November 12, 2010

HAMPARKAN SAJADAHMU DI MANA SAJA DI BUMI SAKURA

Filed under: My Stories — ratna @ 6:37 pm

Ritual tahunan yang kulalui bersama anak dan suami tercinta setiap Hari Raya Idul Fitri adalah pulang mudik ke rumah orang tua di Madiun. Yang paling seru dan banyak kenangan, jika kami naik kendaraan pribadi. Nyaman karena kami bisa berhenti kapan dan di mana saja, tidak mengejar target harus sampai dimana dan jam berapa. Kami berangkat hampir selalu setelah shubuh; kalau tidak macet, perjalanan dapat kami tempuh dalam waktu 15 jam. Itu sudah termasuk waktu untuk berhenti sholat, unloading cairan di kantung kemih dan loading bensin (^_^). Tidak ada acara makan karena meskipun safar kedua anakku tetap bertahan tidak membatalkan puasa…..lebih berat bayarnya Mah…begitu kata mereka. Biasanya kira-kira setengah jam sebelum waktu sholat dzuhur, aku dan anak-anak sudah ‘hunting ‘ mesjid yang bakal kami singgahi. Kriterianya, harus yang terletak di sebelah kiri jalan (supaya tidak harus putar balik arah), yang punya tempat parkir besar atau di depan mesjid ada tempat untuk parkir mobil, dan terakhir, yang tempat wudhu-nya cukup bersih; mesjid tidak harus besar dan bagus, yang penting bersih. Kadang sudah berhenti, pas masuk, tempat wudlu-nya bau, lantainya kotor, padahal sandal sudah harus dibuka…kalau sudah begitu, naik mobil lagi dan hunting lagi. Bersyukur kita berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga hampir dalam jarak 2 km selalu ada mesjid, musholla atau langgar, itu baru yang di tepi jalan Pantura, mungkin akan makin banyak jika kita mengambil jalur alternatif melewati jalan-jalan kecil. Belum termasuk musholla yang ada di SPBU. Trik suamiku yang memang pengalaman traveling ngubek-ngubek pulau Jawa jalan darat, kalau mau sholat lebih baik di mesjid atau musholla. Tapi kalau mau pepsi (bukan merek minuman lho ya) or bakery ^_^ lebih baik di SPBU, biarpun harus bayar yang penting bersih. WC di mesjid memang gratis, tapi lebih sering kurang bersih… Selama di Jepang, aku dan teman-teman sesama muslim punya kesepakatan, jika akan pergi seharian suntuk sampai malam, kami membawa perlengkapan sholat dan kompas (bukan nama koran juga yaaa). Tapi kalau baru berangkat setelah dzuhur, biasanya kami menjama’ dzuhur dengan ashar. Maghrib biasanya kami jama’ dengan Isya jika kami sampai di asrama sudah masuk waktu Isya. Perlengkapan lain yang selalu kubutuhkan adalah botol plastik bekas minum air mineral. Jadi setelah isinya habis diminum, botol belum kubuang sampai waktunya harus wudlu. Memang saat bepergian ke luar rumah, yang agak jadi masalah adalah ambil wudlu. Botol berguna untuk menampung air dari keran (umumnya keran menggunakan sistem sensor, cukup kita dekatkan mulut botol ke mulut keran…airnya ngocor deh). Di toilet jangan harap ada ember plus gayung… hehe..indonesia bangeeeettt. Standar toilet termasuk yang ada di stasiun, dilengkapi dengan wastafel dan cermin. Jadi kalau mau wudlu terpaksa – maap-maap – kaki nangkring masuk ke wastafel. Kalau toilet pas ramai, akhirnya membasuh muka sampai telinga di wastafel, untuk kaki terpaksa tampung air di botol, lalu cari WC yang closetnya jongkok (japanese style closet), dan basuh atau siram kaki di situ, pelan-pelan supaya air basuhan tidak nyiprat ke mana-mana dan air di closet juga tidak memercik lagi ke kaki kita. WC hampir semua lantainya kering, baik yang jongkok ataupun yang western toilet style (posisi duduk). Hmmm kok bisa ya…di Indonesia yang namanya WC selalu always basah…yang bisa bertahan kering sepertinya WC di mal-mal atau hotel keren yang tiap sebentar dipel sama cleaning servicenya. Mungkin karena gak ada ember itu makanya gak basah…hehe…masalahnya wong Indonesia selesai buang air harus dibanjur, kalau wong jepun mungkin pakai tisu kelar urusan. Terlebih kalau musim dingin, meskipun dibanjur pakai air hangat, pasca terkena air, pasti efeknya dingiiiinnnn…. Beres urusan wudlu, urutan berikutnya adalah mencari tempat untuk sholat. Di Jepang banyak sekali temple/castle juga koen (taman) atau public area yang terbuka, mungkin di Indonesia seperti di area Monas, Taman Suropati. Aku pernah sholat di temple, taman, tempat parkir, tangga dan tepi kali. Semuanya berkesan dan tak akan pernah kulupakan. Yang paling lucu adalah saat aku berdua dengan seorang teman ingin mencari tempat sholat di halaman luar Todaiji Temple di Nara. Todaiji Temple sebagai landmark Nara, sangat terkenal karena di dalamnya terdapat patung Buddha terbesar di Jepang, Nara Daibutsu (Great Buddha of Nara). Kami berdua mencari tempat yang sepi di halaman temple yang luas itu. Yaaa sebisa mungkin di tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang pengunjung. Memang kalau toh akhirnya ada satu-dua orang yang lewat, paling banter akan menengok sejenak dan jalan lagi. Karakter orang Jepang menurutku ‘mind your own business’…asal gak bikin gaduh dan gak ganggu, mereka akan cuek aja. Lha kalau kita sengaja sholat di tempat yang ramai banget, baru tuh bakal jadi tontonan orang banyak, bisa-bisa malah didatangi security deh. Kenapa kubilang lucu ? Setiap kali dapat spot yang kami anggap ok, ternyata setelah didekati banyak ‘ranjau’ kotoran kijang…hihihiiiii….mirip kotoran kambing bulet-bulet hitam (eh malah dibahas yak, soriiii). Oiya, kijang (sika) adalah mascot Nara. Todaiji Temple terletak di area Nara Park. Kijang-kijang itu sengaja dibiarkan hidup bebas di halaman temple dan di Nara Park yang luas, berbaur dengan pengunjung, hampir sama seperti kijang-kijang yang ada di Istana Bogor. Kalau ‘kijang-kijang’ di Jakarta rame-rame ngabisin bensin karena ‘parkir’ di jalanan tiap jam pulang kantor Hampir 15 menit kami blusu’an – apa ya bahasa Indonesia-nya- pokoknya jalan seperti orang nyari barang yang jatuh. Akhirnya dapat tempat yang lumayan bersih, hanya saja beraspal, agak berbatu-batu dan panas, tidak ternaungi pohon. Tadinya kami berharap bisa dapat tempat di hamparan rumput di bawah pohon. Rupanya tempat seperti itu juga jadi favorit si kijang untuk BAB… hehehe. Di hamparan yang keras dan gak ada pohonnya mereka gak mau poop kayanya…(di kuliah Ilmu Perilaku Hewan dibahas gak ya defecation sites favoritnya mammalia ^_^…dulu gak ikut kuliahnya siiiih). Giliran kompas yang membantu kami mencari arah barat, setelah ketemu baru kami hamparkan plastik semacam tikar kecil, nyaris seukuran sajadah, biasanya untuk alas piknik anak-anak jepang. Sajadah beneran kupakai untuk sholat di asrama. Kami sholat bergantian. Pengalaman lain lagi sewaktu aku pergi berdua saja dengan teman jepangku, sekaligus mentor-ku Saki Hoshiyasu, seorang mahasiswa doktor tahun ketiga. Dia dibayar khusus oleh Student Affair Section kampus NAIST sebagai Teaching Assistant bagi visiting researcher seperti aku, atau exchange student yang terdaftar di lab tempatku riset. Dia mengajariku bagaimana mengoperasikan semua alat yang akan kupakai di lab, karena hampir semua panel yang ada di alat-alat bertuliskan aksara kanji…termasuk microwave !!…tobaaat, bener-bener jadi buta huruf waktu pertama masuk lab. Dia juga mendampingi aku ke City Hall, Kantor Walikota untuk membuat alien card (KTP untuk orang asing yang stay lebih dari 90 hari; beneran dianggap mahluk asing ~ alien), apply asuransi kesehatan, buka account bank, sampai ke mal menemani beli kasur tipis, selimut, bantal, gorden, dan kulkas bekas….huihh….full service dah pokoknya mah. Ceritanya, hari ahad tanggal 24 Oktober kemarin merupakan jadwal rutin maintenance tahunan untuk saluran air, listrik dan gas di semua gedung di kampus, termasuk dormitory jam 10.00 –16.00. Pengumuman dikirim 2—3 minggu sebelumnya via email, juga selebaran-selebaran yang di tempel di pintu masuk dormitory. NO WATER PERIODE, AND ALL-CAMPUS POWER FAILURE istilah mereka. Sehari sebelumnya DOWNTIME FOR NETWORK atau INTERNET OFFLINE di lab dan di asrama. Bayangin, udah kaya jamannya Flinstone, gak ada air, listrik, gas, putus hubungan dengan dunia maya… mau ngapain kan. Kerja di lab gak bisa, di asrama kalau tahan tidur seharian kedinginan ya mangga wae. Nah, Saki san menawari aku untuk jalan-jalan kemana aja terserah aku. Akhirnya dia memilihkan Arasiyama di Kyoto. Sepertinya Saki gak biasa lihat ramalan cuaca sebelum pergi, padahal teman Indonesiaku sudah telpon pagi-pagi sebelum listrik mati menanyakan apakah jadi pergi, karena ramalan hari itu akan hujan seharian katanya. Aku siap-siap bawa payung. Dan benar ! Mulai datang sampai mau pulang hujan gerimis aje…gak ada sang bangau tapi ^_^ jadi inget lagunya Bang Benyamin sama Mpok Ida Royani dah. Karena berangkat dari Nara sudah jam 11, kami sampai sekitar jam 1, lalu makan, lalu masuk ke salah satu rumah yang ternyata tempat membuat kimono. Setelah itu jalan-jalan di bawah guyuran gerimis. Akhirnya masuk waktu ashar jam 14.50 (semakin bergeser ke winter, waktu sholat semakin maju). Kukatakan pada Saki “I have to pray”. Dia tanya apa aku butuh peralatan atau bangunan khusus ? Kujelaskan aku sudah membawanya, kutunjukkan alas plastik, kompas, kaos kaki dan kaos tangan. Kebetulan ada tempat istirahat berupa tempat duduk beratap yang menyatu dengan bangunan toilet. Kuminta dia menungguku di situ, sekalian menjaga tasku, aku masuk toilet untuk wudlu. Selesai wudlu aku mengambil semua peralatan dan mencari tempat. Saki sempat bilang “It’s hard”…aku menangkap maksudnya, dia melihat persiapan aku mau sholat sepertinya susah sekali. Aku cuma senyum. Aku menemukan tempat yang kuanggap agak sepi dan Alhamdulillah kurasakan hujan berhenti. Aku sholat dzuhur dijama’ dengan ashar. Sholat khusyu bukan berarti tuli kan ya. Selama sholat terdengar orang berbicara keras-keras, sepertinya dekat sekali. Setelah selesai sholat dan berdiri sambil melipat alas, barulah aku tau, ternyata aku sholat menghadap kearah sungai Hozu yang merupakan jalur untuk boat tours. Masya Allah…hihihi…memang sewaktu melintasi jembatan tadi aku ngeliat dari kejauhan banyak boat yang disewakan. Saki juga nawarin apa mau naik boat, tapi sepertinya gak memungkinkan karena hujan. Hehe..niatnya mau nyari tempat sholat yang sepi eh ternyata malah gak sengaja dapat tempat yang dilewatin orang plesir….gomen…gomen… Memang sungainya agak turun dibanding tempat aku sholat. Pasti mereka yang melaju dengan boat dan pas lewat ngeliat aku dari kejauhan…heran kali mereka …ngapain tuh orang tunggang tungging hujan-hujanan. Tapi Subhanallaah…sepanjang aku sholat, hujan benar-benar berhenti. Selesai sholat aku dan Saki menjelajah lagi sampai daerah yang namanya Bamboo grooves…daaaaaan hujan lagi…malah semakin asoi…benar-benar unforgettable moment.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment