January 1, 2011

SUWEG, umbi-umbian berpotensi yang belum populer

Filed under: All About Biology — ratna @ 9:32 pm

Indonesia merupakan negara mega diversity dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brazilia, yang diperkirakan memiliki 10% dari flora dunia dan sebagian besar keanekaragaman hayati tersebut tersimpan dalam hutan hujan tropis Indonesia. Akan tetapi hingga kini, eksploitasi sumber daya hutan hanya berorientasi pada kayu, padahal produk hasil hutan bukan kayu dapat dijadikan salah satu potensi yang dapat menjadi penghasilan masyarakat di sekitar hutan.

Perum Perhutani di beberapa daerah telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat lokal sekitar hutan untuk memanfaatkan tanaman liar dari marga Amorphophallus (keluarga iles-iles) yang salah satu jenisnya lebih dikenal sebagai bunga bangkai (corpse flowers) yaitu  Amorphophallus titanum. Suweg, iles-iles dan porang yang tergolong ke dalam suku talas-talasan oleh beberapa kalangan industri makanan dan  suplemen kesehatan mulai dilirik sebagai bahan baku karena kandungan gizinya. Kelebihan lain dari tanaman tersebut adalah kemapunannya hidup di bawah naungan. Dengan sifat tumbuh yang jarang dimiliki tanaman budidaya lainnya, maka sebagai lahan penanamannya dapat memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan.

Produksi biomassa tanaman termasuk bagian yang bernilai ekonomis (bagian yang dipanen) tersusun sebagian besar dari hasil fotosintesis. Sementara radiasi matahari, sebagai sumber utama cahaya bagi tanaman, menjadi salah satu syarat utama kelangsungan proses fotosintesis. Pengaruh dari radiasi matahari pada pertumbuhan tanaman dapat dilihat sangat jelas pada tanaman yang tumbuh dibawah naungan. Pertumbuhan tanaman di bawah naungan semakin terhambat bila tingkat naungan semakin tinggi. Apabila semua faktor pertumbuhan tidak terbatas, tingkat pertumbuhan tanaman atau produksi biomasa tanaman pada akhirnya akan dibatasi oleh tingkat energi radiasi matahari yang tersedia.

Dalam sistem agroforestri, keberadaan tanaman utama dari jenis tanaman tahunan (pohon) akan mengurangi tingkat radiasi yang diterima oleh tanaman sela khususnya dari jenis tanaman setahun (semusim) seperti tanaman pangan yang tumbuh di antara tanaman utama. Keadaan ini berhubungan dengan habitus tanaman utama yang tinggi,  dan tajuk yang lebat sehingga menghalangi pancaran radiasi yang jatuh pada tanaman sela di sekitarnya. Semakin tinggi habitus tanaman pelindung dan semakin lebat (padat dan besar/lebar) tajuknya, semakin sedikit radiasi yang dapat diterima tanaman sela. Tingkat penetrasi radiasi dapat dimaksimumkan dengan pengelolaan tanaman yang tepat: meliputi pengaturan jarak tanam, ukuran kepadatan tanaman, dan manipulasi pertumbuhan tanaman seperti pemangkasan tajuk. Dalam kaitannya dengan usaha pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan untuk penanaman tanaman sela, harus dipertimbangkan lahan tegakan pohon jenis tertentu yang sesuai dengan sifat tanaman sela yang akan ditanam. Penelitian Murniyanto (2005), berhasil mengidentifikasi 5 jenis tanaman umbi-umbian herba tegak yang paling toleran hidup di bawah tegakan jati yaitu Xanthosoma sagittifolium, Colocasia esculenta, Maranta arundinaceae, Canna edulis dan Amorphophallus campanulatus.

Jenis tanaman yang disebut terakhir merupakan salah satu dari jenis-jenis Amorphophallus yang  berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif selain padi. Hingga saat ini masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa jenis tanaman tertentu sebagai sumber karbohidrat seperti padi, jagung, gandum, sagu dan umbi-umbian. Dan belum semua umbi-umbian dimanfaatkan dan dikembangkan, contohnya ganyong, suweg, ubi kelapa dan gembili. Pengembangan umbi-umbian sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan baku industri berbasis  karbohidrat dapat meningkatkan nilai ekonomi umbi-umbian tersebut.

Di negara lain seperti Jepang, umbi Amorphophallus yang telah dimanfaatkan antara lain A. oncophyllus, A. rivierii, A. bulbifer dan A. konjac yang dikenal sebagai elephant foot yam, sweet yam, konjac plant. Di Indonesia jenis-jenis tanaman tersebut dikenal dengan nama daerah suweg, porang, walur, dan iles-iles yang morfologinya sangat mirip satu dengan lainnya.

konyaku potatoKelebihan umbi suweg adalah kandungan serat pangan, protein dan karbohidratnya yang cukup tinggi dengan kadar lemak yang rendah. Nilai Indeks Glikemik (IG) tepung umbi suweg tergolong rendah yaitu 42 sehingga dapat menekan kadar gula darah, dapat digunakan untuk terapi penderita diabetes mellitus (Faridah, 2006). Konsumsi serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Masyarakat Philipina telah memanfaatkan tepung umbi suweg sebagai bahan pembuat roti. Selain dibuat menjadi tepung, umbi suweg dapat dimakan sebagai sayur, kolak, dikukus, dibuat menjadi bubur, nasi ” tiwul ” suweg, atau sebagai obat sembelit (Heyne, 1987). Tidak menutup kemungkinan suweg diolah menjadi tepung yang dapat menggantikan kedudukan tepung terigu sebagai bahan baku roti. Tepung suweg merupakan hasil olahan dari gaplek suweg.

Proses pengolahan umbi suweg ( Amorphophallus campanulatus Bl) dilakukan dengan pengeringan terlebih dahulu. Caranya, umbi yang dicabut dari dalam tanah dibersihkan, dikupas dan di cuci dengan air bersih. Selanjutnya umbi suweg diiris tipis-tipis dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50 °C selama 18 jam. Kemudian diblender dan diayak sampai diperoleh ukuran tepung 60 mesh. Tepung kemudian dapat dikonsumsi melalui berbagai macam cara pengolahan.

Umbi jenis lain adalah porang, A. oncophyllus. Umbi porang sangat besar, tebalnya dapat mencapai 25 cm, memiliki kandungan glukomanan cukup tinggi. Glukomannan adalah polisakarida yang tersusun atas glukosa dan manosa. Di kawasan Asia Tenggara jenis Amorphophallus penghasil glukomanan yang dikenal dengan konjac plant terdiri dari beberapa jenis yaitu A. rivieri, A. bulbifer, A. konjac. Umbi porang mengandung kristal kalsium oksalat yang jika dimakan mentah akan membuat mulut, lidah dan kerongkongan terasa tertusuk-tusuk. Untuk menghilangkannya, umbi porang dapat dimasak atau dengan mengeringkannya. Bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan rematik, arthritis, gout, dan batu ginjal harus menghindari makanan ini. 

Manfaat porang banyak sekali terutama dalam industri obat dan suplemen makanan, hal ini terutama karena sifat kimia tepung porang sebagai pengental (thickening agent), gelling agent dan pengikat air. Glukomannan saat ini dijadikan suplemen pangan yang dikonsumsi penderita diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, sembelit, dan penurun berat badan. Di Jepang umbi diolah dengan cara dimasak dan dilumatkan untuk mendapatkan pati, kemudian dipadatkan menggunakan air kapur menjadi gel yang disebut ‘Konnyaku’, maupun olahan berbentuk lempengan nata de coco, dan shirataki (seperti mi). Kedua penganan tersebut merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Karena kemampuannya membersihkan saluran pencernaan tanpa bersifat laksatif, memiliki kandungan air tinggi serta rendah kalori, porang digunakan sebagai diet food di Amerika.  Manfaat lain porang adalah sebagai lem, film, penguat kertas, pembungkus kapsul, perekat tablet.

konnyaku05Peluang pasar suweg dan porang sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.  Untuk pangsa pasar dalam negeri, umbi digunakan sebagai bahan pembuat mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan. Pengiriman dilakukan setiap 3 bulan dengan hanya mengandalkan perburuan di alam.

Untuk pangsa pasar luar negeri, masih sangat terbuka terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa. Eksportir porang hanya mensyaratkan umbi kering dan bersih dari cendawan. Sampai saat ini, permintaan pasar akan tepung suweg, porang dan iles-iles tidak dapat terpenuhi. Data statistik menunjukkan pada tahun 1991 volume ekspor mencapai 235 ton dengan nilai 273 ribu dolar Amerika (Sufiani, 1993), sedangkan pada tahun 1997 ekspor gaplek iles-iles ke Jepang, Malaysia, Pakistan, dan Inggris meningkat menjadi 297,6 ton dengan nilai 349.614 dolar Amerika. Pada tahun 1998 ekspor komoditas ini menurun, dan kecenderungan ini berlanjut sampai sekarang. Tahun 2003 total nilai ekspor komoditas iles-iles sebesar 603.335 dolar Amerika, dan tahun 2004  hanya mencapai 12.931 dolar Amerika. Sejak tahun 2005 sampai sekarang ekspor komoditas ini tidak ada lagi.

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Penurunan nilai ekspor komoditas suweg, porang dan iles-iles, bukan karena permintaan pasar yang menurun, tetapi keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan dan lama kelamaan akan habis jika tidak diupayakan penanamannya.  Perkembangbiakan tanaman suweg dan porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Pada setiap kurun waktu empat tahun tanaman ini menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah dan biji. Satu tongkol buah dapat  menghasilkan 250 butir biji yang dapat digunakan sebagai bibit dengan cara disemaikan terlebih dahulu. Akan tetapi perkembangbiakan melalui biji  memerlukan waktu lama hingga membentuk tanaman baru. Perkembangbiakan dengan umbi dapat dilakukan menggunakan umbi yang besar dan kecil. Umbi katak yaitu umbi kecil yang muncul di ketiak daun dapat dikumpulkan, kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan dapat langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment