July 29, 2011

Budaya swalayan

Filed under: My Stories — ratna @ 4:45 pm

Vending machine tiket kereta

Mesin fare adjustment Mesin fare adjustment
Beli bensin Beli bensin

Seorang teman pernah mengatakan bahwa upah tenaga kerja di Jepang, mungkin juga di negara-negara Eropa sangat mahal. Swalayan adalah solusinya. Ya..vending machine berisi aneka minuman seperti teh, kopi, soft drink, air mineral, minuman isotonic, bisa kita temukan  di mana saja. Dalam jumlah yang terbatas ada pula vending machine berisi rokok. Khusus untuk rokok, tidak dapat menggunakan uang, tetapi voucher khusus yang baru dapat dibeli jika pembeli sudah berumur  di atas 18 tahun…Dan Alhamdulillah semua vending machine dapat beroperasi dengan baik, karena tak ada satu tangan jahil pun yang berusaha ‘mengakali’-nya ….(tau kan maksudku ?)

Naik bus kota, ada dua macam cara pembayaran, bisa langsung memasukkan koin sesuai dengan jarak perjalanan kita; biasanya saat naik, pintu masuk dibuka oleh supir, lalu kita ambil tiket yang keluar dari mesin. Di tiket tertera nomor, yang menunjukkan awal penghitungan tarif yang harus kita bayar hingga tempat tujuan. Sebelum turun, koin dimasukkan bersamaan dengan tiket ke boks yang ada di samping tempat duduk supir. Supir hanya mengawasi dan mengucapkan terima kasih setiap kali ada penumpang memasukkan koin dan turun dari bus….hehe…gak capek ya…kaya kaset rusak….

Oh ya cara lainnya adalah dengan membeli kartu yang bisa dibeli di stasiun kereta, kartu ini bisa diisi ulang jika sudah habis. Pemilik kartu cukup menempelkan kartunya ke scanner yang ada di dekat supir.

Mau naik kereta, bertransaksi pun dengan vending machine; bisa membayar dalam bentuk tiket sekali jalan, atau membeli kartu terusan yang bernilai 1000, 2000, atau 5000 yen. Setiap masuk peron, tiket dimasukkan ke slot masuk, nanti tiket akan keluar melalui slot di sisi dalam peron. Ketika sampai di stasiun tujuan dan akan keluar, prosesnya sama, tetapi jika tiket atau kartu kita bernilai kurang dari tarif sebenarnya, pintu penghalang akan otomatis tertutup disertai suara peringatan. Biasanya petugas stasiun sudah tau, berarti si penumpang harus melakukan “fare adjustment”. Di mesin ini kita memasukkan tiket; mesin akan menghitungkan berapa kekurangan tarif yang harus dibayar.  Di beberapa vending machine yang tidak ada tombol English version-nya kalau mau cepat, aku biasanya membeli tiket seharga 150 yen, nanti di tempat tujuan tinggal adjustment…soalnya kadang pusing baca peta jalur kereta dan mencari tau berapa harga tiketnya…hehe…trik dari teman juga tuh…

Mengisi bensin pun swalayan. Pengemudi mobil harus turun, memencet tombol berapa liter bensin yang akan dibeli, dan memasukkan nozzle ke tangki mobil. Setelah itu membayarnya di dalam bangunan yang berhadapan dengan mesin tempat pengisian bensin. Kalau di SPBU Indonesia, bangunan seperti itu biasanya untuk menjual oli, dan bahan lain untuk keperluan mobil, atau toko swalayan kecil yang menjadi satu kesatuan dengan SPBU. Kalau mau coba-coba kabur setelah mengisi bensin…bisa aja siih…tapi akan terlihat karena ada kamera CCTV …

Saat belanja di pasar swalayan, kasir akan memindai barcode harga barang belanjaan kita, lalu meletakkannya lagi di keranjang lain. Beda dengan  di Indonesia, selesai discan, barang belanjaan langsung dimasukkan ke kantung-kantung plastik oleh kasir…kadang malah ada asisten kasir. Di Jepang, setelah bayar, kita ditawari apakah mau kantung plastik atau tidak, karena sudah jadi kebiasaan orang Jepang yang berbelanja, membawa tas belanjaan dari nilon (seperti bahan  untuk payung) yang bisa dilipat. Jika kita minta tas plastik, kasir akan memberi  dua atau tiga lembar sesuai banyaknya belanjaan. Di dekat kasir berderet meja. Di situ kita memasukkan sendiri belanjaan kita, trolley dan keranjangnya harus dikembalikan di dekat pintu keluar.

Pengalaman lain adalah di kantin kampus …itu adalah kali pertamaku makan siang di Jepang. Di panel atas bench tempat serving makanan tertulis kalau kita harus beli tiket sesuai dengan makanan yang dijual pada hari itu. Terpaksa aku keluar lagi, di depan pintu masuk cafetaria  ada papan bergambar makanan; di sebelah papan bergambar itu ada vending machine, kita tinggal pilih mau makan apa. Tiket diserahkan ke waiter di dalam. Soooo…gak usah pake omong-omongan.

Kuperhatikan mereka yang sudah selesai makan, masing-masing harus mengembalikan baki di satu tempat di depan jendela dapur. Sisa makanan dibuang ke bak  penampungan, sumpit, di tempat sampah yang terpisah dengan botol plastik, sedangkan gelas, piring atau mangkuk harus dicemplungin ke bak-bak air besar yang sudah berisi sabun. Kita memasukannya lewat sebuah loket. Di balik loket yang merupakan sambungan dapur untuk memasak, ada petugas yang mengambil mangkuk-mangkuk yang terapung di bak itu, membasuhnya dan memasukkan ke mesin pengering. Jadi meja bekas tempat kita makan tetap bersih, tidak  seperti kalau kita mau makan di restoran siap saji di Jakarta, saat kita datang harus dibersihkan dulu karena masih kotor bekas pengunjung sebelumnya. Hmmm teratur banget yaaa….sebenarnya Indonesia bisa juga begitu, tapi nanti makin banyak pengangguran deh…abis semuanya self service…

Azolla si pupuk hidup

Filed under: All About Biology — ratna @ 4:39 pm

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak  15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti  karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.  

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.

Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak  70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan  terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari  0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla  akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk  kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.  Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari  dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

rice-duck-azolla system

Seorang petani di Kyushu, Jepang  T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan  dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina  dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah  azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap  3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual  (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi).  Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di  Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China). 

azolla

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama.  Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern).

(Dirangkum dari banyak sumber)

July 8, 2011

Jikken iseng

Filed under: My Stories — ratna @ 2:18 pm

Jikken = experiment (bhs Jepang) , iseng: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sekadar main-main; tidak bersungguh-sungguh. Namanya juga iseng ya nggak penting-penting amat sih, cuma karena penasaran aja. Penasaran karena dari pengamatan random, muncul pertanyaan…lalu sampai kepada hipotesis. Untuk membuktikan hipotesis harus dilakukan pembuktian. Lalu masalahnya apa ?

Latar belakang masalah, karena aku penasaran kok  2 orang temanku bisa punya model tulisan tangan yang sama, baik huruf maupun angka.

Secara tidak sengaja aku juga melihat tulisan petugas penginstall saluran gas di dormitory, yang hampir sama dengan tulisan teller bank, lalu juga tulisan petugas di City Hall bagian urusan alien card. Bahkan setelah kuperhatikan coretan tulisan Akashi Sensei pun nyaris sama juga!!

Tulisan petugas penginstall gas

Tulisan petugas penginstall gas

 

Tulisan petugas kantor pos

Tulisan petugas kantor pos

Akhirnya mulailah kulakukan pengambilan data.

Tempat jikken, Laboratory of Plant Molecular Morphogenesis, Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Nara.

Kumulai dari Saki mentorku dan Hanada yang bench-nya di sebelahku.

