi istilah bahasa alay yang selidik punya selidik ternyata bahasa dengan tulisan atau kata yang mengkombinasikan antara huruf dan angka. Aku jadi ingat dengan plat nomor polisi yang bisa dibaca sebagai sebuah kata. Gosipnya polisi akan merazia dan mengenakan denda Rp 300 ribu pada pemilik mobil yang menggunakan nomor cantik itu. Hmm…tidak ada asap kalau tidak ada api. Yang ngeluarin nomer kan polisi ? Hehe mungkin polisi takut pusing bacanya kali kalau di jalan tiba-tiba harus menyemprit mobil yang melanggar rambu lalu lintas. Bukannya lebih gampang dikenali kalau nomor polisi bisa terbaca dengan jelas.

Memang kreatif dengan nyleneh hanya beda tipis. Kadang-kadang sesuatu yang lurus, taat kaidah  menghasilkan keteraturan, keseragaman yang sifatnya monoton. Sebaliknya ketidakteraturan kebebasan akan melahirkan kreativitas. Semua sah-sah saja asalkan masih berada dalam koridor yang benar.

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment