January 24, 2011

Escorting jatropha freak

Filed under: My Stories — ratna @ 11:30 am

IMG_6166Di hari pertama datang ke lab, aku disambut dengan ‘tugas mulia’. “Bu Ratna, hari rabu bisa kan jemput Sensei dan rombongan di bandara ?” Sebenarnya berita ini bukan berita baru. Dua minggu sebelum aku kembali ke tanah air teman se-labku di sana juga mengabariku. “Mbak, tadi Yokota Sensei ndatengin aku dan bilang minta dijemput tanggal 5 Januari di hotel bandara.”
Maka jadilah aku jam 9 sudah di Airport Jakarta Hotel yang ada di terminal 2F. Belum sampai di meja resepsionis, aku di”sambut” Sensei yang menghampiriku. “Welcome to Jakarta”…wahaha…bisa becanda juga dia, mudah-mudahan bukan bermaksud menyindir, karena perjanjiannya jam 9.30 berangkat menuju Bogor. Lalu beliau memperkenalkan aku kepada semua anggota rombongan yang berjumlah 17 orang, tidak semua dari NAIST; ada peneliti dari Kasertsart Univ, Ryukyu Univ dan Riken.

Dalambus di  perjalanan menuju Bogor aku sempat duduk di sebelah Yokota Sensei, berbasa-basi sebentar lalu beliau berkata “Sorry I have to prepare my presentation”, berarti dia sudah ingin mengakhiri percakapan dan mulai asyik dengan laptopnya. Bengongku gak berlangsung lama karena Akashi Sensei yang duduk di seberangku tiba-tiba bertanya pohon apa yang ada di sepanjang tepi jalan tol Wiyoto Witono. Kujelaskan itu adalah mangrove. Hingga menjelang masuk Bogor aku betul-betul seperti orang yang diwawancarai oleh Sensei. Beliau bertanya banyak sekali mengenai kondisi lab dan risetku, dengan permintaan terakhir dia minta diantar melihat lab dan rumah kaca.  

Sebenarnya tugasku mengawal rombongan sampai di hotel sudah selesai, dan aku bermaksud pamit untuk ketemu besok lagi, tetapi Yokota Sensei mengajakku untuk ikut lunch bareng. “Please have a lunch with us, I treat you. I want you to tell me about Indonesian food.” Hmm sepertinya gak cuma sekadar makan, mungkin ada yang ingin dibicarakan. Aku dan Yokota Sensei memesan Soto Bandung, Akashi Sensei pesan mie goreng.
Sambil menunggu pesanan terjadi percakapan berkisar makanan Indonesia, emping melinjo, kecap asin dan kecap manis, belut, sampai soal petani di Indonesia yang bisa panen padi 3x setahun. Mereka heran karena di Jepang tanam padi hanya bisa 1x setahun. Selesai makan aku pamit, Sensei bertanya “Would you join us to the jatropha field tomorrow ?”. Setelah kujawab ya, mereka berucap “See you” dan masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk collaboration meeting dengan tim Jatropha Indonesia.
 
Pagi berikutnya, aku sampai di lobby hotel, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan ketua rombongan sebagai jam berangkat. Tak berapa lama kemudian hampir semua anggota rombongan sudah berkumpul di lobby. Bus carteran sudah sejak pagi parkir di halaman hotel. Jam 8 kurang 10 menit bus meninggalkan halaman hotel. Aku duduk di kursi terdepan bersama Pak Adi sebagai penunjuk jalan. Tujuan kami adalah Kebun Percobaan Jarak di Pakuwon Sukabumi.
 
Ada pemandangan menarik. Kulihat Yokota Sensei duduk memangku setumpuk sertifikat yang harus ditanda tangani dan dicap yang akan dibagikan untuk peserta seminar besok. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 200 lembar. Hyuh tega bener panitianya. Memang tadi sebelum naik bus, Sensei berkata padaku “ I had a homework to do “ sambil menunjukkan map plastik ber-zipper yang beliau jinjing. Kalau di luar jendela ada yang menarik, beliau jeda sejenak dan melihat ke luar. Kalau pas macet beliau kerja lagi. Karena beliau duduk selang satu bangku di belakangku jadi aku bisa dengan leluasa mencuri pandang, memonitor apa yang sedang beliau kerjakan.

Perjalanan mulai menyebalkan karena beberapa kali melewati pasar. Macet. Selain itu di depan kami berderet juga truk-truk yang mengangkut entah apa sehingga makin memperparah antrian. Mudah-mudahan jepun-jepun itu sudah pernah mendengar sebelumnya bahwa di Indonesia yang namanya macet itu sudah biasa. Kalau nggak macet malah luar biasa. 
 
Jam 10 lebih sedikit kami sampai di tujuan. Kompleks Kebun Induk Jarak pagar di Pakuwon ini ternyata menempati area yang sangat luas, ada kantor administrasi, ada wisma, musholla dan tempat workshop yang masing-masing berupa bangunan yang terpisah. Kami semua digiring ke tempat workshop oleh penanggung jawab Kebun. Kebun Induk ini berada di bawah naungan Dep. Pertanian. Karena kunjungan kami sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya pihak Kebun sudah mempersiapkan semuanya.

Tanpa banyak prolog dimulailah penjelasan tentang tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang sejak sepuluh tahun terakhir menjadi tanaman paling top – dibicarakan oleh kalangan peneliti, pengusaha, di hampir seluruh dunia sebagai kandidat penghasil biodiesel, biosolar – karena bersifat renewable fuel menggantikan fossil fuel yang suatu saat akan habis disedot dari perut bumi.  Bahkan pemerintah mengeluarkan undang-undang/kebijakan tentang pengembangan bahan bakar nabati khususnya jarak.
 
Penjelasan menggunakan bahasa Indonesia yang langsung ditranslate oleh ketua rombongan. Jepun-jepun itu yang semuanya adalah dosen dan peneliti mendengarkan dengan seksama. Penjelasan paling menarik buat mereka adalah informasi kapan buah jarak matang fisiologis sebagai benih, kapan buah matang untuk dipanen sebagai penghasil minyak, berapa lama viabilitasnya, pada suhu berapa benih tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Aku tau ini dari Dr. Kajikawa peneliti yang sedang menjalani post doc di lab tempat aku riset di Nara kemarin. Menurut dia, sampai dengan saat ini informasi semacam itu masih sulit diperoleh dari publikasi ilmiah internasional. Lucu juga sih, penelitian hebat-hebat yang mengulik sampai ke tingkat molekular sudah sangat maju, tapi penelitinya sendiri masih banyak yang belum tau bagaimana kondisi A – Z si jarak ini di lapangan. Bisa dimaklumi karena jarak sebenarnya tanaman daerah tropis. Di Jepang jarak bisa tumbuh sampai fase generatif (menghasilkan buah) hanya di pulau Okinawa. Di tempat lain bisa tumbuh tapi tidak bisa berbuah.
 
Mereka makin kagum pada sesi demo pengepresan biji jarak sampai mengeluarkan cairan minyak kasar. Mungkin mereka harus mengakui kepiawaian peneliti Indonesia, bahwa hanya dengan mesin sederhana rancangan peneliti di Kebun ini bisa ‘dipanen’ minyak jarak setelah dimurnikan lagi dengan alat penyulingan. Selain produk berupa minyak, by product-nya pun dipajang di tempat workshop. Sisa pengepresan yang disebut seed cake atau bungkil yang masih mengandung sedikit minyak dibuat menjadi briket bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku. Tungku khusus pun sudah dirancang dan dibuat. Kulit buah yang ditampung dalam bak besar setelah diolah dan diberi tambahan bahan lain digunakan untuk pakan kambing yang dipelihara di kandang yang terletak di area kebun juga. Subhanallaah…selama ini yang kutau tidak ada bagian dari tanaman jarak yang bisa dikonsumsi dalam artian bisa dimakan karena mengandung racun.
 
Aku sempat berkeliling dan melihat-lihat produk hasil buatan peneliti yang dipajang. Ternyata yang diolah bukan hanya biji jarak, ada juga minyak kelapa sawit, minyak kemiri, nyamplung, pometia (matoa). Di satu meja aku melihat lampu teplok yang jadul banget, inget lampu di rumah Mbah Putri di Jogja jaman aku SD dulu. Aku juga ingat Ibuku pernah cerita kalau di jaman penjajahan Jepang semua orang di desa disuruh nanam pohon jarak untuk diambil minyaknya untuk penerangan lampu teplok karena harga minyak tanah mahal. Mungkin itu sebabnya hampir di seluruh Indonesia tanaman ini mudah ditemukan sebagai tanaman pagar…dan nama lokalnya pun jarak pagar. Selain ada pula yang namanya jarak kepyar, jarak ulung, jarak bali. Ternyata sejak dulu wong jepun pinter ya…makanya bisa ngejajah bangsa kita.
 
Kunjungan diakhiri dengan foto bersama. Acara berikutnya adalah makan siang. Sebenarnya ada permintaan dari rombongan untuk makan siang di resto Rindu Alam, karena Sensei pernah makan di sana mungkin terkesan dengan suasana dan makanannya. Tapi rasanya mustahil bisa sampai di sana dalam waktu 1 jam. Rundown acara di atas kertas memang mengalokasikan 1,5 jam di Pakuwon tapi kenyataannya molor jadi 2 jam. Akhirnya berhubung sudah jam 12, diputuskan makan di rumah makan lain. Seketemunya aja, kata ketua rombongan. Alhamdulillah nemu restoran yang cukup representatif yang menghidangkan menu masakan Indonesia, tempatnya juga bernuansa tradisionil…
 
Aku diminta menginventaris minuman apa yang akan dipesan oleh anggota rombongan. Agak repot karena daftar menu berbahasa Indonesia. Waktu kubacakan ada jus markisah mereka bertanya “what kind of fruit is markisah ?” Setelah kujelaskan, cukup banyak yang ingin mencoba. Beberapa ada yang memesan jus jeruk, dan air putih saja. Tapi umumnya mereka minta jus tanpa es.  Setelah kupikir-pikir mereka mungkin takut sakit perut kalau minum air mentah. Beda lah dengan di Jepang yang bisa minum langsung air dari keran.
Setelah tugasku selesai memesan menu dan minuman, aku izin sholat. Selesai sholat kulihat mereka sudah mulai makan. Beberapa yang duduk di dekatku menanyakan “what is this ?” waktu mau makan tempe goreng. Wah ada juga yang belum tau tempe ya. Padahal kelompok peneliti Jepang di Univ. Osaka ada yang sudah meneliti kandungan antioksidan pada kedelai yang sudah difermentasi menjadi tempe lho.
 
Yang lucu lagi, baru aja aku selesai menjelaskan dan baru mau bilang hati-hati dengan cabe yang pedas sekali…ee si Sensei main masukin aja cabe rawit utuh yang disediain di piring ke mulutnya. Kulihat mimik mukanya biasa aja sih…tapi dia bilang…”karai..” terus cepet-cepet minum. “Oh sorry Sensei, I just want to say it’s very hot.” Wakakak…gerakannya lebih cepat dari pada kata-kata yang akan kukeluarkan. Tapi emang dasarnya pengen tau ya, si Sensei yang satu lagi dia ambil terong bulat dari piring yang berisi lalapan trus dia tanya, ini apa. “It’s an eggplant”. Dia heran karena terong yang biasa dia makan di Jepang yang panjang ungu.  

Yokota Sensei sebenarnya menawarkan ke ketua rombongan supaya bill dibayar sharing, karena jumlah orang jepang jauh lebih banyak dalam rombongan. Tapi ketua rombongan menolak dan ingin mentraktir sebagai penghormatan dari  tuan rumah. Denger-denger sih wong jepun emang gitu, di budaya mereka jarang ada istilah traktir mentraktir, apa-apa ya bayar sendiri. Aku ingat beberapa kali pergi dengan Saki san meskipun judulnya dia nganterin aku pergi, tapi kalau mau kutraktir dia gak pernah mau. Selalu “betsu-betsu (separate)…mirip ya sama istilah kita BS-BS (bayar sendiri sendiri).
Tujuan berikutnya adalah kebun teh Gunung Mas. Kami harus melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. Dan ternyata kemacetannya jauh lebih parah dari pada tadi pagi. Bus benar-benar berhenti jegrek di jalan.  

Jam setengah lima sore baru kami sampai di Gunung mas, padahal tadi berangkat jam setengah dua dari Sukabumi. Rombongan cuma berjalan sekitar setengah jam menyusuri area perkebunan PT Gunung Mas yang merupakan daerah agrowisata. Jadwal di atas kertas sebenarnya setelah lunch di Rindu Alam dan jalan-jalan di kebun teh adalah PULANG ke Bogor. Tapi melihat antrian mobil yang turun menuju Jakarta dan Bogor juga gila, akhirnya diputuskan sebelum balik ke Bogor makan malam dulu di Rindu Alam.

Di Rindu Alam karena sudah magrib dan berkabut tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Acaranya ya langsung makan. Kami duduk terpisah menjadi 4 meja. Sementara menunggu pesanan datang, pramusaji restoran menyuguhkan berbagai kue basah jajan pasar seperti lemper dan getuk lindri. Ternyata rasa getuk lindri pas di lidah mereka sebab tidak terlalu manis. Begitu pula teh tawar yang disuguhkan seperti umumnya di restoran ala Sunda. Mereka justru tidak suka rasa teh yang terlalu manis. Sebelum makanan datang kulihat Yokota Sensei sebagai pimpinan rombongan Jepun mengumumkan sesuatu, tapi karena dalam Nihonggo aku ga ngerti apa artinya. Di akhir acara makan barulah aku ngeh, ternyata untuk acara makan itu bill dibayar oleh pihak jepun dibagi rata 17 orang…hihihi…kirain dibayarin semua sama Yokota Sensei. Yang ditugasi mengumpulkan uang Kajikawa san yang duduk di depanku. Aku geli ngeliat semua anggota rombongan nyaris serempak buka dompet dan mengeluarkan uang sejumlah Rp 60 ribu. Ada yang nyerahin pecahan 100 ribuan, ada yang 50 + 10 ada yang 50 + 20. Jumlah bill sekitar 1 juta rupiah…
Akhirnya setelah sekitar 15 menit mengumpulkan uang dan mencocokkan dengan jumlah bill, Kajikawa menyerahkan uangnya ke ketua rombongan untuk dibayarkan ke kasir. Kajikawa bilang “Your government have to redenominated the currency.” Hahaha..kebanyakan nol nya dia bilang. Bener juga siy terlalu banyak nol dan terlalu banyak pecahan uang. Secara psikologis kalau belanja pakai yen waktu di Jepang enteng aja, karena dalam yen 2 nol di rupiah ngglinding. Begitu di rumah dihitung dan dikonversi ke rupiah baru timbul rasa bersalah. Buset belanjaan gue kenapa jadi segitu mahalnya yah ?  Gimana ya nanti kalau pemerintah Indonesia beneran jadi menerapkan redenominasi ? Bisa-bisa makin konsumtif karena ngerasa harga barang tiba-tiba jadi “lebih murah”, sementara penghasilan tetap. Uhmm…yah itu dipikirin nanti aja kali yee.
Yang terpikir olehku saat itu adalah ..jam berapa kami semua sampai di rumah kalau jam 19.30 masih di Puncak ? Perkiraanku ga meleset jauh, jam 9 kurang seperempat kami tiba di hotel. Kami berpisah untuk bertemu lagi besok di acara half-day-seminar dengan audience lebih banyak dosen, peneliti, dan mahasiswa.IMG_6162

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment