November 14, 2010

MOMIJI, BENDERA CANADA DAN KLOROFIL

Filed under: All About Biology — ratna @ 12:42 pm
Me and red leaves

Me and red leaves

Bulan Oktober dan November di Jepang adalah awal memasuki musim gugur. Udara mulai dingin berkisar antara 5° — 15°C, mungkin buat orang yang tahan dingin masih terasa sejuk. Tapi buatku sudah dingin sekali…ya kira-kira 5x nya suhu di Lembang. Kalau di Indonesia udara dingin biasanya sehabis turun hujan; jadi, dingin selalu berasosiasi dengan basah, lembap dan mendung. Sedangkan di Jepang meskipun matahari bersinar terik, tetap kering tidak hujan, tapi udara dingin sekali; belum ditambah dengan hembusan angin yang makin membuat terasa beku. Tapi Alloh memberi bonus buatku, sebagai penghibur atas tersiksanya aku oleh cuaca dingin. Menjelang musim gugur, daun-daun pohon berganti warna menjadi warna-warna yang bernuansa kuning, jingga, dan yang paling cantik adalah merah marun. Keindahan autumn color ini bahkan dijadikan komoditas pariwisata oleh bangsa Jepang. Tema hiasan di mal pun berbau-bau autumn: Autumn collection, autumn style, autumn edition…

 Irohamomiji istilah yang kutau dari hasil searching, atau yang lebih dikenal dengan “momiji” merupakan jenis tanaman berkayu bernama Acer palmatum, atau Japanese Maple yang tumbuh native di Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, China, timur Mongolia dan bagian tenggara Rusia. Daun acer atau maple memiliki banyak jenis dan kultivar yang juga memiliki bentuk daun maupun warna yang menarik. Ingat bendera Canada ? Yup, itu adalah gambar daun acer; bendera Canada dinamakan Maple Leaf Flag dalam bahasa Perancis disebut l’Unifolié (”the one-leaved”).

Ternyata pohon maple ini banyak sekali jenis (150) maupun kultivarnya (hampir 1000) yang perbanyakannya secara aseksual melalui stek batang, sambung batang (grafting) maupun kultur jaringan. Kultivar yang dicari adalah yang memiliki bentuk daun yang unik, selain dicari pula jenis mana yang cocok sebagai peneduh, semak, maupun sebagai bonsai.

Menurut pengamatanku, pohon maple hampir selalu ditanam di dalam maupun di luar pagar kuil-kuil Jepang. Kalau kita berkunjung saat summer, yang umumnya dikagumi adalah bangunan kuilnya, keindahannya dan ketuaan…hmmm…kok ketuaan…. apa yah istilahnya …maksudku umumnya kuil atau kastil itu berupa bangunan yang sudah tua tapi tetap terpelihara bahkan dijadikan World Heritage, bukan hanya National Heritage. Tapiiii…jika kita berkunjung saat menjelang musim gugur, Subhanallah…pohon-pohon yang biasanya hijau royo-royo, menjadi colorful…berwarna warni…cantik sekali. Jadi, yang bisa tampak indah bukan hanya pohon atau tanaman yang memiliki bunga saja. Pohon tertentu pun bisa menjadi indah dan berharga mahal karena bentuk dan warna daunnya. Masih ingat kan dunia tanaman hias Indonesia yang dihebohkan dengan tanaman Aglaonema yang dihargai berdasarkan jumlah daunnya, maka ada satu pot tanaman yang berharga hingga 10 juta…buat investasi, tapi ada juga yang tertimpa musibah, digondol maling…Inna lillaahi….

Yang membuat warna daun tampak hijau, kita semua belajar sejak SD, adalah molekul klorofil atau zat hijau daun. Lalu mengapa daun bisa ada juga yang berwarna merah, kuning, orange, bahkan violet ? Lalu kenapa juga di Indonesia daun beringin yang hijau seumur-umur ya hijauuuu aja sepanjang tahun. Sedangkan daun puring selalu berwarna warni. Alloh menumbuhkan pohon dan semua tanaman sesuai dengan letak geografisnya, sebelum manusia melakukan budidaya maupun menanam di luar habitat aslinya. Maka ada tanaman yang dikenal sebagai tanaman tropis, subtropis, dan arid (kering sepanjang tahun seperti di gurun pasir). Tanaman di daerah tropis yaitu daerah yang memiliki hanya 2 musim, serta panjang siang dan malam sama, masing-masing 12 jam memiliki fisiologi yang berbeda dengan tanaman subtropis yang memiliki 4 musim, yang dimusim tertentu panjang siang dan malam bisa berubah. Tumbuhan bisa tau kapan akan berganti musim melalui cahaya, dan bersiap menghadapi kondisi alam yang sangat drastis sekalipun.

Yang sangat mudah dilihat adalah perubahan warna daun. Untuk membuat klorofil , daun membutuhkan cahaya matahari dalam jumlah dan durasi tertentu. Dan sepanjang summer, saat cahaya matahari lebih dari cukup dan air tersedia, tumbuhan sibuk membuat dan menabung makanan (glukosa). Berakhirnya summer, dan memasuki musim gugur , panjang siang semakin pendek, menyebabkan produksi klorofil yang membutuhkan cahaya menjadi menurun. Maka klorofil tidak cukup membuat daun berwarna hijau. Akhirnya warna pigmen daun selain klorofil yang berwarna kuning (xantofil), jingga (carotene) yang memang sudah ada dalam jumlah sedikit pada daun menjadi terlihat akibat tidak tertutupi (unmasked) oleh klorofil. Sedangkan warna merah terang dan ungu daun pohon tertentu, dibuat pada saat musim gugur.

Pada pohon maple, glukosa hasil fotosintesis tersimpan dalam daun setelah fotosintesis berhenti. Sinar matahari dan udara malam yang dingin di musim gugur menyebabkan daun mengubah glukosa menjadi pigmen merah yang dinamakan antosianin Sementara warna coklat pada daun pohon yang lain lagi seperti pohon oak, merupakan tannin, disintesis dari materi sisa yang masih ada dalam daun. Pigmen-pigmen ini melindungi daun dari cahaya matahari yang terik juga menurunkan titik beku, agar daun tidak beku meskipun suhu sangat dingin. Seperti manusia, daun pun punya siklus hidup.

Manusia lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Sehelai daun muncul sejak berupa tunas, hingga dewasa, kering dan gugur karena jaringannya mati akibat serangan serangga, penyakit atau cuaca. Daun gugur bisa satu persatu jika sudah tua atau mengalami senesensi (senescent), tetapi juga bisa gugur serentak karena kondisi alam seperti musim gugur atau musim kering (ingat pohon jati ?). Gugurnya daun sesungguhnya suatu bentuk pertahanan hidup bagi sebuah pohon.

Subhanallah …betapa efisiennya suatu pohon, sebelum memasuki musim dingin yang bersuhu sangat rendah, air yang membentuk kristal es tidak mungkin diserap oleh akar, cahaya mataharipun berkurang, maka pohon menggugurkan daunnya. Toh sudah cukup banyak hasil fotosintesis yang ditabung selama musim panas. Sebelum daun gugur, glukosa, nitrogen dan zat-zat berharga lain yang telah diserap oleh akar di saat summer akan diambil kembali masuk ke pembuluh batang sebelum daun gugur. Nanti saat winter berakhir dan masuk musim semi, zat-zat ini akan dibutuhkan lagi oleh pohon untuk bertunas dan memulai siklus yang baru. Kalau kita analogikan, seperti orang tua sebelum meninggal akan mewariskan apapun bagi anak-anaknya, ilmu, harta maupun nasehat.

November 13, 2010

Kenanganku bersama BALIVEAU

Filed under: My Stories — ratna @ 6:57 am
 

 

Sebagai Koordinator Pendidikan kala itu, aku cukup tercengang mendengar kabar bahwa mahasiswa angkatan 2004 yang akan masuk menjadi penghuni baru berjumlah 80 an anak. Hal pertama yang terpikir adalah bagaimana caranya aku harus berbicara di depan mereka agar suaraku tidak tenggelam di antara riuhnya suara yang keluar dari 80 mulut. Seperti tahun-tahun sebelumnya Kordik harus mendampingi Pimpinan Departemen menyambut mahasiswa baru di lantai dasar Gedung E….dan memberikan penjelasan dari A sampai Z tentang departemen Biologi.  Setiap akan berkenalan dengan tiap angkatan baru, selalu ada rasa penasaran…akan seperti apa mereka nanti… responsif ? Tanpa ekspresi ? kompak ? individualis ? Aku termasuk orang yang kurang bisa menilai pada perjumpaan pertama. Tapi setidaknya seusai aku presentasi di depan mereka, perasaanku mengatakan angkatan ini lumayan asik.

Reuni akbar Biologi Feb 2010

Reuni akbar Biologi Feb 2010

 

Sesi penyambutan

 

 

Kelas Bahasa Indonesia

Ada rasa tersanjung, tapi ada juga rasa kuatir di antara rasa semangat akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, saat aku ditawari oleh Bu Boen bersama-sama Bu Susi dan Bu Mega mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia untuk mahasiswa semester 1 Biologi.  Bagaimana kalau nanti begini…bagaimana kalau nanti begitu…. kalimat ragu itu berlompatan di pikiranku. Aku takut karena kebodohanku, aku menyampaikan sesuatu yang salah…

Tetapi setelah mendapat bekal dari Bu Boen …langkahku ringan memasuki B 20…duh..lupa..204 ya ? Di kelas meskipun serius mendengarkan kuliah dari Bu Boen, tetapi diskusi dan pembahasan soal selalu meriah bersama anak-anak itu. Aku mendapat bagian anak-anak dengan nama abjad H, I, J, K…kalau tidak salah…yang paling kuingat Hartiyowidi…Kinasih….Henri…(maafkan Ibu kalau salah yaa…jangan-jangan itu waktu periksa ujian yang lain..^_^).

Yang paling seru saat belajar menulis tanda baca, dengan paragraph latihan Ice Juice…nilai kalian hampir semua jeblok….

Tapi percayalah…waktu dulu semester 1, nilai ku pun tidak lebih bagus dari kalian. Itu artinya, kita sebagai pengguna bahasa Indonesia belumlah bisa menggunakannya dengan baik dan benar. Hmmm…kenangan yang sangat manis…

Kelas Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Kalau tidak salah…mulai angkatan 2004 diberlakukan penyelenggaraan praktikum secara parallel. Masya ALLAH…terbayanglah betapa heboh dan capeknya …sedangkan mengawal praktikum 1 kali untuk satu angkatan saja sudah melelahkan. Tetapi lagi-lagi karena peserta praktikum yang kooperatif dan antusias….meskipun hampir semua alat digunakan bergantian (alias antri)…rasa lelah itu terbayar dengan kepuasan.  Di praktikum ini aku sangat teringat dengan Ekawati, Ayudia Nirmala, Latifah Nurdahlanti…

Pesanku

Anak-anakku… sebagai gurumu…yang pernah sedikit memberikan ilmu kepada kalian, simpan dan amalkanlah semua ilmu, pengetahuan, pengalaman yang kalian dapatkan sepanjang hidup kalian. Jangan lihat dari mana datangnya ilmu, pengetahuan dan pengalaman itu…dari seorang anak kecil pun jangan kalian anggap remeh.. Setelah kalian dapatkan, sampaikan dan amalkanlah ilmu, pengetahuan dan pengalaman kalian itu kepada siapa saja yang membutuhkan…. Karena kalian adalah guru sejati bagi calon anak-anak kalian kelak…

Tidak harus menjadi seorang guru untuk mengajarkan hal-hal yang baik pada orang lain. Ilmu yang tidak diamalkan, seperti pohon yang rindang tetapi tidak memberi manfaat buat orang yang ada di sekelilingnya…seperti pohon yang tidak berbuah…malah hanya menggugurkan daun…menjadi sampah yang mengotori.

Anak-anakku,

Aku bangga melihat prestasi kalian…meskipun aku tidak tau satu persatu di mana kalian sekarang berkarya. Di mana pun kalian berkarya dan mengamalkan ilmu…yakinlah dan niatkanlah bahwa kalian sedang BERIBADAH…sehingga apapun yang kalian lakukan …hanya keikhlasan yang terasa..

Nara, September 2010

(Notes ini kubuat atas permintaan Mulyati Dewi Aisyah sebagai salah satu testimoni untuk buku BALIVEAU)

November 12, 2010

REUSE, REDUCE, RECYCLE

Filed under: My Stories — ratna @ 6:56 pm

garbage1

The Environmental Protection Agency reports the United States produces approximately 220 million tons of garbage each year. This is equivalent to burying more than 82,000 football fields six feet deep in compacted garbage. There are no statistics readily available for the entire planet. Each American makes about 4 pounds of garbage daily. If the rest of the world produced as much as Americans, there would be about 10 MILLION tons daily, or 4 TRILLION tons yearly. Enough to cover Texas twice. This also fills enough trucks to form a line to the moon. (wikianswer.com)

 Seandainya sampah-sampah itu bisa jadi duit….hmm tapi ditangan pemulung, sampah memang akan menjadi uang. Sejak shubuh mereka sudah berkelana dari satu bak sampah ke bak sampah lain. Mereka berlomba dulu-duluan berburu sampah dengan tukang sampah yang memang dibayar untuk ‘mengosongkan’ bak sampah di setiap rumah baik di komplek elit, setengah elit sampai perumahan campuran….asalkan yang punya sampah udah bayar retribusi. Kalau belum bayar, sampai itu sampah menggunung, juga gak bakalan diangkut. Berterimakasihlah pada pasukan berani (tahan) bau yang mengurus sampah kita….gak kebayang kalau mereka tiba-tiba mogok kerja.

 Selama di Jepang, peraturan mengharuskan aku berbuat ‘lebih banyak dan aktif’ dibanding di kampung halamanku, Indonesia tercinta. Saat pertama menerima kunci kamar asrama, bagian administrasi kampus juga memberiku satu bendel kertas ‘manual’ berisi how to…how to…yang Alhamdulillah bilingual….hehe…kalau huruf keriting semua bakalan langsung jadi sampah pertamaku tuh. Lha iya…buat apa ? Kalau dibaliknya masih kosong masih bisa dipakai untuk oret-oretan, atau untuk ngeprint di lab.

Setelah kubaca sepintas Student Dormitory Leaflet, aku manggut-manggut, gak ada satu celahpun yang terlewat dari si pembuat peraturan, sehingga hak bagi satu penghuni dibatasi oleh hak buat penghuni lain. Contohnya, “Do not make excessive noise (musical instruments, stereo, TV) that disturbs neighbors as walls are not soundproofed”. Atau, “Keep the common spaces neat so that everyone can use them comfortably. Common space is maintained using your facility fees. Please try to conserve water and electricity”

Dari sebegitu banyak tata cara yang paling memerlukan perhatian khusus adalah GARBAGE COLLECTION. Kampusku terletak di kota Ikoma, sedangkan Nara merupakan Perfecture (kalo ga salah…^_^ …..I’m not a good citizen, maklum deh I’m only an alien). Maka dari itu, pemerintah kota Ikoma membuat peraturan supaya semua warganya sebelum membuang sampah harus memilah-milahnya terlebih dulu. Kategori sampah terdiri atas BURNABLE dan NON-BURNABLE. Sampah bekas/sisa masak, tisu, plastic bungkus makanan, kotak kemasan susu cair, juice, itu tergolong burnable. Kotak bekas susu, juice, snack sebelum dimasukkan ke trash bag harus dikempiskan dulu, mungkin supaya tidak voluminous. Trash bag bisa berupa kantung sampah besar untuk buang sampah, bisa juga istilah kita tas kresek bekas belanja, asalkan bening (transparan) …di sini gak ada tas kresek hitam. Ada kresek yang tidak transparan, biasanya berwarna biru muda atau abu-abu, dipakai kalau kita membeli pembalut atau pantyline di mal atau convenience store. Oleh kasirnya langsung perabotan cewek itu dimasukkan ke kantung plastik semacam itu. Jadi ingat waktu SMP jaman baru puber  kalau harus beli pembalut sendiri ke toko rasanya malu banget sama orang karena keliatan meskipun di dalam tas kresek yang bening. Trash bag harus transparan mungkin supaya petugas kolektor sampah langsung bisa lihat kalau-kalau ada sampah yang salah kapling.

Selain Burnable dan Non-burnable ada kategori RECYCLABLE WASTE, terbagi menjadi bottles and cans dan PET bottles. Bottles and cans termasuk kaleng bir, soft drink dari aluminium, kaleng makanan kemasan, semua harus harus dibilas dengan air tanpa sabun, kecuali botol bekas kosmetik dan spray cans.

Khusus sampah berupa botol plastic PET (Polyethylene terephthalate) bekas minuman soft drink, teh, juice, sebelum dibuang dibilas dulu;  label dan tutupnya dimasukkan ke sampah burnable. Ternyata setelah tanya sama Profesor Google, di tempat pengolahan limbah plastik di Amrik sana,  botol PET disortir dari barang lain, termasuk logam, beling, drink carton, plastik yang lebih rigid lagi seperti PVC ( Polyvinyl chloride, bahan untuk pipa, orang Indonesia bilangnya pipa paralon, padahal Pralon kan nama merek), HDPE, polypropylene. Juga harus dipisah dari plastik yang lebih tipis dan lentur seperti plastik untuk kresek (terbuat dari low density polyethylene). Botol PET ini nanti akan dipress menjadi balok-balok untuk disetor ke perusahaan recycle. Perusahaan recycle selanjutnya akan mencacah botol PET menjadi serpihan kecil disebut “PET flakes”, jadi inget corn flakes. Serpihan kecil ini masih mengandung sisa label kertas atau plastik dan plastic caps (tutup botol). Tutup botol  akan dibuang melalui proses lain. Nah sepertinya pemerintah kota Ikoma sudah mengantisipasi atau mungkin diminta oleh perusahaan recycle, supaya tidak harus membeli alat khusus untuk membuang tutup botol, maka kami sebagai penghasil sampah tangan pertama diharuskan untuk memisahkan tutup dengan botolnya, juga mengelotok labelnya. Karena agak berbeda dengan di luar Nara, kulihat di tempat sampah rata-rata botol masih lengkap dengan tutup dan labelnya. Tetapi standar tempat sampah di Jepang (di Singapore juga) selalu ada tiga kompartemen berlainan warna dan gambar. Satu untuk kaleng bekas minuman, satu untuk botol PET, dan satu untuk yang selain itu.

Untuk membuang minyak bekas menggoreng (jelantah), kita tidak boleh menuang begitu saja ke sembarang tempat apalagi ke sink bak cuci piring. Terlebih di Jepang yang hampir seluruh rumah berupa bangunan flat bertingkat, sehingga sistem pipa sangat penting perawatannya. Ada yang mampet sedikit saja pasti bakalan jadi bencana buat semua penghuni di satu blok gedung. Jadi minyak harus diserap dengan kertas koran atau kertas apa saja, malah ada semacam spons khusus yang dijual di toko 100 yen. Setelah semua minyak terserap baru kertas atau spons itu dimasukkan ke sampah burnable. Buat aku yang males ribet, yah selama di Jepang acara goreng menggoreng dibatasi hingga level terendah…kecuali kalau lagi kangen makan teri sambel….ya mau gak mau kudu harus nggoreng. Lagian makanan tumis-tumis, kuku-kukus, kuah-kuah lebih sehat dari pada deep frying food toh…? Hehehe…nge-les aje…ntar balik ke Indo gorengan lagi deh…

Sampai dimana tadi ? Oh iya itu tadi baru 2 kategori umum. Dua kategori itu masih dibagi lagi; ada BURNABLE WASTE berupa botol plastic bekas kosmetik, paper cups, sandal jepit, barang-barang terbuat dari kulit, sepatu olah raga, barang-barang dari karet, CD, kaset. Barang-barang seperti ini akan diambil 2x dalam seminggu. Sampah lain lagi seperti furniture, electric carpets (untuk musim dingin), kasur, selimut, box/lemari plastic, pot bunga, koper (suitcase), ski boots, helm, mainan anak, masuk kategori BURNABLE BULKY WASTE. Sampah seperti ini diambil (frequency of collection) nya 3x dalam setahun. Yang termasuk UNBURNABLE WASTE berupa sepeda, sepeda motor (lebih dari 50 cc..hihi…gile, buang kok barang ginian), payung, panci, ceret, kompor, jam, vacuum cleaner, radio kaset recorder, kipas angin, heater (pokoknya semua home electric appliances), barang-barang keramik, diambil sekali sebulan. Ditambahi keterangan di manual-nya : weight cannot exceed that carried by two people; Request the store at which you bought these goods to take them back. Mungkin karena itu  orang Jepang punya kebiasaan menjual kembali barangnya sebelum rusak tapi sudah bosan memakainya. Hampir setiap sebulan sekali mereka mengadakan bazaar semacam garage sale yang pesertanya adalah orang-orang yang ingin ‘membuang’ barangnya, mungkin mau beli barang baru tapi supaya rumahnya gak penuh, barang lama harus dihabisin dulu. Bagi si pembuang sudah tidak berguna tapi pasti masih berguna untuk orang lain. Menurut cerita teman-teman, kadang bisa dapat rice cooker, heater, bahkan laptop yang dibuang oleh pemiliknya di tempat pembungan sampah kampus…^_*

Kategori terakhir adalah HARMFUL AND DANGEROUS WASTE yaitu mercury batteries, dry battery, clinical thermometer, cermin, fluorescent lamp. Barang-barang ini harus dimasukkan ke dalam red bags khusus katanya. Akan dikumpulkan atau diambil 4x dalam setahun di bulan Maret, Juni, September, dan Desember.

Di lab juga berlaku peraturan yang sama. Di setiap lorong bench kerja tersedia 3 macam bak sampah plastic yang diberi tiga macam trash bag, warna hitam untuk limbah plastic seperti tip pipet, cling wrap, rubber gloves ataupun sarung tangan plastic, botol bekas bahan kimia, weighing boat (plastic untuk menimbang zat kimia), pokoke yang judulnya plastic. Lalu trash bag warna biru untuk limbah kertas, seperti tisu, paper towel, kotak kertas bekas wadah plastic gulung, kotak kemasan bahan kimia. Trash bag bening untuk sampah domestic bekas wadah makanan; di labku tiap student dapat bench untuk laboratory work dan bench computer. Biasanya sambil browsing atau ngetik mereka bisa sambil ngemil atau makan siang, gak tau tuh di labku gak strict tidak boleh makan dan minum, padahal yang namanya lab pasti ada racunnya yang kadang gak tercium, gak terlihat…tapi di setiap sink tersedia sabun cuci tangan. Jadi limbah bekas bungkus roti, snack, beda dengan limbah eksperimen.

Untuk satu lab disediakan wadah tempat limbah aluminium foil, limbah kaca/beling (tulisan katakana-nya garasu)sempet bingung apaan siiih…garasu, garasi…ternyata asalnya dari “glass”  hayah…gak bisa bilang L dan gak bisa nyebut huruf mati di ujung…

Ada lagi limbah yang berbahaya yaitu limbah gel agar bekas elektroforesis, karena gel ini menggunakan pewarna khusus untuk DNA yang disebut ethidium bromide, zat karsinogenik dan mutagenic. Gak tau tuh kapan tumpukan gel dibuangnya karena tiap kali aku buang gel masih banyak aja dalam wadahnya. Kalau tiap orang di lab dalam sehari buang gel rata-rata 160 ml aja, widiiih…ngeri deh.

Limbah lain adalah limbah kultur ataupun kontaminan bakteri, cendawan, penanganannya harus mengikuti peraturan / SOP yang berlaku universal bagi lab pengguna mikroba sebagai objek riset. Jika sudah tidak dipakai atau akan dibuang harus dimusnahkan dalam autoklaf dengan suhu dan tekanan tertentu (seperti panci tekan). Istilah ku dan teman-teman di labku di Indonesia di-killing.  

Kami di Indonesia sering saling ledek…wah kok keseringan killing dari pada kultur…hahaha..artinya kulturnya lebih sering terkena kontaminasi. Yang ditanam sel daun, yang tumbuh subur malah cendawan….yang dikultur cendawan malah yang nongol bakteri…cape deeeh. Berarti bumi Indonesia itu kaya,…bahkan di udara aja bertebaran keanekaragaman hayati berupa ribuan jenis spora mikroba. Tinggal pilih aja media yang sesuai…tunggu 2 hari…nongol deh mereka…trus dipanen….

Jadwal pengambilan sampah pun ada ketentuannya. Yang jelas hari minggu dan libur nasional tidak akan ada pengambilan sampah. Jadi ya kalau hari sabtu lupa buang sampah, you have to keep your garbage in your room until the next collection day. Sampah burnable diambil tiap hari rabu dan sabtu. Sampah botol PET tiap hari senin minggu kedua, sampah kaleng tiap senin pertama dan ketiga.

Di lab  juga ada pembagian hari buang sampah. Labku jadwal buang sampah dan bersih-bersih lab adalah tiap jumat jam 13. Awalnya aku gak diberitahu, tapi ya ikut aja. Semua student dan asisten professor ikutan kerja. Cuma Yokota Sensei dan Akashi Sensei aja yang gak ikutan. Ada yang nyapu, ngepel, mengosongkan bak sampah lalu mengumpulkannya dan menggunakan trolley mereka bergantian membawanya ke luar gedung untuk dikumpulkan di container sampah khusus gedung BIO. Setiap gedung punya sendiri-sendiri kayanya. Di setiap dormitory juga ada bangunan khusus untuk buang sampah.

 Oh ya aku teringat kebijakan salah satu hotel di Kobe, saat aku diajak ketemuan dengan  teman kuliahku dulu. Dia sedang mengikuti workshop di Kobe selama seminggu. Jadi setiap pagi bagian housekeeping hotel menyediakan kertas yang mencantumkan option apakah kita meminta seprai, sarung bantal, selimut, handuk, hand towel, diganti hari itu, ataukah diganti 2 hari sekali. Jika kita tidak meminta untuk mengganti, tetapi hanya merapihkan saja, maka sebagai apresiasi, pihak management hotel akan memberikan reward berupa air mineral gratis sebanyak jumlah item yang tidak diganti. Dari prinsip ekologi dan penghematan energi jelas, jika belum terlalu kotor, buat apa dicuci karena dengan begitu akan menghemat air, sabun cuci, dan listrik untuk laundry.

 Wahai teman, jika pembuat peraturan dan pelaksana peraturan mau bekerja sama, sebuah sistem akan berjalan tertib dan semua akan merasakan hasilnya. Dan jangan pernah menjadi penganut jargon “peraturan dibuat kan untuk dilanggar…”

PENGALAMAN BERBELANJA MAKANAN HALAL DI JEPANG

Filed under: My Stories — ratna @ 6:48 pm

cemilan

HAMPARKAN SAJADAHMU DI MANA SAJA DI BUMI SAKURA

Filed under: My Stories — ratna @ 6:37 pm

Ritual tahunan yang kulalui bersama anak dan suami tercinta setiap Hari Raya Idul Fitri adalah pulang mudik ke rumah orang tua di Madiun. Yang paling seru dan banyak kenangan, jika kami naik kendaraan pribadi. Nyaman karena kami bisa berhenti kapan dan di mana saja, tidak mengejar target harus sampai dimana dan jam berapa. Kami berangkat hampir selalu setelah shubuh; kalau tidak macet, perjalanan dapat kami tempuh dalam waktu 15 jam. Itu sudah termasuk waktu untuk berhenti sholat, unloading cairan di kantung kemih dan loading bensin (^_^). Tidak ada acara makan karena meskipun safar kedua anakku tetap bertahan tidak membatalkan puasa…..lebih berat bayarnya Mah…begitu kata mereka. Biasanya kira-kira setengah jam sebelum waktu sholat dzuhur, aku dan anak-anak sudah ‘hunting ‘ mesjid yang bakal kami singgahi. Kriterianya, harus yang terletak di sebelah kiri jalan (supaya tidak harus putar balik arah), yang punya tempat parkir besar atau di depan mesjid ada tempat untuk parkir mobil, dan terakhir, yang tempat wudhu-nya cukup bersih; mesjid tidak harus besar dan bagus, yang penting bersih. Kadang sudah berhenti, pas masuk, tempat wudlu-nya bau, lantainya kotor, padahal sandal sudah harus dibuka…kalau sudah begitu, naik mobil lagi dan hunting lagi. Bersyukur kita berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga hampir dalam jarak 2 km selalu ada mesjid, musholla atau langgar, itu baru yang di tepi jalan Pantura, mungkin akan makin banyak jika kita mengambil jalur alternatif melewati jalan-jalan kecil. Belum termasuk musholla yang ada di SPBU. Trik suamiku yang memang pengalaman traveling ngubek-ngubek pulau Jawa jalan darat, kalau mau sholat lebih baik di mesjid atau musholla. Tapi kalau mau pepsi (bukan merek minuman lho ya) or bakery ^_^ lebih baik di SPBU, biarpun harus bayar yang penting bersih. WC di mesjid memang gratis, tapi lebih sering kurang bersih… Selama di Jepang, aku dan teman-teman sesama muslim punya kesepakatan, jika akan pergi seharian suntuk sampai malam, kami membawa perlengkapan sholat dan kompas (bukan nama koran juga yaaa). Tapi kalau baru berangkat setelah dzuhur, biasanya kami menjama’ dzuhur dengan ashar. Maghrib biasanya kami jama’ dengan Isya jika kami sampai di asrama sudah masuk waktu Isya. Perlengkapan lain yang selalu kubutuhkan adalah botol plastik bekas minum air mineral. Jadi setelah isinya habis diminum, botol belum kubuang sampai waktunya harus wudlu. Memang saat bepergian ke luar rumah, yang agak jadi masalah adalah ambil wudlu. Botol berguna untuk menampung air dari keran (umumnya keran menggunakan sistem sensor, cukup kita dekatkan mulut botol ke mulut keran…airnya ngocor deh). Di toilet jangan harap ada ember plus gayung… hehe..indonesia bangeeeettt. Standar toilet termasuk yang ada di stasiun, dilengkapi dengan wastafel dan cermin. Jadi kalau mau wudlu terpaksa – maap-maap – kaki nangkring masuk ke wastafel. Kalau toilet pas ramai, akhirnya membasuh muka sampai telinga di wastafel, untuk kaki terpaksa tampung air di botol, lalu cari WC yang closetnya jongkok (japanese style closet), dan basuh atau siram kaki di situ, pelan-pelan supaya air basuhan tidak nyiprat ke mana-mana dan air di closet juga tidak memercik lagi ke kaki kita. WC hampir semua lantainya kering, baik yang jongkok ataupun yang western toilet style (posisi duduk). Hmmm kok bisa ya…di Indonesia yang namanya WC selalu always basah…yang bisa bertahan kering sepertinya WC di mal-mal atau hotel keren yang tiap sebentar dipel sama cleaning servicenya. Mungkin karena gak ada ember itu makanya gak basah…hehe…masalahnya wong Indonesia selesai buang air harus dibanjur, kalau wong jepun mungkin pakai tisu kelar urusan. Terlebih kalau musim dingin, meskipun dibanjur pakai air hangat, pasca terkena air, pasti efeknya dingiiiinnnn…. Beres urusan wudlu, urutan berikutnya adalah mencari tempat untuk sholat. Di Jepang banyak sekali temple/castle juga koen (taman) atau public area yang terbuka, mungkin di Indonesia seperti di area Monas, Taman Suropati. Aku pernah sholat di temple, taman, tempat parkir, tangga dan tepi kali. Semuanya berkesan dan tak akan pernah kulupakan. Yang paling lucu adalah saat aku berdua dengan seorang teman ingin mencari tempat sholat di halaman luar Todaiji Temple di Nara. Todaiji Temple sebagai landmark Nara, sangat terkenal karena di dalamnya terdapat patung Buddha terbesar di Jepang, Nara Daibutsu (Great Buddha of Nara). Kami berdua mencari tempat yang sepi di halaman temple yang luas itu. Yaaa sebisa mungkin di tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang pengunjung. Memang kalau toh akhirnya ada satu-dua orang yang lewat, paling banter akan menengok sejenak dan jalan lagi. Karakter orang Jepang menurutku ‘mind your own business’…asal gak bikin gaduh dan gak ganggu, mereka akan cuek aja. Lha kalau kita sengaja sholat di tempat yang ramai banget, baru tuh bakal jadi tontonan orang banyak, bisa-bisa malah didatangi security deh. Kenapa kubilang lucu ? Setiap kali dapat spot yang kami anggap ok, ternyata setelah didekati banyak ‘ranjau’ kotoran kijang…hihihiiiii….mirip kotoran kambing bulet-bulet hitam (eh malah dibahas yak, soriiii). Oiya, kijang (sika) adalah mascot Nara. Todaiji Temple terletak di area Nara Park. Kijang-kijang itu sengaja dibiarkan hidup bebas di halaman temple dan di Nara Park yang luas, berbaur dengan pengunjung, hampir sama seperti kijang-kijang yang ada di Istana Bogor. Kalau ‘kijang-kijang’ di Jakarta rame-rame ngabisin bensin karena ‘parkir’ di jalanan tiap jam pulang kantor Hampir 15 menit kami blusu’an – apa ya bahasa Indonesia-nya- pokoknya jalan seperti orang nyari barang yang jatuh. Akhirnya dapat tempat yang lumayan bersih, hanya saja beraspal, agak berbatu-batu dan panas, tidak ternaungi pohon. Tadinya kami berharap bisa dapat tempat di hamparan rumput di bawah pohon. Rupanya tempat seperti itu juga jadi favorit si kijang untuk BAB… hehehe. Di hamparan yang keras dan gak ada pohonnya mereka gak mau poop kayanya…(di kuliah Ilmu Perilaku Hewan dibahas gak ya defecation sites favoritnya mammalia ^_^…dulu gak ikut kuliahnya siiiih). Giliran kompas yang membantu kami mencari arah barat, setelah ketemu baru kami hamparkan plastik semacam tikar kecil, nyaris seukuran sajadah, biasanya untuk alas piknik anak-anak jepang. Sajadah beneran kupakai untuk sholat di asrama. Kami sholat bergantian. Pengalaman lain lagi sewaktu aku pergi berdua saja dengan teman jepangku, sekaligus mentor-ku Saki Hoshiyasu, seorang mahasiswa doktor tahun ketiga. Dia dibayar khusus oleh Student Affair Section kampus NAIST sebagai Teaching Assistant bagi visiting researcher seperti aku, atau exchange student yang terdaftar di lab tempatku riset. Dia mengajariku bagaimana mengoperasikan semua alat yang akan kupakai di lab, karena hampir semua panel yang ada di alat-alat bertuliskan aksara kanji…termasuk microwave !!…tobaaat, bener-bener jadi buta huruf waktu pertama masuk lab. Dia juga mendampingi aku ke City Hall, Kantor Walikota untuk membuat alien card (KTP untuk orang asing yang stay lebih dari 90 hari; beneran dianggap mahluk asing ~ alien), apply asuransi kesehatan, buka account bank, sampai ke mal menemani beli kasur tipis, selimut, bantal, gorden, dan kulkas bekas….huihh….full service dah pokoknya mah. Ceritanya, hari ahad tanggal 24 Oktober kemarin merupakan jadwal rutin maintenance tahunan untuk saluran air, listrik dan gas di semua gedung di kampus, termasuk dormitory jam 10.00 –16.00. Pengumuman dikirim 2—3 minggu sebelumnya via email, juga selebaran-selebaran yang di tempel di pintu masuk dormitory. NO WATER PERIODE, AND ALL-CAMPUS POWER FAILURE istilah mereka. Sehari sebelumnya DOWNTIME FOR NETWORK atau INTERNET OFFLINE di lab dan di asrama. Bayangin, udah kaya jamannya Flinstone, gak ada air, listrik, gas, putus hubungan dengan dunia maya… mau ngapain kan. Kerja di lab gak bisa, di asrama kalau tahan tidur seharian kedinginan ya mangga wae. Nah, Saki san menawari aku untuk jalan-jalan kemana aja terserah aku. Akhirnya dia memilihkan Arasiyama di Kyoto. Sepertinya Saki gak biasa lihat ramalan cuaca sebelum pergi, padahal teman Indonesiaku sudah telpon pagi-pagi sebelum listrik mati menanyakan apakah jadi pergi, karena ramalan hari itu akan hujan seharian katanya. Aku siap-siap bawa payung. Dan benar ! Mulai datang sampai mau pulang hujan gerimis aje…gak ada sang bangau tapi ^_^ jadi inget lagunya Bang Benyamin sama Mpok Ida Royani dah. Karena berangkat dari Nara sudah jam 11, kami sampai sekitar jam 1, lalu makan, lalu masuk ke salah satu rumah yang ternyata tempat membuat kimono. Setelah itu jalan-jalan di bawah guyuran gerimis. Akhirnya masuk waktu ashar jam 14.50 (semakin bergeser ke winter, waktu sholat semakin maju). Kukatakan pada Saki “I have to pray”. Dia tanya apa aku butuh peralatan atau bangunan khusus ? Kujelaskan aku sudah membawanya, kutunjukkan alas plastik, kompas, kaos kaki dan kaos tangan. Kebetulan ada tempat istirahat berupa tempat duduk beratap yang menyatu dengan bangunan toilet. Kuminta dia menungguku di situ, sekalian menjaga tasku, aku masuk toilet untuk wudlu. Selesai wudlu aku mengambil semua peralatan dan mencari tempat. Saki sempat bilang “It’s hard”…aku menangkap maksudnya, dia melihat persiapan aku mau sholat sepertinya susah sekali. Aku cuma senyum. Aku menemukan tempat yang kuanggap agak sepi dan Alhamdulillah kurasakan hujan berhenti. Aku sholat dzuhur dijama’ dengan ashar. Sholat khusyu bukan berarti tuli kan ya. Selama sholat terdengar orang berbicara keras-keras, sepertinya dekat sekali. Setelah selesai sholat dan berdiri sambil melipat alas, barulah aku tau, ternyata aku sholat menghadap kearah sungai Hozu yang merupakan jalur untuk boat tours. Masya Allah…hihihi…memang sewaktu melintasi jembatan tadi aku ngeliat dari kejauhan banyak boat yang disewakan. Saki juga nawarin apa mau naik boat, tapi sepertinya gak memungkinkan karena hujan. Hehe..niatnya mau nyari tempat sholat yang sepi eh ternyata malah gak sengaja dapat tempat yang dilewatin orang plesir….gomen…gomen… Memang sungainya agak turun dibanding tempat aku sholat. Pasti mereka yang melaju dengan boat dan pas lewat ngeliat aku dari kejauhan…heran kali mereka …ngapain tuh orang tunggang tungging hujan-hujanan. Tapi Subhanallaah…sepanjang aku sholat, hujan benar-benar berhenti. Selesai sholat aku dan Saki menjelajah lagi sampai daerah yang namanya Bamboo grooves…daaaaaan hujan lagi…malah semakin asoi…benar-benar unforgettable moment.