January 30, 2011

Jago karate(h)

Filed under: My Opinion — ratna @ 11:47 am

Ada anekdot, seseorang bertanya kepada temannya sedang apa dia. Sang teman menjawab: “Jago karateh”. Sang teman mengira temannya itu sekarang telah menjadi seorang pendekar yang mumpuni bela diri karate. Padahal sebenarnya dia sedang menjaga kertas, alias menjual kertas. Dalam bahasa Minang “jago karateh” artinya menjaga kertas.

Jika kita melihat arti konotatif, menjaga kertas bisa berarti menjaga agar kita tidak boros dalam penggunaan kertas. Aku ingat waktu kuliah salah seorang dosenku tiba-tiba berkata pada teman yang duduk di bangku baris terdepan. “ Wah kamu itu memboroskan kertas”. Temanku dan kami semua hanya bengong mendengarnya, lalu Pak dosen menjelaskan, karena tulisan temanku itu besar-besar, maka akan cepat menghabiskan buku, buku itu kumpulan kertas, kertas itu berasal dari kayu, untuk mendapatkan kayu harus menebang pohon, padahal pohon tidak bisa didapat dalam waktu seminggu dua minggu. Butuh waktu singkat untuk menebang pohon tapi butuh waktu lama untuk membesarkannya. Semakin banyak pohon ditebang akan berakibat  semakin terganggunya keseimbangan alam, akibatnya banjir. Waduh !! Dari tulisan besar-besar ujungnya bisa menyebabkan banjir…hehehe nakutin bener.

Tapiii..betul juga lho, jauh juga pemikiran Pak dosenku itu. Tampaknya beliau seseorang yang sangat peduli dengan lingkungan. Seyogyanyalah semua orang yang pernah belajar ilmu biologi berpikir dan peduli dengan segala sesuatu yang hidup, dengan lingkungan tempat kita hidup. Berarti semua orang dooong…karena ilmu biologi sudah dipelajari sejak SD.

Kita semua pasti pernah mendengar kata “paperless”. Sejak kita mengenal banyak urusan dalam bisnis maupun sekolah yang ujungnya pakai “e”, electronic sebenarnya saat itulah kita sudah mulai menghemat penggunaan kertas. E-mail, e-book, e-paper e-banking, dan mungkin banyak e- e- lainnya. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita berkirim surat menggunakan kertas, apakah diprint, apakah diketik pakai mesin tik, apalagi ditulis tangan…. udah tahun kuda kali. Bahkan berkirim kartu saat hari raya Idul Fitri atau hari Natal mungkin juga banyak berkurang karena orang lebih suka berkirim ucapan menggunakan SMS. Menulis cukup sekali tapi bisa dikirim ke banyak orang dengan tarif kirim murah. Malah ada yang hanya meneruskan pesan yang dikirim oleh teman. Apalagi sekarang setelah telepon seluler makin beragam fiturnya, jejaring sosial pun dimanfaatkan. Tidak perlu dikirimi satu-persatu. Tinggal tulis saja di wall facebook, maka semua teman yang jumlahnya fantastis, 200—1000 an akan bisa membaca ucapan selamat yang kita tulis. Hemat kertas, hemat pulsa, dan hemat energi (mengetik) buat si jempol ^_~

Dalam soal di atas, kita memang sudah mulai melakukan penghematan kertas. Tapi coba lihat apakah kita juga sudah bisa menghemat kertas dalam hal lain ?

Setiap akhir tahun ajaran, aku selalu menemukan buku-buku tulis anakku yang SD ataupun yang SMA, baru 1/2 yang terpakai. Mau dipakai lagi untuk tahun berikutnya tapi kok sepertinya pelit sekali. Yang namanya anak-anak selalu maunya semua baru di tahun ajaran baru, tas, sepatu, baju seragam, peralatan sekolah, dan buku. Gak tega juga kalau buku aja gak dibelikan yang baru. Tapi bagaimana dengan sisa lembar-lembar buku yang cukup banyak itu ? Akhirnya kugunting, kukumpulkan yang masih kosong, kujadikan satu dengan binder dan kujadikan catatan apa saja, mau catatan belanja, oret-oretan. Kadang kalau sudah begitu anakku juga yang pakai.

Mungkin yang lebih efisien adalah mahasiswa yang menggunakan binder berisi lembaran kertas lepasan (loose leaf). Dalam satu binder bisa memuat catatan untuk beberapa mata kuliah. Sehingga penggunaan lembaran kertas tidak perlu melebihi keperluan. Tapi di sisi lain, mahasiswa boros sekali dengan yang namanya kertas fotokopi.  Handout kuliah, fotokopi, text book, fotokopi, soal ujian dari kakak kelas, fotokopi, contoh laporan, fotokopi. Apalagi kalau fotokopi tidak bolak-balik, makin banyak ruang kosong kertas yang tersia-sia. Ada juga sih yang memanfaatkan halaman kosong fotokopian untuk mencatat materi kuliah.

Banyak juga mahasiswa yang smart, saat harus menulis draft skripsi yang memerlukan diskusi dan koreksi intens dengan pembimbing, mereka mencetaknya di kertas bekas. Mereka baru mencetaknya di kertas baru saat naskah sudah final disetujui dan di bawa ke ujian seminar maupun ujian sarjana. Mungkin mereka tidak berpikir jauh menghemat demi peduli pada lingkungan, tapi peduli dengan kantung mereka sendiri, harga kertas kan lumayan buat kantung mahasiswa. Demi penghematanpun mereka berusaha memeriksa, mengedit secermat mungkin naskah sehingga kesalahan ketik bisa minimal. Kejadiannya akan lain kalau si mahasiswa anak tajir (katanya singkatan harta banjir…anak orang kaya gitu lho), mau ngeprint menghabiskan 1 rim nggak perlu mikir.

Kebiasaan yang baik saat sebagai mahasiswa harusnya dilanjutkan saat sudah bekerja, mentang-mentang di kantor, pakai kertas milik kantor, mau ngeprint gak pernah dicek lagi, kalau salah ulang lagi. Akhirnya banyak kertas tak berguna yang menumpuk. Merasa bukan beli dengan uang sendiri, lalu menjadi boros.

Kita cenderung boros kertas karena kita tidak sadar bahwa kertas tak ‘semurah’ yang kita sangka. Industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di dunia dengan output 178 juta ton pulp, 278 juta ton kertas dan karton, menghabiskan 670 juta ton kayu. Pertumbuhan industri kertas diperkirakan antara 2% hingga 3.5% per tahun, sehingga membutuhkan kayu log yang dihasilkan dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta hektar setiap tahun. Industri kertas juga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk beroperasi. Energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kertas dalam bentuk panas dihasilkan dari pembakaran sampah padat (sisa potongan kayu) dan uap serta bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO2, NOx, dan CO2. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Sebelum akhirnya sampai di tangan kita, sehelai kertas dibuat tahap sangat panjang. Dan untuk mendapatkan sifat akhir kertas yang sesuai dengan penggunaannya, maka serat kertas mengalami proses modifikasi dan pencampuran dengan bahan kimia tertentu.  Salah satu tahap yang penting adalah proses pemutihan kertas (bleaching). Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. klor (Cl2 atau ClO2) atau hipoklorit (NaOCl) Klor digunakan karena sifat-sifatnya yang reaktif, efektif dan menghasilkan pulp dengan sifat fisik dan derajat putih tinggi. Proses pemutihan pulp kertas tidak hanya membuat pulp menjadi lebih putih atau cerah, tetapi juga membuatnya stabil sehingga tidak menguning atau kehilangan kekuatan selama penyimpanan.

Namun aspek lingkungan yang dominan pada industri pulp dan kertas justru terletak pada proses pemutihan. Hipoklorit akan membentuk kloroform dalam air. Saat proses pemutihan, klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin merupakan suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya.

Nah, setelah kita tau betapa tidak murahnya kertas, apakah kita tetap akan melakukan bussines as usual ?

Ini adalah beberapa hal nyata yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan penggunaan kertas, membudayakan paperless life style:

-Pikirkan perlu sekali kah kita membeli dan berlangganan koran konvesional, sementara banyak sudah koran ternama yang memiliki fasilitas e-paper. Kalau mau jujur, apakah kita akan membaca seluruh berita yang ada di lembaran koran ? Seringkali kita hanya membaca headlinenya saja.

-Di kantor – kantor biasakan untuk tidak mengeprint laporan atau dokumen yang ada. Biasakan membacanya melalui layar komputer langsung.

-Pergunakan LAN messaging untuk mengirim pesan singkat. Kita bisa dengan cepat meng-copy paste informasi instan yang dibutuhkan tanpa perlu mencetak, bila perlu file tersebut bisa dikirim via e-mail

-Ajak karyawan dan mitra bisnis untuk bersurat secara elektronik sebisa mungkin. Selain cepat biayanya juga sangat hemat.

-Jika harus mencetak dokumen, pastikan dokumen yang akan diprint sudah sempurna. Hindari kesalahan mengeprint ulang karena akan boros kertas, boros tinta ujung – ujungnya memboroskan uang kita.

-Digitalisasikan seluruh dokumen kita. Mesin scanner saat ini tidak terlalu mahal, tetapi jangan menggunakan scanner flatbed biasa (jika masih menyayangi kesehatan jiwa kita).

-Bagi pemilik kartu kredit ubah pengiriman billing statement kartu menjadi elektronik dan minta Bank untuk mengirimkannya melalui email daripada tetap mengrimkan hard paper melalui pos.

-Biasakan memanfaatkan e-book ketimbang buku konvensional. Harga e-book jauh lebih murah daripada buku yang dicetak di kertas.

Tentunya ada kasus tertentu yang memang butuh dokumen dalam versi kertas. Contohnya: sertifikat tanah karena jika dibuat hanya dalam format elektronik, orang-orang nakal bisa mengedit, mengutak-atik jadi ASPAL dan sulit DIJAMIN keabsahannya.

Jadi jangan anggap enteng penggunaan kertas. Pikir dua kali setiap kita akan menggunakan kertas. Apabila penggunaan kertas dapat dihindari sebaiknya lakukan itu. Dengan begitu, kita dapat membantu melestarikan BUMI demi anak dan cucu.

Reducing paper (Sumber: google)

Reducing paper (Sumber: google)

January 29, 2011

84H4SA Y4NG M3MBINGUNGK4N

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:35 pm
ibu, aku ud ngasi draft kasar k pembimbing 1 bu, biar bs d perbaiki scepatny..hehe
ibu, aku blm tw mw up kpn,pgn ny si juni akhr bu,tp ga tau klw mundur lg,blm brani memastikn hehe doain aj bu,biar cpet maju..

oia,mw nanya,ttd bu ratna yg d scan itu,d print aj trs tempel d berkas yg musti ad ttd PA nya,atau d apain y?
btuh info nih..
thx b4

 Hmm…entah sejak kapan bahasa Indonesia jadi ajaib seperti itu. Seingatku waktu jamannya telepon seluler belum secanggih sekarang sehingga tidak banyak fitur-fiturnya selain hanya layanan SMS (Short Message Service), bahasa tulisannya masih ‘sopan’. Maksudnya kalaupun harus menulis dibatasi hanya 150 karakter untuk sekali pengiriman sms, umumnya orang masih menggunakan singkatan yang umum dan sudah dikenal sejak dulu. Contohnya yg = yang, dgn = dengan, utk = untuk, bhw = bahwa, bkn = bukan.   

Lalu kecenderungan yang terjadi sekarang, makin banyak singkatan yang tidak berpola. Dan semakin pusing membacanya. Beruntung otak kita adalah otak buatan Tuhan yang kapasitas dan kemampuan interpretasinya sangat bagus, Subhanallaah…

Komputer yang canggih aja, untuk membaca sebuah file harus punya software yang cocok. Kalau nggak, yang keluar cuma kotak-kotak.

Aku pernah dapat postingan menarik:

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa per ktaa.Laur bisaa kan? Sdaar aatu ngagk klaian brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag batrantn

Hehe itu memang contoh ekstrim. Kalau aku dapat sms seperti itu nggak bakal aku jawab deh. Sekarang ini setelah ponsel semakin canggih, bisa berkirim SMS, MMS, bahkan e-mail yang bisa kita pakai untuk menulis dengan lebih leluasa jumlah karakternya, eeee kok malah makin hemat nulisnya. Lihat aja tuh sms mahasiswaku di atas (kira-kira yang nulis ngerasa nggak ya ?) : aku blm tw mw up kpn

Kalau hanya digunakan dalam situasi informal dalam pergaulan sepertinya nggak akan menjadi masalah. Yang akan menjadi masalah kalau kebiasaan menulis seperti itu terbawa ke situasi formal seperti sekolah atau kantor. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bapak-bapak dan ibu guru di SMP, SMA jika harus memeriksa ulangan murid-muridnya dan membaca tulisan bak bahasa planet atau bahasa Rusia yang penuh dengan huruf mati. Terlebih kalau ulangan atau ujian dalam bentuk esai bagi siswa SMA ataupun mahasiswa. Terkadang dalam ujian yang harus menjelaskan sesuatu, kita menuangkan apa yang ada di otak kita ke dalam tulisan. Apa yang ada di pikiran kita itulah yang kita tulis. Lha kalau sehari-hari sudah terbiasa menulis dengan sistem sms yang singkat dan padat, bukan tidak mungkin secara refleks, tidak disengaja itulah yang akan ditulis oleh tangan di kertas ujian. Ah mudah-mudahan ini hanya kekuatiranku saja yang berlebihan.

Sampai saat ini aku belum mendengar keluhan dari teman-temanku sesama dosen tentang pengalaman mereka saat harus memeriksa kertas ujian mahasiswa. Kemungkinan pertama, mahasiswa masih sopan dan tau aturan bisa mengubah saklar ON dan OFF di otak dan tangannya, jadi saat berkirim pesan di akun facebook atau twitter atau sms dengan peer group-nya, mereka pakai bahasa ajaib itu. Tapi saat harus menulis jawaban ujian, menulis laporan, menulis makalah, naskah skripsi, tombol ON untuk bahasa Indonesia lengkap dengan EYD-nya lah yang menyala.

Kemungkinan kedua, teman-temanku para dosen itu sudah beradaptasi dengan tulisan ajaib para mahasiswa.

Aku sering mendengar anakku yang masih dalam masa-masa ABG sering sekali menyebut alay. Waktu kutanya “apa tuh Mal artinya ?” Ya pokoknya yang norak-norak gitu Ma. Setelah kutanya lagi norak yang bagaimana, anakku bingung juga menjawabnya. Pernah suatu kali waktu kami jalan berdua, kami melihat segerombolan pelajar SMA bercelana abu-abu tetapi dengan pipa celana yang ketat seperti celana jeans model pencil istilah anak-anak sekrang. Masya Allah..seragam sekolah mestinya ada pakemnya…lha kok dibuat seperti legging. Mendadak anakku bilang…”nah itu namanya anak alay Ma”.

Belakangan aku dengar itu singkatan dari anak layangan.

Nah sekarang ada lagi istilah bahasa alay yang selidik punya selidik ternyata bahasa dengan tulisan atau kata yang mengkombinasikan antara huruf dan angka. Aku jadi ingat dengan plat nomor polisi yang bisa dibaca sebagai sebuah kata. Gosipnya polisi akan merazia dan mengenakan denda Rp 300 ribu pada pemilik mobil yang menggunakan nomor cantik itu. Hmm…tidak ada asap kalau tidak ada api. Yang ngeluarin nomer kan polisi ? Hehe mungkin polisi takut pusing bacanya kali kalau di jalan tiba-tiba harus menyemprit mobil yang melanggar rambu lalu lintas. Bukannya lebih gampang dikenali kalau nomor polisi bisa terbaca dengan jelas.

Memang kreatif dengan nyleneh hanya beda tipis. Kadang-kadang sesuatu yang lurus, taat kaidah  menghasilkan keteraturan, keseragaman yang sifatnya monoton. Sebaliknya ketidakteraturan kebebasan akan melahirkan kreativitas. Semua sah-sah saja asalkan masih berada dalam koridor yang benar.

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Alah bisa karena kepepet

Filed under: My Stories — ratna @ 9:59 am
Bento minus ayam...sedang digoreng

Bento minus ayam...sedang digoreng

Suatu siang  sesampai di rumah mataku tertuju pada sebuah boks hantaran yang ada di atas meja makan. Setelah kubaca secarik kertas yang menempel di bagian tutupnya ternyata dari tetanggaku yang syukuran berbagi kebahagiaan pasca anaknya dikhitan. Isinya nasi beserta lauk pauk, buah dan suplemen khas Indonesia: krupuk ! Melihat boks seperti itu  ingatanku melayang ke momen yang kualami 5 bulan lalu. Seminggu menjelang lebaran teman-teman sesama perantau di negeri sakura mengajakku untuk ikutan sebuah proyek amal. Caranya sangat mengasyikkan. All we have to do is cooking ! “Naah, kebetulan nih ada Bu Ratna, mau kan kalau kita ajak bantu-bantu masak ?” Wah kalau cuma masak mah hayo aja, apalagi rame-rame. Itung-itung menghalau rasa haru biru karena terpaksa menjalani lebaran jauh dari keluarga.

Tadinya kupikir cuma masak buat kami-kami warga Indonesia yang sedang studi di kampus tempat aku riset. Kalau dijumlah termasuk anak-anak, ada sekitar 30 orang. Baru ngeh kalau bakalan harus masak dalam jumlah besar pas acara belanja. Minyak goreng 6 liter, ebi furai beku 20 boks, paha ayam beku 10 kilo, nanas kalengan 20. “Emang mau masak buat berapa orang Bu Ari ?” Kita mau buat bento 200 boks Bu. Haaa ? Gubrak !!! Untung mobil yang ngangkut belanjaan kami nggak njengat ke belakang karena overload…wakakak lebay.com.

Karena aku gabung di tengah-tengah proyek, ya jadi rada-rada tulalit. Setelah diceritain barulah aku tau ternyata KMII wilayah Kansai mengadakan sholat Ied khusus untuk masyarakat Indonesia yang ada di Kobe, Kyoto, Osaka dan Nara. Untuk menjamu para jamaah di hari kemenangan itu, KMII (oya KMII itu singkatan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral RI Osaka menyediakan nasi boks berisi menu masakan Indonesia yang HALAL. Karena diperkirakan yang akan hadir hampir 1000 jamaah berarti harus disediakan sejumlah itu. Kalau di Indonesia mah itu perkara gampang, tinggal angkat telpon, pilih mau catering Bu Gito, Bu Joko, Bu Ngadiman, pilih mau paket nasi boks yang harga berapa, jumlahnya berapa, asalkan gak mendadak sehari sebelumnya pasti ok dah, cukup kasih DP 50 persen. Pokoknya asal ada uang, dijamin beres gak usah capek-capek. Lha di Jepang ? Biar kata ada uangnya, kalau gak ada yang ngerjain mana bisa ada 1000 boks nasi halal ngejogrok di depan mata ?

So,  akhirnya dibagi-bagilah tugas membuat nasi boks ke para relawan yang bermukim  di Kobe, Osaka, Kyoto dan Nara. Jatah Nara 200 boks, yang akan dikerjakan keroyokan. Menu sudah disepakati ayam goreng kalasan, ebi furai, balado teri kacang, sambel terasi, lalapannya tomat ukuran kecil, irisan kol, timun, buahnya nanas kalengan (berhubung di Jepun harga nanas fresh lebih mahal dibanding kalengan), plus kerupuk. 

Karena mayoritas kami semua punya kesibukan di siang hari, maka acara masak memasak harus dikerjakan sore sampai malam. Kami harus atur strategi yang nggak beda jauh dengan strategi perang. Aku kebagian jadi PJ (Penanggung Jawab) balado teri kacang, Bu Panji berhubung wong Jowo asli jadi PJ ayam kalasan, Bu Niswar jadi PJ nasi plus goreng-goreng ayam dan ebi, Bu Ari PJ sambel terasi, bu Riris PJ buah dan lalapan, PJ krupuk aku lupa siapa ya ?

Kami juga harus mikir mana yang harus dikerjakan duluan.  Balado teri kacang berhubung kering jadi bisa dicicil, dikerjakan 2 hari sebelum hari H. Keliatannya simple, ternyata urutannya panjang juga, goreng kacang, goreng teri, buat sambal lado, tunggu dingin, aduk-aduk setelah itu dimasukkan ke plastik ber-seal. Karena nggak ditimbang, pakai ilmu kirologi, jadi isi gak sama, yang ngerjain juga banyak tangan; baru dapat 150 bungkus eee abis. Hyaah kalau kurangnya cuma 20 plastik sih bisa bongkar pasang (hehe diambilin sedikit-sedikit dari plastik yang udah ok). Tapi karena kurangnya masih banyak,  mau gak mau buat lagi batch ke-2. Terjadi kelucuan, karena yang kebagian belanja beda-beda, teri batch ke-2 ukurannya agak-agak gigantisme. Gak kehabisan akal, setelah digoreng agak-agak dikremes, jadinya cantik juga (balado apa boneka sih kok dibilang cantik??).

Memang di rantau kita harus banyak akal selain banyak sabar. Ayam kalasan yang seharusnya pakai air kelapa untuk ngungkep disubstitusi pakai pocari sweat.  Tak ada rotan, akar pun jadi. Rasanya ya sama enaknya tuh. Tapi yang tak sengaja mensubstitusi  bahan pun ada hihihi…ada kisah nyata temenku bapak-bapak yang sedang ikut program riset juga di Ibaraki, beli minyak goreng. Sampai di asrama dipakailah untuk menggoreng. Tunggu punya tunggu…minyak bukannya memanas dan encer kok malah mengkristal dan gosong. Setelah dicicipi sa’ ndulit…kok manis ? Ternyata itu gula cair alias simple syrup…hihi..maklum deh buta huruf kanji, begitu lihat ada yang penampakannya mirip minyak goreng kuning dan kentalnya langsung aja comot. Kuledekin…mau nggoreng apa mau buat puding caramel pak ? Temanku yang lain, bapak-bapak juga, di Kyoto, ceritanya mau nggoreng ikan asin bawaan dari Indonesia. Setelah ‘minyak’ dituang ke penggorengan, ditunggu panas, ikan asin dimasukkan, bukannnya garing dan menguning keemasan, si ikan kok malah mengembang dan pletok-pletok. Pas dicicipi dan dibaui, ternyata itu teh dalam botol plastik kemasan besar. Lha kok bisa….?

Kalau pengalamanku, belanja dengan teman yang sama-sama short-term stay (bukan student yang lebih pinter baca tulisan kanji), mau nyari gula pasir, ketemu, kami menimang-nimang kemasan yang kami duga gula; tapi perasaanku kok gak enak (cieee sok kaya paranormal aja). Mbak Ila temenku bilang “Bu Ratna, kalau ini gula pasir kenapa ada gambar kepulauan Jepangnya ya ?”  Hmmm iya ya…akhirnya penasaran aku cari lagi di rak lain. Bingo ! Ketemu deh bungkusan yang gambarnya sendok. Setelah kami jejerkan, tampilan gula pasir sama ‘gula pasir’ yang ternyata garam itu sama putihnya, sama besar butirannya. Yang beda cuma kemasannya. Kemasan garam agak kecil. Huah..kalau sempet kebeli itu garam, biarpun diwariskan ke temen yang long-term stay, sampai lulus  gak abis-abis deh. Lha wong garam jepang itu uasssiiiin ne rek. Pake sedikit aja udah asin buanget….dikirain mau kawin ntar.

Voila ! Akhirnya sampailah kami di malam takbiran. Kami janjian mulai masak ba’da Isya setelah selesai kerjaan di lab masing-masing. Markas besar dapur umum ada 4 tempat di kamar asrama yang tipe family. Aku kebagian tugas goreng ebi furai 10 pak @10 potong = 100 ebi. Di tempat lain ada yang kebagian goreng ayam kalasan dan ebi juga. Perkara nasi semua kebagian tugas dengan mengerahkan semua rice cooker yang ada. Masaknya aja beberapa kloter karena sebagian besar rice cooker kapasitas kecil. Kami berdelapan menyiapkan 200 boks yang sudah harus siap jam 6 pagi tanggal 1 Syawal karena perjalanan dari Nara ke Kobe tempat sholat Ied dengan mobil 1,5 jam lewat tol. Serasa Bandung Bondowoso yang ditantang Loro Jonggrang untuk buat 1000 candi aja deh.  Alhamdulillah pekerjaan bisa 80% selesai sampai tengah malam. Lalu dilanjutkan sekitar jam 3 pagi menata semua isi dalam boks bento. Beberapa kepanikan kecil terjadi karena sempat kekurangan sambel, kekurangan nasi.  Kira-kira jam setengah 7 pagi 200 boks bento selesai dipak, dan kami pun berangkat  menuju Kobe.

Alhamdulillah rasanya lega sekali sudah berhasil mengerjakan tugas mulia, berat tapi menyenangkan. Bu Panji sebagai pimpro berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah gotong royong memasak. Aku kagum pada semua teman-temanku itu, baik yang membawa keluarga maupun yang jomblo lokal; dalam urusan masak memasak menurut pengakuan mereka statusnya dari zero become hero. Zero karena pertama kali merantau dan tinggal di asrama nggak bisa masak sampai akhirnya pada lihai-lihai memasak segala menu masakan Indonesia. Maklumlah selezat-lezatnya masakan jepang, tak bisa mengalahkan kerinduan akan masakan Indonesia.  Jadi bermodalkan koneksi internet yang nggak lumrah (cepatnya),  resep masakan apapun bisa segera dicari. Lihat di lemari es ada bahan apa, bingung mau masak apa, langsung cari resep di internet, gak usah diprint, bolak-balik aja dari kompor ke laptop ke talenan…hehehe…lha wong dapur sama tempat tidur cuma dua langkah jaraknya. Kamar ukuran ringkes.

Temanku itu ada yang mengaku awalnya sama sekali tidak bisa memasak, tapi setelah setahun mendampingi suami  tugas belajar, jangankan cuma ayam goreng, masak rendang, mie ayam, bakso, rawon, roti, pizza dan cake pun hayuh monggo. Di Jepang bukannya tidak ada yang jual cake, roti, pizza, mie goreng…ada…tapi seringkali banyak “ranjau”nya yang menjadikannya tidak halal. Mau tak mau harus masak dan buat sendiri. Saat halal bihalal dalam rangka lebaran iedul Fitri, kami berkumpul dan makan bersama juga masak bersama, dengan menu khas lebaran lengkap dengan ketupatnya. Berhubung tidak mungkin mendapatkan daun kelapa dipakailah aluminium foil sebagai pembungkus beras yang dimasak menggunakan slow cooker semacam rice cooker. Seperti kata pepatah ” Alah bisa karena biasa“….mudah-mudahan aku nggak kualat  kalau memelesetkannya menjadi “ Alah bisa karena kepepet”

Tak ada yang tak bisa kita kerjakan asal kita mau mencoba. Itu yang selalu kutekankan pada kedua anakku. Jangan nyerah sebelum mencoba. Dan nggak perlu nunggu sampai kepepet juga kali ya.

Mbok yao..

Filed under: My Opinion — ratna @ 9:54 am

cc greenpeaceCrop Circle. Jujur, aku baru tau istilah ini dari fenomena yang sebelumnya sudah pernah kulihat di film Sign yang dibintangi oleh Mel Gibson. Sebelum menonton film itu aku sama sekali tidak tau tentang crop circle. Setelah kumasukkan dua kata itu dalam mesin pencari di dunia maya, keluarlah 2.090.000 entri yang membahasnya. Ternyata sudah sejak lama fenomena ini ada. Hmm kemana aja ya gue selama ini ? Hehehe… emang manusia itu harus selalu belajar, membaca, melihat, mendengar, membaui.

Karena di Indonesia kejadian ini baru pertama kali terjadi maka reaksi yang muncul sangat heboh dan ramai. Ada yang menghubungkan dengan keberadaan UFO, persis seperti analisis banyak orang di dunia bahwa crop circle adalah jejak bekas ‘pesawat’ UFO yang mendarat di bumi. Persis seperti cerita di film Sign, yang tokoh utamanya benar-benar dihantui oleh mahluk alien berkepala lonjong dengan mata aneh yang sangat terkenal itu.

Kalau kata orang-orang yang suka dengan hal-hal berbau politik: pasti orang dibalik ini semua ingin mengalihkan perhatian masyarakat dari isu Gayus, atau isu lain yang lebih penting dibahas. Karena pers Indonesia meskipun bersifat multi media tetapi berita yang dibahas setiap hari nyaris seragam ! Jaman aku SMA dulu, kalau tidak baca koran/harian rasanya ketinggalan berita. Tapi sekarang, cukup hanya dengan mendengarkan berita di TV (dari 14 stasiun TV) sambil menjalani rutinitas pagi, kita sudah tau berita apa yang menjadi headline hari itu. Baca berita di media online pun pasti kita akan menemukan topik yang sama. Maka mudah saja ‘menghapus’ atau mengalihkan perhatian masyarakat . Lempar saja berita yang lebih heboh, meskipun tidak penting.

Kalau kata orang penyuka seni: crop circle adalah suatu karya seni yang mengagumkan karena umumnya hanya dibuat dalam waktu semalam, berukuran besar dan memiliki pola yang indah; setelah browsing kulihat ternyata pola yang dibuat tidak melulu berbentuk lingkaran. Ada yang berbentuk karakter kucing lucu Hello Kitty, bentuk mobil, yang tujuannya adalah mengiklankan produk atau perusahaan. Hari ini di wall facebook salah seorang temanku ada yang memposting crop circle berbentuk wajah si Gayus (kayanya mah photoshop) ^_^ orang Indonesia memang kalau urusan begini patut diacungi jempol kreativitasnya. Tapi kalau disuruh cari solusi bagaimana mengatasi masalah kemacetan kota Jakarta, patut diacungi jempol ke bawah.

Seni vs kerusakan ? Yup, crop circle sejak jaman dulu selalu dibuat di area persawahan atau ladang padi, gandum atau ladang jagung. Terpikirkah oleh si pembuat karya seni ini kalau batang tanaman sudah patah dan rebah ke permukaan tanah, tidak akan bisa tegak lagi seperti semula ? Kejadian di Sleman yang kulihat dari TV, tanaman padi yang menjadi korban sudah menampakkan bulir-bulir buah, mungkin sebulan atau 2 bulan lagi bakal dipanen. Aku berani bertaruh pemilik sawah tidak tahu menahu tentang ‘kegilaan’ ini, mimpi pun nggak. Mudah-mudahan pemiliknya adalah petani kaya yang tidak akan tiba-tiba jatuh miskin akibat berkurangnya hasil panen (kalau padi itu masih bisa hidup dan masih bisa dipanen). Mungkin kata si penanam padi: saya sudah susah payah menanam, merawat padi sejak benih sampai menjelang panen, kok dirusak hanya dalam waktu semalam ?

Kalau kata aku: terlepas dari siapa atau apa yang sudah membuat jejak di persawahan Sleman Jogja itu – UFO yang mendaratkah ? Atau orang-orang terlalu kreatif yang sedang bingung ingin menunjukkan kreasinya ? Aku betul-betul nggak peduli. Tapi mbok yao jangan meninggalkan kerusakan. Mbok yao kalau mau buat karya seni, buat deh di hamparan alang-alang yang kalaupun rusak gak akan ada orang yang teriak rugi. Atau buat aja di kepala masing-masing sehingga tercipta cukuran rambut model baru. Atau akan lebih bagus kalau karya seni menggunakan tanaman dibuat dengan cara bukan merebahkan tanaman yang sudah tumbuh tegak, tapi menanamnya sejak awal dengan konfigurasi yang sudah dirancang sebelumnya, seperti labirin atau tulisan tertentu

Aku hanya rela kalau jejak semacam itu terjadi akibat hempasan angin taifun atau bekas lewat segerombolan hewan yang bermigrasi menyeberangi ladang atau sawah.

How to make school vacations worthwhile

Filed under: My Stories — ratna @ 9:32 am

Have you found yourself in a situation where you want to go on vacation but find yourself putting it off because you couldn’t leave your work ? The school vacations are here. Every student, including my sons, is excited, but suddenly I had a headache. You know why ? For a very simple reason: my husband and I have to work from 9 a.m. to 5 p.m, five days a week. So we can’t accompany our sons on their vacation. But from now on, I can arrange my work schedule and spend time with my sons as well. Probably you’d like to know how I can manage it ? Let’s see.

In the school’s annual calendar, there are three vacation periods. The first, a vacation between the first and second semesters falls at the end of the year. Some families welcome this shorter school vacation, because it usually coincides with Christmas and New Year. If we want to have longer vacations, we can take a couple of days off from work. During this vacation my family will decide to visit a few places out of town — even out of the country (if we can afford it) for recreation.

Beaches and mountains are the most favored destinations, or we can use the opportunity to visit relatives. Second is a vacation on the Islamic holiday that marks the end of Ramadhan, the fasting month. We ussually spend the day simply having fun and enjoying ourselves. Most families have private parties and visit relatives. Generally, we have a good time with family and friends. Thus, the way we spend the holiday almost exactly the same way every year.

Here we go ! The third vacation is the longest, after student finish their studies at one level and proceed to the next. It takes about two to three weeks in the middle of the year (June – July). Many parents – including me – shudder at the thought of having their children at home for three weeks ! We will feel guilty if we let this happen, even though we do not have holidays the same as theirs. But we have to think harder to make these holidays unforgettable moments for them. They have already worked hard during semester. The children have the right to enjoy themselves. So we aim for days off by balancing between this and the end-of-year holiday.

What am I going to do with my children ? First we decide the place and kind of activities we will do during two or three weeks of their vacation. On weekdays when my schedule is tight, I will use my spare time after work to accompany my children swimming, shopping, or buying schoolbooks. By doing this they feel happy. On the weekend, we usually travel together and experience a culinary journey as seen on recent TV programs. The more “unusual” the cuisine the more curious we are, and want to try it.

Watching the latest movies at the cinema: That is another favorite activity for us. During the holiday season, many new movies are launched such as Shrek 3, Fantastic Four and Harry Potter. I choose movies that are suitable for my son, who are 14 and seven years old. If an appropriate film is not available at the cinema, I buy DVD and we watch it at home and make the atmosphere like the real thing – home theater accompanied by Coke and popcorn.

Besides that, my eldest son sometimes comes up with the idea to pick a day of the week as “sports day”. We start off by riding a bicycle around the neighborhood or playing badminton or basketball in the backyard.

One thing I’m grateful for is that we have our own backyard. There, the whole family can share the joy of gardening: My Mom thought me so when I was a kid. So I asked myself, “Why don’t I try it with my own children ?” We started by thinking about what to grow – chilies, tomatoes, peanuts, and leaf vegetables such as spinach. I ask my children to plant their seeds, then cover them up with soil and compost, watering them well. Amazingly, they enjoyed it. For me, is not just about planting. It;s about taking advantage of “gardening moments” with my kids…it might just turn out to be one of the highlights of their vacation.

Meanwhile, our family loves food, so I always have a lot of it in my kitchen. In the holiday season I have to provide extra food. Usually I ask them to list what kind of food they want most. If there is food that I can cook by myself, I will allow my sons to help me prepare it. I choose easy recipes like doughnuts, meatball, siomay (dumplings) fruit punch. What a fun it is if we could cook our favorite food ourselves ! It’s not that difficult.

Last year, we identified some major targets. By the end of the vacation, my eldest son was able to drive the car, the younger ride his bicycle. At the end of the vacation we went shopping for school items such as books, stationery, school uniforms, bags and shoes. I also involved them in this activity. We hope the above-mentioned activities were time well spent. They didn’t just waste time watching TV or using their Play Station. Best of all, I can entertain my children with a range of educational activities so they feel confident enough to attempt other things in the future and can concentrate much better on their studies when back at school.***

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

January 24, 2011

Escorting jatropha freak

Filed under: My Stories — ratna @ 11:30 am

IMG_6166Di hari pertama datang ke lab, aku disambut dengan ‘tugas mulia’. “Bu Ratna, hari rabu bisa kan jemput Sensei dan rombongan di bandara ?” Sebenarnya berita ini bukan berita baru. Dua minggu sebelum aku kembali ke tanah air teman se-labku di sana juga mengabariku. “Mbak, tadi Yokota Sensei ndatengin aku dan bilang minta dijemput tanggal 5 Januari di hotel bandara.”
Maka jadilah aku jam 9 sudah di Airport Jakarta Hotel yang ada di terminal 2F. Belum sampai di meja resepsionis, aku di”sambut” Sensei yang menghampiriku. “Welcome to Jakarta”…wahaha…bisa becanda juga dia, mudah-mudahan bukan bermaksud menyindir, karena perjanjiannya jam 9.30 berangkat menuju Bogor. Lalu beliau memperkenalkan aku kepada semua anggota rombongan yang berjumlah 17 orang, tidak semua dari NAIST; ada peneliti dari Kasertsart Univ, Ryukyu Univ dan Riken.

Dalambus di  perjalanan menuju Bogor aku sempat duduk di sebelah Yokota Sensei, berbasa-basi sebentar lalu beliau berkata “Sorry I have to prepare my presentation”, berarti dia sudah ingin mengakhiri percakapan dan mulai asyik dengan laptopnya. Bengongku gak berlangsung lama karena Akashi Sensei yang duduk di seberangku tiba-tiba bertanya pohon apa yang ada di sepanjang tepi jalan tol Wiyoto Witono. Kujelaskan itu adalah mangrove. Hingga menjelang masuk Bogor aku betul-betul seperti orang yang diwawancarai oleh Sensei. Beliau bertanya banyak sekali mengenai kondisi lab dan risetku, dengan permintaan terakhir dia minta diantar melihat lab dan rumah kaca.  

Sebenarnya tugasku mengawal rombongan sampai di hotel sudah selesai, dan aku bermaksud pamit untuk ketemu besok lagi, tetapi Yokota Sensei mengajakku untuk ikut lunch bareng. “Please have a lunch with us, I treat you. I want you to tell me about Indonesian food.” Hmm sepertinya gak cuma sekadar makan, mungkin ada yang ingin dibicarakan. Aku dan Yokota Sensei memesan Soto Bandung, Akashi Sensei pesan mie goreng.
Sambil menunggu pesanan terjadi percakapan berkisar makanan Indonesia, emping melinjo, kecap asin dan kecap manis, belut, sampai soal petani di Indonesia yang bisa panen padi 3x setahun. Mereka heran karena di Jepang tanam padi hanya bisa 1x setahun. Selesai makan aku pamit, Sensei bertanya “Would you join us to the jatropha field tomorrow ?”. Setelah kujawab ya, mereka berucap “See you” dan masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk collaboration meeting dengan tim Jatropha Indonesia.
 
Pagi berikutnya, aku sampai di lobby hotel, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan ketua rombongan sebagai jam berangkat. Tak berapa lama kemudian hampir semua anggota rombongan sudah berkumpul di lobby. Bus carteran sudah sejak pagi parkir di halaman hotel. Jam 8 kurang 10 menit bus meninggalkan halaman hotel. Aku duduk di kursi terdepan bersama Pak Adi sebagai penunjuk jalan. Tujuan kami adalah Kebun Percobaan Jarak di Pakuwon Sukabumi.
 
Ada pemandangan menarik. Kulihat Yokota Sensei duduk memangku setumpuk sertifikat yang harus ditanda tangani dan dicap yang akan dibagikan untuk peserta seminar besok. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 200 lembar. Hyuh tega bener panitianya. Memang tadi sebelum naik bus, Sensei berkata padaku “ I had a homework to do “ sambil menunjukkan map plastik ber-zipper yang beliau jinjing. Kalau di luar jendela ada yang menarik, beliau jeda sejenak dan melihat ke luar. Kalau pas macet beliau kerja lagi. Karena beliau duduk selang satu bangku di belakangku jadi aku bisa dengan leluasa mencuri pandang, memonitor apa yang sedang beliau kerjakan.

Perjalanan mulai menyebalkan karena beberapa kali melewati pasar. Macet. Selain itu di depan kami berderet juga truk-truk yang mengangkut entah apa sehingga makin memperparah antrian. Mudah-mudahan jepun-jepun itu sudah pernah mendengar sebelumnya bahwa di Indonesia yang namanya macet itu sudah biasa. Kalau nggak macet malah luar biasa. 
 
Jam 10 lebih sedikit kami sampai di tujuan. Kompleks Kebun Induk Jarak pagar di Pakuwon ini ternyata menempati area yang sangat luas, ada kantor administrasi, ada wisma, musholla dan tempat workshop yang masing-masing berupa bangunan yang terpisah. Kami semua digiring ke tempat workshop oleh penanggung jawab Kebun. Kebun Induk ini berada di bawah naungan Dep. Pertanian. Karena kunjungan kami sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya pihak Kebun sudah mempersiapkan semuanya.

Tanpa banyak prolog dimulailah penjelasan tentang tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang sejak sepuluh tahun terakhir menjadi tanaman paling top – dibicarakan oleh kalangan peneliti, pengusaha, di hampir seluruh dunia sebagai kandidat penghasil biodiesel, biosolar – karena bersifat renewable fuel menggantikan fossil fuel yang suatu saat akan habis disedot dari perut bumi.  Bahkan pemerintah mengeluarkan undang-undang/kebijakan tentang pengembangan bahan bakar nabati khususnya jarak.
 
Penjelasan menggunakan bahasa Indonesia yang langsung ditranslate oleh ketua rombongan. Jepun-jepun itu yang semuanya adalah dosen dan peneliti mendengarkan dengan seksama. Penjelasan paling menarik buat mereka adalah informasi kapan buah jarak matang fisiologis sebagai benih, kapan buah matang untuk dipanen sebagai penghasil minyak, berapa lama viabilitasnya, pada suhu berapa benih tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Aku tau ini dari Dr. Kajikawa peneliti yang sedang menjalani post doc di lab tempat aku riset di Nara kemarin. Menurut dia, sampai dengan saat ini informasi semacam itu masih sulit diperoleh dari publikasi ilmiah internasional. Lucu juga sih, penelitian hebat-hebat yang mengulik sampai ke tingkat molekular sudah sangat maju, tapi penelitinya sendiri masih banyak yang belum tau bagaimana kondisi A – Z si jarak ini di lapangan. Bisa dimaklumi karena jarak sebenarnya tanaman daerah tropis. Di Jepang jarak bisa tumbuh sampai fase generatif (menghasilkan buah) hanya di pulau Okinawa. Di tempat lain bisa tumbuh tapi tidak bisa berbuah.
 
Mereka makin kagum pada sesi demo pengepresan biji jarak sampai mengeluarkan cairan minyak kasar. Mungkin mereka harus mengakui kepiawaian peneliti Indonesia, bahwa hanya dengan mesin sederhana rancangan peneliti di Kebun ini bisa ‘dipanen’ minyak jarak setelah dimurnikan lagi dengan alat penyulingan. Selain produk berupa minyak, by product-nya pun dipajang di tempat workshop. Sisa pengepresan yang disebut seed cake atau bungkil yang masih mengandung sedikit minyak dibuat menjadi briket bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku. Tungku khusus pun sudah dirancang dan dibuat. Kulit buah yang ditampung dalam bak besar setelah diolah dan diberi tambahan bahan lain digunakan untuk pakan kambing yang dipelihara di kandang yang terletak di area kebun juga. Subhanallaah…selama ini yang kutau tidak ada bagian dari tanaman jarak yang bisa dikonsumsi dalam artian bisa dimakan karena mengandung racun.
 
Aku sempat berkeliling dan melihat-lihat produk hasil buatan peneliti yang dipajang. Ternyata yang diolah bukan hanya biji jarak, ada juga minyak kelapa sawit, minyak kemiri, nyamplung, pometia (matoa). Di satu meja aku melihat lampu teplok yang jadul banget, inget lampu di rumah Mbah Putri di Jogja jaman aku SD dulu. Aku juga ingat Ibuku pernah cerita kalau di jaman penjajahan Jepang semua orang di desa disuruh nanam pohon jarak untuk diambil minyaknya untuk penerangan lampu teplok karena harga minyak tanah mahal. Mungkin itu sebabnya hampir di seluruh Indonesia tanaman ini mudah ditemukan sebagai tanaman pagar…dan nama lokalnya pun jarak pagar. Selain ada pula yang namanya jarak kepyar, jarak ulung, jarak bali. Ternyata sejak dulu wong jepun pinter ya…makanya bisa ngejajah bangsa kita.
 
Kunjungan diakhiri dengan foto bersama. Acara berikutnya adalah makan siang. Sebenarnya ada permintaan dari rombongan untuk makan siang di resto Rindu Alam, karena Sensei pernah makan di sana mungkin terkesan dengan suasana dan makanannya. Tapi rasanya mustahil bisa sampai di sana dalam waktu 1 jam. Rundown acara di atas kertas memang mengalokasikan 1,5 jam di Pakuwon tapi kenyataannya molor jadi 2 jam. Akhirnya berhubung sudah jam 12, diputuskan makan di rumah makan lain. Seketemunya aja, kata ketua rombongan. Alhamdulillah nemu restoran yang cukup representatif yang menghidangkan menu masakan Indonesia, tempatnya juga bernuansa tradisionil…
 
Aku diminta menginventaris minuman apa yang akan dipesan oleh anggota rombongan. Agak repot karena daftar menu berbahasa Indonesia. Waktu kubacakan ada jus markisah mereka bertanya “what kind of fruit is markisah ?” Setelah kujelaskan, cukup banyak yang ingin mencoba. Beberapa ada yang memesan jus jeruk, dan air putih saja. Tapi umumnya mereka minta jus tanpa es.  Setelah kupikir-pikir mereka mungkin takut sakit perut kalau minum air mentah. Beda lah dengan di Jepang yang bisa minum langsung air dari keran.
Setelah tugasku selesai memesan menu dan minuman, aku izin sholat. Selesai sholat kulihat mereka sudah mulai makan. Beberapa yang duduk di dekatku menanyakan “what is this ?” waktu mau makan tempe goreng. Wah ada juga yang belum tau tempe ya. Padahal kelompok peneliti Jepang di Univ. Osaka ada yang sudah meneliti kandungan antioksidan pada kedelai yang sudah difermentasi menjadi tempe lho.
 
Yang lucu lagi, baru aja aku selesai menjelaskan dan baru mau bilang hati-hati dengan cabe yang pedas sekali…ee si Sensei main masukin aja cabe rawit utuh yang disediain di piring ke mulutnya. Kulihat mimik mukanya biasa aja sih…tapi dia bilang…”karai..” terus cepet-cepet minum. “Oh sorry Sensei, I just want to say it’s very hot.” Wakakak…gerakannya lebih cepat dari pada kata-kata yang akan kukeluarkan. Tapi emang dasarnya pengen tau ya, si Sensei yang satu lagi dia ambil terong bulat dari piring yang berisi lalapan trus dia tanya, ini apa. “It’s an eggplant”. Dia heran karena terong yang biasa dia makan di Jepang yang panjang ungu.  

Yokota Sensei sebenarnya menawarkan ke ketua rombongan supaya bill dibayar sharing, karena jumlah orang jepang jauh lebih banyak dalam rombongan. Tapi ketua rombongan menolak dan ingin mentraktir sebagai penghormatan dari  tuan rumah. Denger-denger sih wong jepun emang gitu, di budaya mereka jarang ada istilah traktir mentraktir, apa-apa ya bayar sendiri. Aku ingat beberapa kali pergi dengan Saki san meskipun judulnya dia nganterin aku pergi, tapi kalau mau kutraktir dia gak pernah mau. Selalu “betsu-betsu (separate)…mirip ya sama istilah kita BS-BS (bayar sendiri sendiri).
Tujuan berikutnya adalah kebun teh Gunung Mas. Kami harus melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. Dan ternyata kemacetannya jauh lebih parah dari pada tadi pagi. Bus benar-benar berhenti jegrek di jalan.  

Jam setengah lima sore baru kami sampai di Gunung mas, padahal tadi berangkat jam setengah dua dari Sukabumi. Rombongan cuma berjalan sekitar setengah jam menyusuri area perkebunan PT Gunung Mas yang merupakan daerah agrowisata. Jadwal di atas kertas sebenarnya setelah lunch di Rindu Alam dan jalan-jalan di kebun teh adalah PULANG ke Bogor. Tapi melihat antrian mobil yang turun menuju Jakarta dan Bogor juga gila, akhirnya diputuskan sebelum balik ke Bogor makan malam dulu di Rindu Alam.

Di Rindu Alam karena sudah magrib dan berkabut tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Acaranya ya langsung makan. Kami duduk terpisah menjadi 4 meja. Sementara menunggu pesanan datang, pramusaji restoran menyuguhkan berbagai kue basah jajan pasar seperti lemper dan getuk lindri. Ternyata rasa getuk lindri pas di lidah mereka sebab tidak terlalu manis. Begitu pula teh tawar yang disuguhkan seperti umumnya di restoran ala Sunda. Mereka justru tidak suka rasa teh yang terlalu manis. Sebelum makanan datang kulihat Yokota Sensei sebagai pimpinan rombongan Jepun mengumumkan sesuatu, tapi karena dalam Nihonggo aku ga ngerti apa artinya. Di akhir acara makan barulah aku ngeh, ternyata untuk acara makan itu bill dibayar oleh pihak jepun dibagi rata 17 orang…hihihi…kirain dibayarin semua sama Yokota Sensei. Yang ditugasi mengumpulkan uang Kajikawa san yang duduk di depanku. Aku geli ngeliat semua anggota rombongan nyaris serempak buka dompet dan mengeluarkan uang sejumlah Rp 60 ribu. Ada yang nyerahin pecahan 100 ribuan, ada yang 50 + 10 ada yang 50 + 20. Jumlah bill sekitar 1 juta rupiah…
Akhirnya setelah sekitar 15 menit mengumpulkan uang dan mencocokkan dengan jumlah bill, Kajikawa menyerahkan uangnya ke ketua rombongan untuk dibayarkan ke kasir. Kajikawa bilang “Your government have to redenominated the currency.” Hahaha..kebanyakan nol nya dia bilang. Bener juga siy terlalu banyak nol dan terlalu banyak pecahan uang. Secara psikologis kalau belanja pakai yen waktu di Jepang enteng aja, karena dalam yen 2 nol di rupiah ngglinding. Begitu di rumah dihitung dan dikonversi ke rupiah baru timbul rasa bersalah. Buset belanjaan gue kenapa jadi segitu mahalnya yah ?  Gimana ya nanti kalau pemerintah Indonesia beneran jadi menerapkan redenominasi ? Bisa-bisa makin konsumtif karena ngerasa harga barang tiba-tiba jadi “lebih murah”, sementara penghasilan tetap. Uhmm…yah itu dipikirin nanti aja kali yee.
Yang terpikir olehku saat itu adalah ..jam berapa kami semua sampai di rumah kalau jam 19.30 masih di Puncak ? Perkiraanku ga meleset jauh, jam 9 kurang seperempat kami tiba di hotel. Kami berpisah untuk bertemu lagi besok di acara half-day-seminar dengan audience lebih banyak dosen, peneliti, dan mahasiswa.IMG_6162

January 1, 2011

SUWEG, umbi-umbian berpotensi yang belum populer

Filed under: All About Biology — ratna @ 9:32 pm

Indonesia merupakan negara mega diversity dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brazilia, yang diperkirakan memiliki 10% dari flora dunia dan sebagian besar keanekaragaman hayati tersebut tersimpan dalam hutan hujan tropis Indonesia. Akan tetapi hingga kini, eksploitasi sumber daya hutan hanya berorientasi pada kayu, padahal produk hasil hutan bukan kayu dapat dijadikan salah satu potensi yang dapat menjadi penghasilan masyarakat di sekitar hutan.

Perum Perhutani di beberapa daerah telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat lokal sekitar hutan untuk memanfaatkan tanaman liar dari marga Amorphophallus (keluarga iles-iles) yang salah satu jenisnya lebih dikenal sebagai bunga bangkai (corpse flowers) yaitu  Amorphophallus titanum. Suweg, iles-iles dan porang yang tergolong ke dalam suku talas-talasan oleh beberapa kalangan industri makanan dan  suplemen kesehatan mulai dilirik sebagai bahan baku karena kandungan gizinya. Kelebihan lain dari tanaman tersebut adalah kemapunannya hidup di bawah naungan. Dengan sifat tumbuh yang jarang dimiliki tanaman budidaya lainnya, maka sebagai lahan penanamannya dapat memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan.

Produksi biomassa tanaman termasuk bagian yang bernilai ekonomis (bagian yang dipanen) tersusun sebagian besar dari hasil fotosintesis. Sementara radiasi matahari, sebagai sumber utama cahaya bagi tanaman, menjadi salah satu syarat utama kelangsungan proses fotosintesis. Pengaruh dari radiasi matahari pada pertumbuhan tanaman dapat dilihat sangat jelas pada tanaman yang tumbuh dibawah naungan. Pertumbuhan tanaman di bawah naungan semakin terhambat bila tingkat naungan semakin tinggi. Apabila semua faktor pertumbuhan tidak terbatas, tingkat pertumbuhan tanaman atau produksi biomasa tanaman pada akhirnya akan dibatasi oleh tingkat energi radiasi matahari yang tersedia.

Dalam sistem agroforestri, keberadaan tanaman utama dari jenis tanaman tahunan (pohon) akan mengurangi tingkat radiasi yang diterima oleh tanaman sela khususnya dari jenis tanaman setahun (semusim) seperti tanaman pangan yang tumbuh di antara tanaman utama. Keadaan ini berhubungan dengan habitus tanaman utama yang tinggi,  dan tajuk yang lebat sehingga menghalangi pancaran radiasi yang jatuh pada tanaman sela di sekitarnya. Semakin tinggi habitus tanaman pelindung dan semakin lebat (padat dan besar/lebar) tajuknya, semakin sedikit radiasi yang dapat diterima tanaman sela. Tingkat penetrasi radiasi dapat dimaksimumkan dengan pengelolaan tanaman yang tepat: meliputi pengaturan jarak tanam, ukuran kepadatan tanaman, dan manipulasi pertumbuhan tanaman seperti pemangkasan tajuk. Dalam kaitannya dengan usaha pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan untuk penanaman tanaman sela, harus dipertimbangkan lahan tegakan pohon jenis tertentu yang sesuai dengan sifat tanaman sela yang akan ditanam. Penelitian Murniyanto (2005), berhasil mengidentifikasi 5 jenis tanaman umbi-umbian herba tegak yang paling toleran hidup di bawah tegakan jati yaitu Xanthosoma sagittifolium, Colocasia esculenta, Maranta arundinaceae, Canna edulis dan Amorphophallus campanulatus.

Jenis tanaman yang disebut terakhir merupakan salah satu dari jenis-jenis Amorphophallus yang  berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif selain padi. Hingga saat ini masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa jenis tanaman tertentu sebagai sumber karbohidrat seperti padi, jagung, gandum, sagu dan umbi-umbian. Dan belum semua umbi-umbian dimanfaatkan dan dikembangkan, contohnya ganyong, suweg, ubi kelapa dan gembili. Pengembangan umbi-umbian sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan baku industri berbasis  karbohidrat dapat meningkatkan nilai ekonomi umbi-umbian tersebut.

Di negara lain seperti Jepang, umbi Amorphophallus yang telah dimanfaatkan antara lain A. oncophyllus, A. rivierii, A. bulbifer dan A. konjac yang dikenal sebagai elephant foot yam, sweet yam, konjac plant. Di Indonesia jenis-jenis tanaman tersebut dikenal dengan nama daerah suweg, porang, walur, dan iles-iles yang morfologinya sangat mirip satu dengan lainnya.

konyaku potatoKelebihan umbi suweg adalah kandungan serat pangan, protein dan karbohidratnya yang cukup tinggi dengan kadar lemak yang rendah. Nilai Indeks Glikemik (IG) tepung umbi suweg tergolong rendah yaitu 42 sehingga dapat menekan kadar gula darah, dapat digunakan untuk terapi penderita diabetes mellitus (Faridah, 2006). Konsumsi serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Masyarakat Philipina telah memanfaatkan tepung umbi suweg sebagai bahan pembuat roti. Selain dibuat menjadi tepung, umbi suweg dapat dimakan sebagai sayur, kolak, dikukus, dibuat menjadi bubur, nasi ” tiwul ” suweg, atau sebagai obat sembelit (Heyne, 1987). Tidak menutup kemungkinan suweg diolah menjadi tepung yang dapat menggantikan kedudukan tepung terigu sebagai bahan baku roti. Tepung suweg merupakan hasil olahan dari gaplek suweg.

Proses pengolahan umbi suweg ( Amorphophallus campanulatus Bl) dilakukan dengan pengeringan terlebih dahulu. Caranya, umbi yang dicabut dari dalam tanah dibersihkan, dikupas dan di cuci dengan air bersih. Selanjutnya umbi suweg diiris tipis-tipis dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50 °C selama 18 jam. Kemudian diblender dan diayak sampai diperoleh ukuran tepung 60 mesh. Tepung kemudian dapat dikonsumsi melalui berbagai macam cara pengolahan.

Umbi jenis lain adalah porang, A. oncophyllus. Umbi porang sangat besar, tebalnya dapat mencapai 25 cm, memiliki kandungan glukomanan cukup tinggi. Glukomannan adalah polisakarida yang tersusun atas glukosa dan manosa. Di kawasan Asia Tenggara jenis Amorphophallus penghasil glukomanan yang dikenal dengan konjac plant terdiri dari beberapa jenis yaitu A. rivieri, A. bulbifer, A. konjac. Umbi porang mengandung kristal kalsium oksalat yang jika dimakan mentah akan membuat mulut, lidah dan kerongkongan terasa tertusuk-tusuk. Untuk menghilangkannya, umbi porang dapat dimasak atau dengan mengeringkannya. Bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan rematik, arthritis, gout, dan batu ginjal harus menghindari makanan ini. 

Manfaat porang banyak sekali terutama dalam industri obat dan suplemen makanan, hal ini terutama karena sifat kimia tepung porang sebagai pengental (thickening agent), gelling agent dan pengikat air. Glukomannan saat ini dijadikan suplemen pangan yang dikonsumsi penderita diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, sembelit, dan penurun berat badan. Di Jepang umbi diolah dengan cara dimasak dan dilumatkan untuk mendapatkan pati, kemudian dipadatkan menggunakan air kapur menjadi gel yang disebut ‘Konnyaku’, maupun olahan berbentuk lempengan nata de coco, dan shirataki (seperti mi). Kedua penganan tersebut merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Karena kemampuannya membersihkan saluran pencernaan tanpa bersifat laksatif, memiliki kandungan air tinggi serta rendah kalori, porang digunakan sebagai diet food di Amerika.  Manfaat lain porang adalah sebagai lem, film, penguat kertas, pembungkus kapsul, perekat tablet.

konnyaku05Peluang pasar suweg dan porang sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.  Untuk pangsa pasar dalam negeri, umbi digunakan sebagai bahan pembuat mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan. Pengiriman dilakukan setiap 3 bulan dengan hanya mengandalkan perburuan di alam.

Untuk pangsa pasar luar negeri, masih sangat terbuka terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa. Eksportir porang hanya mensyaratkan umbi kering dan bersih dari cendawan. Sampai saat ini, permintaan pasar akan tepung suweg, porang dan iles-iles tidak dapat terpenuhi. Data statistik menunjukkan pada tahun 1991 volume ekspor mencapai 235 ton dengan nilai 273 ribu dolar Amerika (Sufiani, 1993), sedangkan pada tahun 1997 ekspor gaplek iles-iles ke Jepang, Malaysia, Pakistan, dan Inggris meningkat menjadi 297,6 ton dengan nilai 349.614 dolar Amerika. Pada tahun 1998 ekspor komoditas ini menurun, dan kecenderungan ini berlanjut sampai sekarang. Tahun 2003 total nilai ekspor komoditas iles-iles sebesar 603.335 dolar Amerika, dan tahun 2004  hanya mencapai 12.931 dolar Amerika. Sejak tahun 2005 sampai sekarang ekspor komoditas ini tidak ada lagi.

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Panganan khas Jepang berbahan baku konnyaku

Penurunan nilai ekspor komoditas suweg, porang dan iles-iles, bukan karena permintaan pasar yang menurun, tetapi keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan dan lama kelamaan akan habis jika tidak diupayakan penanamannya.  Perkembangbiakan tanaman suweg dan porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Pada setiap kurun waktu empat tahun tanaman ini menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah dan biji. Satu tongkol buah dapat  menghasilkan 250 butir biji yang dapat digunakan sebagai bibit dengan cara disemaikan terlebih dahulu. Akan tetapi perkembangbiakan melalui biji  memerlukan waktu lama hingga membentuk tanaman baru. Perkembangbiakan dengan umbi dapat dilakukan menggunakan umbi yang besar dan kecil. Umbi katak yaitu umbi kecil yang muncul di ketiak daun dapat dikumpulkan, kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan dapat langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.