Agar tidak mengganggu, sampel lain kuambil jika kebetulan ada yang memang sedang ngobrol santai, sedang tidak mengerjakan apapun. Biasanya kalau sudah jam 7–8 malam. Karena di jam-jam itu mereka biasanya selesai makan malam sebelum melanjutkan pekerjaan. Reaksi pertama pasti heran saat kuminta mereka menuliskan huruf kecil a sampai j dan angka 1 sampai 10. Aku cuma senyum dan kukatakan “my second experiment”…

Lalu kujelaskan kepada mereka keherananku kenapa hampir semua tulisan orang Jepang mirip. Bahkan cara mereka membuat lingkaran (contohnya melingkari pilihan…di form-form biasanya ada piihan sex: male/female, marital status: single/married) pun sama. Lingkaran dibuat searah jarum jam, beda dengan kita yang rata-rata berlawanan arah jarum jam…iya apa iya ?

kato

Lalu untuk angka, yang sangat terlihat jelas hampir seragam angka 7 dan 9. Waktu ‘temuan’ku itu kupaparkan kepada mereka, mereka pun heran, dan baru membanding-bandingkan tulisannya sendiri dengan tulisan teman lainnya.

Waa lucu banget …

 maki harada

Gimana cara guru sekolah dasar di Jepang mengajar  menulis ya ? Jaman aku kecil sampai sekarang si Adek, masih belajar menulis huruf sambung pakai buku bergaris tiga. Hasilnya yang terbawa sampai sekarang, tulisan tidak sambung dan setiap orang beda. Ada juga yang mirip sih.

Lalu kuingat waktu pertama kali si Adek masuk les metode belajar matematika asal jepang. Waktu baru masuk, working sheet-nya sampai hampir sebulan hanya menebalkan angka 1 sampai 10 yang tercetak di lembaran angka dengan garis terputus-putus. Adek betul-betul bosan karena dia merasa sudah fasih menulis angka. Tetapi setelah berbulan-bulan barulah terlihat hasilnya: tulisannya menjadi kecil-kecil dan rapi. Awalnya, tulisan Adek besar-besar dan kurang rapi.

Mungkin seperti itu pula metode belajar menulis yang diajarkan di SD Jepang.

metode nulis

Dulu aku pernah tau bahwa katanya bentuk tanda tangan atau tulisan tangan seseorang berkaitan erat dengan karakter dan kepribadiannya. Bahkan ada orang yang bisa ‘membaca’ karakter seseorang hanya dengan mempelajari bentuk tulisannya. Nah …sepertinya ini tidak berlaku untuk orang jepang, …karena kuperhatikan karakter dan sifat teman-temanku itu sangat berbeda satu dengan yang lain, padahal tulisan tangan mereka nyaris mirip.

Tapi ada karakter umum yang melekat di semua orang jepang adalah: sangat sopan dan santun, menghargai orang lain, siap membantu tanpa diminta, tetapi tidak ingin mencampuri urusan orang lain.

February 3, 2011

facebook penting gak penting

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:34 am

twit

Ketika isu layanan BB akan diblokir santer beredar, aku termasuk orang yang tenang-tenang saja. Karena aku berpikir toh masih bisa chating via YM, masih bisa berkirim sms, dan email. Tapi sekali waktu saat sedang nonton TV, terbaca olehku di running text bahwa bulan Maret situs jejaring sosial facebook akan ditutup oleh pendirinya sendiri. Hmm..ini baru bikin rada-rada panik. Walaupun belum tentu kejadian bener, aku gak mau kehilangan semua kontak teman yang ada di facebook. Kuimpor semua email address teman yang ada di facebook ke Yahoo-ku. Jadi kalau bulan Maret beneran akan ditutup monggooo Mister Z…aku sudah save semua alamat kontak teman-temanku.

Sayang juga sebenarnya kalau FB akhirnya ditutup. Meskipun banyak pihak yang menganggap akun FB lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus kejahatan yang berbau-bau pelecehan seksual, penculikan yang bermula dari perkenalan melalui FB. Lalu kasus heboh seorang wanita yang melakukan penipuan melalui bisnis penjualan voucher yang memakan banyak korban friend-nya di FB. Tapi di sisi bagusnya banyak  yang memanfaatkan FB sebagai media promosi barang dagangan.

Buatku sendiri facebook penting gak penting. Awal aku buat akun, karena diinvite oleh temanku yang sudah lebih dulu punya. Lalu anakku yang membuatkan. Maklum deh jaman dulu agak-agak gaptek kalau soal begini-beginian.

Manfaat pertama yang kurasakan (hampir semua orang kayanya juga lah) aku bisa menemukan dan ditemukan oleh teman-teman jaman kuliah, SMA, SMP bahkan SD. Banyak yang tidak berubah, tapi ada juga yang tidak  kukenali lagi baik dari foto maupun dari namanya karena sudah sangat berubah. Terlebih kalau foto profil yang dipasang bukan gambar diri sendiri, tapi gambar anaknya, bonekanya, kucingnya, atau memakai nama yang berbeda dengan nama saat dulu kukenal mereka. Kalau ada yang mengajak berteman dengan nama dan penampilan tersamar seperti itu aku terpaksa melihat mutual friendnya. Aku tak berani menjadikannya teman kalau sama sekali tak ada mutual friendnya. Aku bukan ABG yang bangga kalau punya teman virtual 2000 orang.  Biar saja temanku cuma sedikit tapi aku mengenal mereka dengan baik. Sebagai privasi, wall, status dan semua dataku ku-setting FRIENDS ONLY yang bisa mengakses. Wallaahu a’lam kalau pren-nya pren bisa juga mengakses…asal data yang terlalu pribadi tak dipajang sepertinya tak  masalah.

Pentingnya FB yang kedua  kurasakan  dalam tugasku sebagai penasehat akademik buat 11 mahasiswaku angkatan 2006. Kasian anak-anakku itu, baru setahun aku mengasuh mereka, terpaksa kutinggal tugas belajar. Meskipun kutinggal gak jauh-jauh amat, tapi tetap butuh waktu khusus kalau ingin bertemu muka. Dan pertemuan khusus yang kami sepakati adalah saat memasuki awal semester baru sebelum pengisian IRS (Isian Rencana Studi). Pengisian IRS memang bisa dilakukan online di mana pun mereka berada, tapi tetap aku menjadwalkan agar bisa bertemu untuk berdiskusi dan mengevaluasi masalah akademik dan non akademik mereka. Kuusahakan untuk mendengarkan satu persatu laporan, ataupun curhat mereka, persis kaya dokter puskesmas keliling buka praktek ^_^

Kerepotan terjadi saat aku harus meninggalkan mereka ke Jepang 6 bulan. Akhirnya kuminta mereka membuat thread di inbox FB semacam mailing list mini yang beranggotakan 11 anak-anakku dan aku. Di thread itulah siapapun yang punya masalah tentang kuliah, ujian, proposal penelitian, seminar, skripsi, bebas menulis dan bercerita. Siapapun bisa membaca, saling bertanya, saling memberi saran, saling menyemangati, kadang-kadang juga saling meledek. Seru juga membaca pesan mereka. Kalau tidak perlu jawaban dariku aku cukup membuka thread, membaca dan kubiarkan mereka berdiskusi. Dari situ aku bisa memantau kemajuan kuliah atau kemajuan penelitian mereka masing-masing. Kalau dipikir-pikir lucu juga, padahal universitas sudah menyediakan media untuk berkomunikasi melalui suatu sistem informasi akademik berbasis internet. Tetapi  kami lebih memilih lewat FB….ketauan Pak Rektor bisa berabe nih. Gak apa-apa ya Pak, bukan saya saja lho Pak yang lebih memberdayakan FB untuk urusan akademik. Beberapa teman saya  juga sesekali buat pengumuman ujian, deadline laporan, deadline ini itu membuat DPO  or Daftar Pencarian Orang (baca: mahasiswa) di wall mereka, maka si mahasiswa yang juga jadi pren pasti baca. Jaman 10 tahun yang lalu saat aku jadi PA angkatan 2000 agak susah mau manggil mahasiswa, apalagi kalau mahasiswa di tingkat akhir.

Dari FB aku bisa tau sedang apa, dimana dan mau apa teman-temanku hanya dengan melihat statusnya.  Di bulan Oktober saat aku di Nara, seorang temanku – sebut saja Ratih namanya – mengontak aku via FB, dia akan mengikuti sebuah workshop di Kobe. Kamipun mencoba janjian bertemu. Padahal selama 15 tahun di Indonesia kami belum pernah bertemu setelah lulus kuliah. Aku di Jakarta, dia di Surabaya, ketemunya ya lewat FB.  Maka terjadilah komunikasi intens lewat FB sehari sebelum hari H. Ratih memberiku nama hotel tempatnya menginap, nomer kamar, dan nama stasiun kereta terdekat dengan hotel. So, berangkatlah aku dari Nara ke Kobe berbekal jadwal dan rute kereta serta letak hotel yang kuprint dari google map. Alhamdulillah kami bisa bertemu. Rasanya gak percaya.  Kata Ratih “Gimana ceritanya kalau gak ada FB ya Mbak…mana bisa kita ketemu…di Jepun lagi” hmmm betul Tih…untung ada FB.

Selain berita gembira seperti  hari ulang tahun, pernikahan, kelahiran, wisuda, berita duka pun banyak kuketahui pertama kali justru lewat FB. Tahun 2009 saat aku di jepang aku membaca berita duka berpulangnya dosenku, guruku Bapak Drs. Ellyzar I.M. Adil. Sebelum berangkat aku sempat bertemu beliau;  rasanya tak percaya waktu kubaca berita itu di wall salah satu mahasiswaku. Lalu tahun 2010 kemarin saat aku berada di jepang untuk kali yang kedua, kembali aku membaca berita meninggalnya dosenku yang lebih senior, Bapak Drs. Sunarya Wargasasmita. Setelah itu baru aku menerima pemberitahuan dari milis dosen. Mengirim berita via email agak ’sedikit’ repot karena kita harus memasukkan alamat yang kita tuju. Tapi “mengirim” berita melalui  FB kita cukup menulis di wall, dalam sekejap berita sudah terbaca oleh banyak orang.

Tools, bisa punya dua peran. Baik dan tidak baik.  Semua bergantung pada sang user. Kalau bijaksana dan disiplin menggunakannya, Insya Alloh peran tidak baiknya  bisa minimal. Harus kuakui FB memang “connecting people”. Selain juga bisa jadi tempat belajar gratis (pulsanya mah gak gratis ye)…aku senang punya friend yang hobi posting link religi, link edukasi, doa-doa, lagu-lagu, kalimat-kalimat bijak yang memotivasi, gambar-gambar makanan, dan tempat wisata. Dari mahasiswa dan mantan mahasiswaku aku juga bisa ‘belajar’ istilah atau apapun yang sedang trend yang kadang juga gak aku mengerti. Aku juga bisa tau sekarang mereka ada di mana, berkarya dimana.

Dan yang gak penting…..kalau aku lagi dongkol karena  jadwal kereta ngaret deui, ada tempat buat ngedumel….heheh…di tembok facebook!!

January 30, 2011

Jago karate(h)

Filed under: My Opinion — ratna @ 11:47 am

Ada anekdot, seseorang bertanya kepada temannya sedang apa dia. Sang teman menjawab: “Jago karateh”. Sang teman mengira temannya itu sekarang telah menjadi seorang pendekar yang mumpuni bela diri karate. Padahal sebenarnya dia sedang menjaga kertas, alias menjual kertas. Dalam bahasa Minang “jago karateh” artinya menjaga kertas.

Jika kita melihat arti konotatif, menjaga kertas bisa berarti menjaga agar kita tidak boros dalam penggunaan kertas. Aku ingat waktu kuliah salah seorang dosenku tiba-tiba berkata pada teman yang duduk di bangku baris terdepan. “ Wah kamu itu memboroskan kertas”. Temanku dan kami semua hanya bengong mendengarnya, lalu Pak dosen menjelaskan, karena tulisan temanku itu besar-besar, maka akan cepat menghabiskan buku, buku itu kumpulan kertas, kertas itu berasal dari kayu, untuk mendapatkan kayu harus menebang pohon, padahal pohon tidak bisa didapat dalam waktu seminggu dua minggu. Butuh waktu singkat untuk menebang pohon tapi butuh waktu lama untuk membesarkannya. Semakin banyak pohon ditebang akan berakibat  semakin terganggunya keseimbangan alam, akibatnya banjir. Waduh !! Dari tulisan besar-besar ujungnya bisa menyebabkan banjir…hehehe nakutin bener.

Tapiii..betul juga lho, jauh juga pemikiran Pak dosenku itu. Tampaknya beliau seseorang yang sangat peduli dengan lingkungan. Seyogyanyalah semua orang yang pernah belajar ilmu biologi berpikir dan peduli dengan segala sesuatu yang hidup, dengan lingkungan tempat kita hidup. Berarti semua orang dooong…karena ilmu biologi sudah dipelajari sejak SD.

Kita semua pasti pernah mendengar kata “paperless”. Sejak kita mengenal banyak urusan dalam bisnis maupun sekolah yang ujungnya pakai “e”, electronic sebenarnya saat itulah kita sudah mulai menghemat penggunaan kertas. E-mail, e-book, e-paper e-banking, dan mungkin banyak e- e- lainnya. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita berkirim surat menggunakan kertas, apakah diprint, apakah diketik pakai mesin tik, apalagi ditulis tangan…. udah tahun kuda kali. Bahkan berkirim kartu saat hari raya Idul Fitri atau hari Natal mungkin juga banyak berkurang karena orang lebih suka berkirim ucapan menggunakan SMS. Menulis cukup sekali tapi bisa dikirim ke banyak orang dengan tarif kirim murah. Malah ada yang hanya meneruskan pesan yang dikirim oleh teman. Apalagi sekarang setelah telepon seluler makin beragam fiturnya, jejaring sosial pun dimanfaatkan. Tidak perlu dikirimi satu-persatu. Tinggal tulis saja di wall facebook, maka semua teman yang jumlahnya fantastis, 200—1000 an akan bisa membaca ucapan selamat yang kita tulis. Hemat kertas, hemat pulsa, dan hemat energi (mengetik) buat si jempol ^_~

Dalam soal di atas, kita memang sudah mulai melakukan penghematan kertas. Tapi coba lihat apakah kita juga sudah bisa menghemat kertas dalam hal lain ?

Setiap akhir tahun ajaran, aku selalu menemukan buku-buku tulis anakku yang SD ataupun yang SMA, baru 1/2 yang terpakai. Mau dipakai lagi untuk tahun berikutnya tapi kok sepertinya pelit sekali. Yang namanya anak-anak selalu maunya semua baru di tahun ajaran baru, tas, sepatu, baju seragam, peralatan sekolah, dan buku. Gak tega juga kalau buku aja gak dibelikan yang baru. Tapi bagaimana dengan sisa lembar-lembar buku yang cukup banyak itu ? Akhirnya kugunting, kukumpulkan yang masih kosong, kujadikan satu dengan binder dan kujadikan catatan apa saja, mau catatan belanja, oret-oretan. Kadang kalau sudah begitu anakku juga yang pakai.

Mungkin yang lebih efisien adalah mahasiswa yang menggunakan binder berisi lembaran kertas lepasan (loose leaf). Dalam satu binder bisa memuat catatan untuk beberapa mata kuliah. Sehingga penggunaan lembaran kertas tidak perlu melebihi keperluan. Tapi di sisi lain, mahasiswa boros sekali dengan yang namanya kertas fotokopi.  Handout kuliah, fotokopi, text book, fotokopi, soal ujian dari kakak kelas, fotokopi, contoh laporan, fotokopi. Apalagi kalau fotokopi tidak bolak-balik, makin banyak ruang kosong kertas yang tersia-sia. Ada juga sih yang memanfaatkan halaman kosong fotokopian untuk mencatat materi kuliah.

Banyak juga mahasiswa yang smart, saat harus menulis draft skripsi yang memerlukan diskusi dan koreksi intens dengan pembimbing, mereka mencetaknya di kertas bekas. Mereka baru mencetaknya di kertas baru saat naskah sudah final disetujui dan di bawa ke ujian seminar maupun ujian sarjana. Mungkin mereka tidak berpikir jauh menghemat demi peduli pada lingkungan, tapi peduli dengan kantung mereka sendiri, harga kertas kan lumayan buat kantung mahasiswa. Demi penghematanpun mereka berusaha memeriksa, mengedit secermat mungkin naskah sehingga kesalahan ketik bisa minimal. Kejadiannya akan lain kalau si mahasiswa anak tajir (katanya singkatan harta banjir…anak orang kaya gitu lho), mau ngeprint menghabiskan 1 rim nggak perlu mikir.

Kebiasaan yang baik saat sebagai mahasiswa harusnya dilanjutkan saat sudah bekerja, mentang-mentang di kantor, pakai kertas milik kantor, mau ngeprint gak pernah dicek lagi, kalau salah ulang lagi. Akhirnya banyak kertas tak berguna yang menumpuk. Merasa bukan beli dengan uang sendiri, lalu menjadi boros.

Kita cenderung boros kertas karena kita tidak sadar bahwa kertas tak ‘semurah’ yang kita sangka. Industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di dunia dengan output 178 juta ton pulp, 278 juta ton kertas dan karton, menghabiskan 670 juta ton kayu. Pertumbuhan industri kertas diperkirakan antara 2% hingga 3.5% per tahun, sehingga membutuhkan kayu log yang dihasilkan dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta hektar setiap tahun. Industri kertas juga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk beroperasi. Energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kertas dalam bentuk panas dihasilkan dari pembakaran sampah padat (sisa potongan kayu) dan uap serta bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO2, NOx, dan CO2. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Sebelum akhirnya sampai di tangan kita, sehelai kertas dibuat tahap sangat panjang. Dan untuk mendapatkan sifat akhir kertas yang sesuai dengan penggunaannya, maka serat kertas mengalami proses modifikasi dan pencampuran dengan bahan kimia tertentu.  Salah satu tahap yang penting adalah proses pemutihan kertas (bleaching). Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. klor (Cl2 atau ClO2) atau hipoklorit (NaOCl) Klor digunakan karena sifat-sifatnya yang reaktif, efektif dan menghasilkan pulp dengan sifat fisik dan derajat putih tinggi. Proses pemutihan pulp kertas tidak hanya membuat pulp menjadi lebih putih atau cerah, tetapi juga membuatnya stabil sehingga tidak menguning atau kehilangan kekuatan selama penyimpanan.

Namun aspek lingkungan yang dominan pada industri pulp dan kertas justru terletak pada proses pemutihan. Hipoklorit akan membentuk kloroform dalam air. Saat proses pemutihan, klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin merupakan suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya.

Nah, setelah kita tau betapa tidak murahnya kertas, apakah kita tetap akan melakukan bussines as usual ?

Ini adalah beberapa hal nyata yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan penggunaan kertas, membudayakan paperless life style:

-Pikirkan perlu sekali kah kita membeli dan berlangganan koran konvesional, sementara banyak sudah koran ternama yang memiliki fasilitas e-paper. Kalau mau jujur, apakah kita akan membaca seluruh berita yang ada di lembaran koran ? Seringkali kita hanya membaca headlinenya saja.

-Di kantor – kantor biasakan untuk tidak mengeprint laporan atau dokumen yang ada. Biasakan membacanya melalui layar komputer langsung.

-Pergunakan LAN messaging untuk mengirim pesan singkat. Kita bisa dengan cepat meng-copy paste informasi instan yang dibutuhkan tanpa perlu mencetak, bila perlu file tersebut bisa dikirim via e-mail

-Ajak karyawan dan mitra bisnis untuk bersurat secara elektronik sebisa mungkin. Selain cepat biayanya juga sangat hemat.

-Jika harus mencetak dokumen, pastikan dokumen yang akan diprint sudah sempurna. Hindari kesalahan mengeprint ulang karena akan boros kertas, boros tinta ujung – ujungnya memboroskan uang kita.

-Digitalisasikan seluruh dokumen kita. Mesin scanner saat ini tidak terlalu mahal, tetapi jangan menggunakan scanner flatbed biasa (jika masih menyayangi kesehatan jiwa kita).

-Bagi pemilik kartu kredit ubah pengiriman billing statement kartu menjadi elektronik dan minta Bank untuk mengirimkannya melalui email daripada tetap mengrimkan hard paper melalui pos.

-Biasakan memanfaatkan e-book ketimbang buku konvensional. Harga e-book jauh lebih murah daripada buku yang dicetak di kertas.

Tentunya ada kasus tertentu yang memang butuh dokumen dalam versi kertas. Contohnya: sertifikat tanah karena jika dibuat hanya dalam format elektronik, orang-orang nakal bisa mengedit, mengutak-atik jadi ASPAL dan sulit DIJAMIN keabsahannya.

Jadi jangan anggap enteng penggunaan kertas. Pikir dua kali setiap kita akan menggunakan kertas. Apabila penggunaan kertas dapat dihindari sebaiknya lakukan itu. Dengan begitu, kita dapat membantu melestarikan BUMI demi anak dan cucu.

Reducing paper (Sumber: google)

Reducing paper (Sumber: google)

January 29, 2011

84H4SA Y4NG M3MBINGUNGK4N

Filed under: My Opinion — ratna @ 8:35 pm
ibu, aku ud ngasi draft kasar k pembimbing 1 bu, biar bs d perbaiki scepatny..hehe
ibu, aku blm tw mw up kpn,pgn ny si juni akhr bu,tp ga tau klw mundur lg,blm brani memastikn hehe doain aj bu,biar cpet maju..

oia,mw nanya,ttd bu ratna yg d scan itu,d print aj trs tempel d berkas yg musti ad ttd PA nya,atau d apain y?
btuh info nih..
thx b4

 Hmm…entah sejak kapan bahasa Indonesia jadi ajaib seperti itu. Seingatku waktu jamannya telepon seluler belum secanggih sekarang sehingga tidak banyak fitur-fiturnya selain hanya layanan SMS (Short Message Service), bahasa tulisannya masih ‘sopan’. Maksudnya kalaupun harus menulis dibatasi hanya 150 karakter untuk sekali pengiriman sms, umumnya orang masih menggunakan singkatan yang umum dan sudah dikenal sejak dulu. Contohnya yg = yang, dgn = dengan, utk = untuk, bhw = bahwa, bkn = bukan.   

Lalu kecenderungan yang terjadi sekarang, makin banyak singkatan yang tidak berpola. Dan semakin pusing membacanya. Beruntung otak kita adalah otak buatan Tuhan yang kapasitas dan kemampuan interpretasinya sangat bagus, Subhanallaah…

Komputer yang canggih aja, untuk membaca sebuah file harus punya software yang cocok. Kalau nggak, yang keluar cuma kotak-kotak.

Aku pernah dapat postingan menarik:

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa per ktaa.Laur bisaa kan? Sdaar aatu ngagk klaian brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag batrantn

Hehe itu memang contoh ekstrim. Kalau aku dapat sms seperti itu nggak bakal aku jawab deh. Sekarang ini setelah ponsel semakin canggih, bisa berkirim SMS, MMS, bahkan e-mail yang bisa kita pakai untuk menulis dengan lebih leluasa jumlah karakternya, eeee kok malah makin hemat nulisnya. Lihat aja tuh sms mahasiswaku di atas (kira-kira yang nulis ngerasa nggak ya ?) : aku blm tw mw up kpn

Kalau hanya digunakan dalam situasi informal dalam pergaulan sepertinya nggak akan menjadi masalah. Yang akan menjadi masalah kalau kebiasaan menulis seperti itu terbawa ke situasi formal seperti sekolah atau kantor. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bapak-bapak dan ibu guru di SMP, SMA jika harus memeriksa ulangan murid-muridnya dan membaca tulisan bak bahasa planet atau bahasa Rusia yang penuh dengan huruf mati. Terlebih kalau ulangan atau ujian dalam bentuk esai bagi siswa SMA ataupun mahasiswa. Terkadang dalam ujian yang harus menjelaskan sesuatu, kita menuangkan apa yang ada di otak kita ke dalam tulisan. Apa yang ada di pikiran kita itulah yang kita tulis. Lha kalau sehari-hari sudah terbiasa menulis dengan sistem sms yang singkat dan padat, bukan tidak mungkin secara refleks, tidak disengaja itulah yang akan ditulis oleh tangan di kertas ujian. Ah mudah-mudahan ini hanya kekuatiranku saja yang berlebihan.

Sampai saat ini aku belum mendengar keluhan dari teman-temanku sesama dosen tentang pengalaman mereka saat harus memeriksa kertas ujian mahasiswa. Kemungkinan pertama, mahasiswa masih sopan dan tau aturan bisa mengubah saklar ON dan OFF di otak dan tangannya, jadi saat berkirim pesan di akun facebook atau twitter atau sms dengan peer group-nya, mereka pakai bahasa ajaib itu. Tapi saat harus menulis jawaban ujian, menulis laporan, menulis makalah, naskah skripsi, tombol ON untuk bahasa Indonesia lengkap dengan EYD-nya lah yang menyala.

Kemungkinan kedua, teman-temanku para dosen itu sudah beradaptasi dengan tulisan ajaib para mahasiswa.

Aku sering mendengar anakku yang masih dalam masa-masa ABG sering sekali menyebut alay. Waktu kutanya “apa tuh Mal artinya ?” Ya pokoknya yang norak-norak gitu Ma. Setelah kutanya lagi norak yang bagaimana, anakku bingung juga menjawabnya. Pernah suatu kali waktu kami jalan berdua, kami melihat segerombolan pelajar SMA bercelana abu-abu tetapi dengan pipa celana yang ketat seperti celana jeans model pencil istilah anak-anak sekrang. Masya Allah..seragam sekolah mestinya ada pakemnya…lha kok dibuat seperti legging. Mendadak anakku bilang…”nah itu namanya anak alay Ma”.

Belakangan aku dengar itu singkatan dari anak layangan.

Nah sekarang ada lagi istilah bahasa alay yang selidik punya selidik ternyata bahasa dengan tulisan atau kata yang mengkombinasikan antara huruf dan angka. Aku jadi ingat dengan plat nomor polisi yang bisa dibaca sebagai sebuah kata. Gosipnya polisi akan merazia dan mengenakan denda Rp 300 ribu pada pemilik mobil yang menggunakan nomor cantik itu. Hmm…tidak ada asap kalau tidak ada api. Yang ngeluarin nomer kan polisi ? Hehe mungkin polisi takut pusing bacanya kali kalau di jalan tiba-tiba harus menyemprit mobil yang melanggar rambu lalu lintas. Bukannya lebih gampang dikenali kalau nomor polisi bisa terbaca dengan jelas.

Memang kreatif dengan nyleneh hanya beda tipis. Kadang-kadang sesuatu yang lurus, taat kaidah  menghasilkan keteraturan, keseragaman yang sifatnya monoton. Sebaliknya ketidakteraturan kebebasan akan melahirkan kreativitas. Semua sah-sah saja asalkan masih berada dalam koridor yang benar.

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Plat nomor cantik, kreatif atau nakal ? (Sumber: google)

Alah bisa karena kepepet

Filed under: My Stories — ratna @ 9:59 am
Bento minus ayam...sedang digoreng

Bento minus ayam...sedang digoreng

Suatu siang  sesampai di rumah mataku tertuju pada sebuah boks hantaran yang ada di atas meja makan. Setelah kubaca secarik kertas yang menempel di bagian tutupnya ternyata dari tetanggaku yang syukuran berbagi kebahagiaan pasca anaknya dikhitan. Isinya nasi beserta lauk pauk, buah dan suplemen khas Indonesia: krupuk ! Melihat boks seperti itu  ingatanku melayang ke momen yang kualami 5 bulan lalu. Seminggu menjelang lebaran teman-teman sesama perantau di negeri sakura mengajakku untuk ikutan sebuah proyek amal. Caranya sangat mengasyikkan. All we have to do is cooking ! “Naah, kebetulan nih ada Bu Ratna, mau kan kalau kita ajak bantu-bantu masak ?” Wah kalau cuma masak mah hayo aja, apalagi rame-rame. Itung-itung menghalau rasa haru biru karena terpaksa menjalani lebaran jauh dari keluarga.

Tadinya kupikir cuma masak buat kami-kami warga Indonesia yang sedang studi di kampus tempat aku riset. Kalau dijumlah termasuk anak-anak, ada sekitar 30 orang. Baru ngeh kalau bakalan harus masak dalam jumlah besar pas acara belanja. Minyak goreng 6 liter, ebi furai beku 20 boks, paha ayam beku 10 kilo, nanas kalengan 20. “Emang mau masak buat berapa orang Bu Ari ?” Kita mau buat bento 200 boks Bu. Haaa ? Gubrak !!! Untung mobil yang ngangkut belanjaan kami nggak njengat ke belakang karena overload…wakakak lebay.com.

Karena aku gabung di tengah-tengah proyek, ya jadi rada-rada tulalit. Setelah diceritain barulah aku tau ternyata KMII wilayah Kansai mengadakan sholat Ied khusus untuk masyarakat Indonesia yang ada di Kobe, Kyoto, Osaka dan Nara. Untuk menjamu para jamaah di hari kemenangan itu, KMII (oya KMII itu singkatan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral RI Osaka menyediakan nasi boks berisi menu masakan Indonesia yang HALAL. Karena diperkirakan yang akan hadir hampir 1000 jamaah berarti harus disediakan sejumlah itu. Kalau di Indonesia mah itu perkara gampang, tinggal angkat telpon, pilih mau catering Bu Gito, Bu Joko, Bu Ngadiman, pilih mau paket nasi boks yang harga berapa, jumlahnya berapa, asalkan gak mendadak sehari sebelumnya pasti ok dah, cukup kasih DP 50 persen. Pokoknya asal ada uang, dijamin beres gak usah capek-capek. Lha di Jepang ? Biar kata ada uangnya, kalau gak ada yang ngerjain mana bisa ada 1000 boks nasi halal ngejogrok di depan mata ?

So,  akhirnya dibagi-bagilah tugas membuat nasi boks ke para relawan yang bermukim  di Kobe, Osaka, Kyoto dan Nara. Jatah Nara 200 boks, yang akan dikerjakan keroyokan. Menu sudah disepakati ayam goreng kalasan, ebi furai, balado teri kacang, sambel terasi, lalapannya tomat ukuran kecil, irisan kol, timun, buahnya nanas kalengan (berhubung di Jepun harga nanas fresh lebih mahal dibanding kalengan), plus kerupuk. 

Karena mayoritas kami semua punya kesibukan di siang hari, maka acara masak memasak harus dikerjakan sore sampai malam. Kami harus atur strategi yang nggak beda jauh dengan strategi perang. Aku kebagian jadi PJ (Penanggung Jawab) balado teri kacang, Bu Panji berhubung wong Jowo asli jadi PJ ayam kalasan, Bu Niswar jadi PJ nasi plus goreng-goreng ayam dan ebi, Bu Ari PJ sambel terasi, bu Riris PJ buah dan lalapan, PJ krupuk aku lupa siapa ya ?

Kami juga harus mikir mana yang harus dikerjakan duluan.  Balado teri kacang berhubung kering jadi bisa dicicil, dikerjakan 2 hari sebelum hari H. Keliatannya simple, ternyata urutannya panjang juga, goreng kacang, goreng teri, buat sambal lado, tunggu dingin, aduk-aduk setelah itu dimasukkan ke plastik ber-seal. Karena nggak ditimbang, pakai ilmu kirologi, jadi isi gak sama, yang ngerjain juga banyak tangan; baru dapat 150 bungkus eee abis. Hyaah kalau kurangnya cuma 20 plastik sih bisa bongkar pasang (hehe diambilin sedikit-sedikit dari plastik yang udah ok). Tapi karena kurangnya masih banyak,  mau gak mau buat lagi batch ke-2. Terjadi kelucuan, karena yang kebagian belanja beda-beda, teri batch ke-2 ukurannya agak-agak gigantisme. Gak kehabisan akal, setelah digoreng agak-agak dikremes, jadinya cantik juga (balado apa boneka sih kok dibilang cantik??).

Memang di rantau kita harus banyak akal selain banyak sabar. Ayam kalasan yang seharusnya pakai air kelapa untuk ngungkep disubstitusi pakai pocari sweat.  Tak ada rotan, akar pun jadi. Rasanya ya sama enaknya tuh. Tapi yang tak sengaja mensubstitusi  bahan pun ada hihihi…ada kisah nyata temenku bapak-bapak yang sedang ikut program riset juga di Ibaraki, beli minyak goreng. Sampai di asrama dipakailah untuk menggoreng. Tunggu punya tunggu…minyak bukannya memanas dan encer kok malah mengkristal dan gosong. Setelah dicicipi sa’ ndulit…kok manis ? Ternyata itu gula cair alias simple syrup…hihi..maklum deh buta huruf kanji, begitu lihat ada yang penampakannya mirip minyak goreng kuning dan kentalnya langsung aja comot. Kuledekin…mau nggoreng apa mau buat puding caramel pak ? Temanku yang lain, bapak-bapak juga, di Kyoto, ceritanya mau nggoreng ikan asin bawaan dari Indonesia. Setelah ‘minyak’ dituang ke penggorengan, ditunggu panas, ikan asin dimasukkan, bukannnya garing dan menguning keemasan, si ikan kok malah mengembang dan pletok-pletok. Pas dicicipi dan dibaui, ternyata itu teh dalam botol plastik kemasan besar. Lha kok bisa….?

Kalau pengalamanku, belanja dengan teman yang sama-sama short-term stay (bukan student yang lebih pinter baca tulisan kanji), mau nyari gula pasir, ketemu, kami menimang-nimang kemasan yang kami duga gula; tapi perasaanku kok gak enak (cieee sok kaya paranormal aja). Mbak Ila temenku bilang “Bu Ratna, kalau ini gula pasir kenapa ada gambar kepulauan Jepangnya ya ?”  Hmmm iya ya…akhirnya penasaran aku cari lagi di rak lain. Bingo ! Ketemu deh bungkusan yang gambarnya sendok. Setelah kami jejerkan, tampilan gula pasir sama ‘gula pasir’ yang ternyata garam itu sama putihnya, sama besar butirannya. Yang beda cuma kemasannya. Kemasan garam agak kecil. Huah..kalau sempet kebeli itu garam, biarpun diwariskan ke temen yang long-term stay, sampai lulus  gak abis-abis deh. Lha wong garam jepang itu uasssiiiin ne rek. Pake sedikit aja udah asin buanget….dikirain mau kawin ntar.

Voila ! Akhirnya sampailah kami di malam takbiran. Kami janjian mulai masak ba’da Isya setelah selesai kerjaan di lab masing-masing. Markas besar dapur umum ada 4 tempat di kamar asrama yang tipe family. Aku kebagian tugas goreng ebi furai 10 pak @10 potong = 100 ebi. Di tempat lain ada yang kebagian goreng ayam kalasan dan ebi juga. Perkara nasi semua kebagian tugas dengan mengerahkan semua rice cooker yang ada. Masaknya aja beberapa kloter karena sebagian besar rice cooker kapasitas kecil. Kami berdelapan menyiapkan 200 boks yang sudah harus siap jam 6 pagi tanggal 1 Syawal karena perjalanan dari Nara ke Kobe tempat sholat Ied dengan mobil 1,5 jam lewat tol. Serasa Bandung Bondowoso yang ditantang Loro Jonggrang untuk buat 1000 candi aja deh.  Alhamdulillah pekerjaan bisa 80% selesai sampai tengah malam. Lalu dilanjutkan sekitar jam 3 pagi menata semua isi dalam boks bento. Beberapa kepanikan kecil terjadi karena sempat kekurangan sambel, kekurangan nasi.  Kira-kira jam setengah 7 pagi 200 boks bento selesai dipak, dan kami pun berangkat  menuju Kobe.

Alhamdulillah rasanya lega sekali sudah berhasil mengerjakan tugas mulia, berat tapi menyenangkan. Bu Panji sebagai pimpro berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah gotong royong memasak. Aku kagum pada semua teman-temanku itu, baik yang membawa keluarga maupun yang jomblo lokal; dalam urusan masak memasak menurut pengakuan mereka statusnya dari zero become hero. Zero karena pertama kali merantau dan tinggal di asrama nggak bisa masak sampai akhirnya pada lihai-lihai memasak segala menu masakan Indonesia. Maklumlah selezat-lezatnya masakan jepang, tak bisa mengalahkan kerinduan akan masakan Indonesia.  Jadi bermodalkan koneksi internet yang nggak lumrah (cepatnya),  resep masakan apapun bisa segera dicari. Lihat di lemari es ada bahan apa, bingung mau masak apa, langsung cari resep di internet, gak usah diprint, bolak-balik aja dari kompor ke laptop ke talenan…hehehe…lha wong dapur sama tempat tidur cuma dua langkah jaraknya. Kamar ukuran ringkes.

Temanku itu ada yang mengaku awalnya sama sekali tidak bisa memasak, tapi setelah setahun mendampingi suami  tugas belajar, jangankan cuma ayam goreng, masak rendang, mie ayam, bakso, rawon, roti, pizza dan cake pun hayuh monggo. Di Jepang bukannya tidak ada yang jual cake, roti, pizza, mie goreng…ada…tapi seringkali banyak “ranjau”nya yang menjadikannya tidak halal. Mau tak mau harus masak dan buat sendiri. Saat halal bihalal dalam rangka lebaran iedul Fitri, kami berkumpul dan makan bersama juga masak bersama, dengan menu khas lebaran lengkap dengan ketupatnya. Berhubung tidak mungkin mendapatkan daun kelapa dipakailah aluminium foil sebagai pembungkus beras yang dimasak menggunakan slow cooker semacam rice cooker. Seperti kata pepatah ” Alah bisa karena biasa“….mudah-mudahan aku nggak kualat  kalau memelesetkannya menjadi “ Alah bisa karena kepepet”

Tak ada yang tak bisa kita kerjakan asal kita mau mencoba. Itu yang selalu kutekankan pada kedua anakku. Jangan nyerah sebelum mencoba. Dan nggak perlu nunggu sampai kepepet juga kali ya.

Mbok yao..

Filed under: My Opinion — ratna @ 9:54 am

cc greenpeaceCrop Circle. Jujur, aku baru tau istilah ini dari fenomena yang sebelumnya sudah pernah kulihat di film Sign yang dibintangi oleh Mel Gibson. Sebelum menonton film itu aku sama sekali tidak tau tentang crop circle. Setelah kumasukkan dua kata itu dalam mesin pencari di dunia maya, keluarlah 2.090.000 entri yang membahasnya. Ternyata sudah sejak lama fenomena ini ada. Hmm kemana aja ya gue selama ini ? Hehehe… emang manusia itu harus selalu belajar, membaca, melihat, mendengar, membaui.

Karena di Indonesia kejadian ini baru pertama kali terjadi maka reaksi yang muncul sangat heboh dan ramai. Ada yang menghubungkan dengan keberadaan UFO, persis seperti analisis banyak orang di dunia bahwa crop circle adalah jejak bekas ‘pesawat’ UFO yang mendarat di bumi. Persis seperti cerita di film Sign, yang tokoh utamanya benar-benar dihantui oleh mahluk alien berkepala lonjong dengan mata aneh yang sangat terkenal itu.

Kalau kata orang-orang yang suka dengan hal-hal berbau politik: pasti orang dibalik ini semua ingin mengalihkan perhatian masyarakat dari isu Gayus, atau isu lain yang lebih penting dibahas. Karena pers Indonesia meskipun bersifat multi media tetapi berita yang dibahas setiap hari nyaris seragam ! Jaman aku SMA dulu, kalau tidak baca koran/harian rasanya ketinggalan berita. Tapi sekarang, cukup hanya dengan mendengarkan berita di TV (dari 14 stasiun TV) sambil menjalani rutinitas pagi, kita sudah tau berita apa yang menjadi headline hari itu. Baca berita di media online pun pasti kita akan menemukan topik yang sama. Maka mudah saja ‘menghapus’ atau mengalihkan perhatian masyarakat . Lempar saja berita yang lebih heboh, meskipun tidak penting.

Kalau kata orang penyuka seni: crop circle adalah suatu karya seni yang mengagumkan karena umumnya hanya dibuat dalam waktu semalam, berukuran besar dan memiliki pola yang indah; setelah browsing kulihat ternyata pola yang dibuat tidak melulu berbentuk lingkaran. Ada yang berbentuk karakter kucing lucu Hello Kitty, bentuk mobil, yang tujuannya adalah mengiklankan produk atau perusahaan. Hari ini di wall facebook salah seorang temanku ada yang memposting crop circle berbentuk wajah si Gayus (kayanya mah photoshop) ^_^ orang Indonesia memang kalau urusan begini patut diacungi jempol kreativitasnya. Tapi kalau disuruh cari solusi bagaimana mengatasi masalah kemacetan kota Jakarta, patut diacungi jempol ke bawah.

Seni vs kerusakan ? Yup, crop circle sejak jaman dulu selalu dibuat di area persawahan atau ladang padi, gandum atau ladang jagung. Terpikirkah oleh si pembuat karya seni ini kalau batang tanaman sudah patah dan rebah ke permukaan tanah, tidak akan bisa tegak lagi seperti semula ? Kejadian di Sleman yang kulihat dari TV, tanaman padi yang menjadi korban sudah menampakkan bulir-bulir buah, mungkin sebulan atau 2 bulan lagi bakal dipanen. Aku berani bertaruh pemilik sawah tidak tahu menahu tentang ‘kegilaan’ ini, mimpi pun nggak. Mudah-mudahan pemiliknya adalah petani kaya yang tidak akan tiba-tiba jatuh miskin akibat berkurangnya hasil panen (kalau padi itu masih bisa hidup dan masih bisa dipanen). Mungkin kata si penanam padi: saya sudah susah payah menanam, merawat padi sejak benih sampai menjelang panen, kok dirusak hanya dalam waktu semalam ?

Kalau kata aku: terlepas dari siapa atau apa yang sudah membuat jejak di persawahan Sleman Jogja itu – UFO yang mendaratkah ? Atau orang-orang terlalu kreatif yang sedang bingung ingin menunjukkan kreasinya ? Aku betul-betul nggak peduli. Tapi mbok yao jangan meninggalkan kerusakan. Mbok yao kalau mau buat karya seni, buat deh di hamparan alang-alang yang kalaupun rusak gak akan ada orang yang teriak rugi. Atau buat aja di kepala masing-masing sehingga tercipta cukuran rambut model baru. Atau akan lebih bagus kalau karya seni menggunakan tanaman dibuat dengan cara bukan merebahkan tanaman yang sudah tumbuh tegak, tapi menanamnya sejak awal dengan konfigurasi yang sudah dirancang sebelumnya, seperti labirin atau tulisan tertentu

Aku hanya rela kalau jejak semacam itu terjadi akibat hempasan angin taifun atau bekas lewat segerombolan hewan yang bermigrasi menyeberangi ladang atau sawah.

How to make school vacations worthwhile

Filed under: My Stories — ratna @ 9:32 am

Have you found yourself in a situation where you want to go on vacation but find yourself putting it off because you couldn’t leave your work ? The school vacations are here. Every student, including my sons, is excited, but suddenly I had a headache. You know why ? For a very simple reason: my husband and I have to work from 9 a.m. to 5 p.m, five days a week. So we can’t accompany our sons on their vacation. But from now on, I can arrange my work schedule and spend time with my sons as well. Probably you’d like to know how I can manage it ? Let’s see.

In the school’s annual calendar, there are three vacation periods. The first, a vacation between the first and second semesters falls at the end of the year. Some families welcome this shorter school vacation, because it usually coincides with Christmas and New Year. If we want to have longer vacations, we can take a couple of days off from work. During this vacation my family will decide to visit a few places out of town — even out of the country (if we can afford it) for recreation.

Beaches and mountains are the most favored destinations, or we can use the opportunity to visit relatives. Second is a vacation on the Islamic holiday that marks the end of Ramadhan, the fasting month. We ussually spend the day simply having fun and enjoying ourselves. Most families have private parties and visit relatives. Generally, we have a good time with family and friends. Thus, the way we spend the holiday almost exactly the same way every year.

Here we go ! The third vacation is the longest, after student finish their studies at one level and proceed to the next. It takes about two to three weeks in the middle of the year (June – July). Many parents – including me – shudder at the thought of having their children at home for three weeks ! We will feel guilty if we let this happen, even though we do not have holidays the same as theirs. But we have to think harder to make these holidays unforgettable moments for them. They have already worked hard during semester. The children have the right to enjoy themselves. So we aim for days off by balancing between this and the end-of-year holiday.

What am I going to do with my children ? First we decide the place and kind of activities we will do during two or three weeks of their vacation. On weekdays when my schedule is tight, I will use my spare time after work to accompany my children swimming, shopping, or buying schoolbooks. By doing this they feel happy. On the weekend, we usually travel together and experience a culinary journey as seen on recent TV programs. The more “unusual” the cuisine the more curious we are, and want to try it.

Watching the latest movies at the cinema: That is another favorite activity for us. During the holiday season, many new movies are launched such as Shrek 3, Fantastic Four and Harry Potter. I choose movies that are suitable for my son, who are 14 and seven years old. If an appropriate film is not available at the cinema, I buy DVD and we watch it at home and make the atmosphere like the real thing – home theater accompanied by Coke and popcorn.

Besides that, my eldest son sometimes comes up with the idea to pick a day of the week as “sports day”. We start off by riding a bicycle around the neighborhood or playing badminton or basketball in the backyard.

One thing I’m grateful for is that we have our own backyard. There, the whole family can share the joy of gardening: My Mom thought me so when I was a kid. So I asked myself, “Why don’t I try it with my own children ?” We started by thinking about what to grow – chilies, tomatoes, peanuts, and leaf vegetables such as spinach. I ask my children to plant their seeds, then cover them up with soil and compost, watering them well. Amazingly, they enjoyed it. For me, is not just about planting. It;s about taking advantage of “gardening moments” with my kids…it might just turn out to be one of the highlights of their vacation.

Meanwhile, our family loves food, so I always have a lot of it in my kitchen. In the holiday season I have to provide extra food. Usually I ask them to list what kind of food they want most. If there is food that I can cook by myself, I will allow my sons to help me prepare it. I choose easy recipes like doughnuts, meatball, siomay (dumplings) fruit punch. What a fun it is if we could cook our favorite food ourselves ! It’s not that difficult.

Last year, we identified some major targets. By the end of the vacation, my eldest son was able to drive the car, the younger ride his bicycle. At the end of the vacation we went shopping for school items such as books, stationery, school uniforms, bags and shoes. I also involved them in this activity. We hope the above-mentioned activities were time well spent. They didn’t just waste time watching TV or using their Play Station. Best of all, I can entertain my children with a range of educational activities so they feel confident enough to attempt other things in the future and can concentrate much better on their studies when back at school.***

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

The Jakarta Post Sunday, September 2, 2007

January 24, 2011

Escorting jatropha freak

Filed under: My Stories — ratna @ 11:30 am

IMG_6166Di hari pertama datang ke lab, aku disambut dengan ‘tugas mulia’. “Bu Ratna, hari rabu bisa kan jemput Sensei dan rombongan di bandara ?” Sebenarnya berita ini bukan berita baru. Dua minggu sebelum aku kembali ke tanah air teman se-labku di sana juga mengabariku. “Mbak, tadi Yokota Sensei ndatengin aku dan bilang minta dijemput tanggal 5 Januari di hotel bandara.”
Maka jadilah aku jam 9 sudah di Airport Jakarta Hotel yang ada di terminal 2F. Belum sampai di meja resepsionis, aku di”sambut” Sensei yang menghampiriku. “Welcome to Jakarta”…wahaha…bisa becanda juga dia, mudah-mudahan bukan bermaksud menyindir, karena perjanjiannya jam 9.30 berangkat menuju Bogor. Lalu beliau memperkenalkan aku kepada semua anggota rombongan yang berjumlah 17 orang, tidak semua dari NAIST; ada peneliti dari Kasertsart Univ, Ryukyu Univ dan Riken.

Dalambus di  perjalanan menuju Bogor aku sempat duduk di sebelah Yokota Sensei, berbasa-basi sebentar lalu beliau berkata “Sorry I have to prepare my presentation”, berarti dia sudah ingin mengakhiri percakapan dan mulai asyik dengan laptopnya. Bengongku gak berlangsung lama karena Akashi Sensei yang duduk di seberangku tiba-tiba bertanya pohon apa yang ada di sepanjang tepi jalan tol Wiyoto Witono. Kujelaskan itu adalah mangrove. Hingga menjelang masuk Bogor aku betul-betul seperti orang yang diwawancarai oleh Sensei. Beliau bertanya banyak sekali mengenai kondisi lab dan risetku, dengan permintaan terakhir dia minta diantar melihat lab dan rumah kaca.  

Sebenarnya tugasku mengawal rombongan sampai di hotel sudah selesai, dan aku bermaksud pamit untuk ketemu besok lagi, tetapi Yokota Sensei mengajakku untuk ikut lunch bareng. “Please have a lunch with us, I treat you. I want you to tell me about Indonesian food.” Hmm sepertinya gak cuma sekadar makan, mungkin ada yang ingin dibicarakan. Aku dan Yokota Sensei memesan Soto Bandung, Akashi Sensei pesan mie goreng.
Sambil menunggu pesanan terjadi percakapan berkisar makanan Indonesia, emping melinjo, kecap asin dan kecap manis, belut, sampai soal petani di Indonesia yang bisa panen padi 3x setahun. Mereka heran karena di Jepang tanam padi hanya bisa 1x setahun. Selesai makan aku pamit, Sensei bertanya “Would you join us to the jatropha field tomorrow ?”. Setelah kujawab ya, mereka berucap “See you” dan masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk collaboration meeting dengan tim Jatropha Indonesia.
 
Pagi berikutnya, aku sampai di lobby hotel, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan ketua rombongan sebagai jam berangkat. Tak berapa lama kemudian hampir semua anggota rombongan sudah berkumpul di lobby. Bus carteran sudah sejak pagi parkir di halaman hotel. Jam 8 kurang 10 menit bus meninggalkan halaman hotel. Aku duduk di kursi terdepan bersama Pak Adi sebagai penunjuk jalan. Tujuan kami adalah Kebun Percobaan Jarak di Pakuwon Sukabumi.
 
Ada pemandangan menarik. Kulihat Yokota Sensei duduk memangku setumpuk sertifikat yang harus ditanda tangani dan dicap yang akan dibagikan untuk peserta seminar besok. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 200 lembar. Hyuh tega bener panitianya. Memang tadi sebelum naik bus, Sensei berkata padaku “ I had a homework to do “ sambil menunjukkan map plastik ber-zipper yang beliau jinjing. Kalau di luar jendela ada yang menarik, beliau jeda sejenak dan melihat ke luar. Kalau pas macet beliau kerja lagi. Karena beliau duduk selang satu bangku di belakangku jadi aku bisa dengan leluasa mencuri pandang, memonitor apa yang sedang beliau kerjakan.

Perjalanan mulai menyebalkan karena beberapa kali melewati pasar. Macet. Selain itu di depan kami berderet juga truk-truk yang mengangkut entah apa sehingga makin memperparah antrian. Mudah-mudahan jepun-jepun itu sudah pernah mendengar sebelumnya bahwa di Indonesia yang namanya macet itu sudah biasa. Kalau nggak macet malah luar biasa. 
 
Jam 10 lebih sedikit kami sampai di tujuan. Kompleks Kebun Induk Jarak pagar di Pakuwon ini ternyata menempati area yang sangat luas, ada kantor administrasi, ada wisma, musholla dan tempat workshop yang masing-masing berupa bangunan yang terpisah. Kami semua digiring ke tempat workshop oleh penanggung jawab Kebun. Kebun Induk ini berada di bawah naungan Dep. Pertanian. Karena kunjungan kami sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya pihak Kebun sudah mempersiapkan semuanya.

Tanpa banyak prolog dimulailah penjelasan tentang tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang sejak sepuluh tahun terakhir menjadi tanaman paling top – dibicarakan oleh kalangan peneliti, pengusaha, di hampir seluruh dunia sebagai kandidat penghasil biodiesel, biosolar – karena bersifat renewable fuel menggantikan fossil fuel yang suatu saat akan habis disedot dari perut bumi.  Bahkan pemerintah mengeluarkan undang-undang/kebijakan tentang pengembangan bahan bakar nabati khususnya jarak.
 
Penjelasan menggunakan bahasa Indonesia yang langsung ditranslate oleh ketua rombongan. Jepun-jepun itu yang semuanya adalah dosen dan peneliti mendengarkan dengan seksama. Penjelasan paling menarik buat mereka adalah informasi kapan buah jarak matang fisiologis sebagai benih, kapan buah matang untuk dipanen sebagai penghasil minyak, berapa lama viabilitasnya, pada suhu berapa benih tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Aku tau ini dari Dr. Kajikawa peneliti yang sedang menjalani post doc di lab tempat aku riset di Nara kemarin. Menurut dia, sampai dengan saat ini informasi semacam itu masih sulit diperoleh dari publikasi ilmiah internasional. Lucu juga sih, penelitian hebat-hebat yang mengulik sampai ke tingkat molekular sudah sangat maju, tapi penelitinya sendiri masih banyak yang belum tau bagaimana kondisi A – Z si jarak ini di lapangan. Bisa dimaklumi karena jarak sebenarnya tanaman daerah tropis. Di Jepang jarak bisa tumbuh sampai fase generatif (menghasilkan buah) hanya di pulau Okinawa. Di tempat lain bisa tumbuh tapi tidak bisa berbuah.
 
Mereka makin kagum pada sesi demo pengepresan biji jarak sampai mengeluarkan cairan minyak kasar. Mungkin mereka harus mengakui kepiawaian peneliti Indonesia, bahwa hanya dengan mesin sederhana rancangan peneliti di Kebun ini bisa ‘dipanen’ minyak jarak setelah dimurnikan lagi dengan alat penyulingan. Selain produk berupa minyak, by product-nya pun dipajang di tempat workshop. Sisa pengepresan yang disebut seed cake atau bungkil yang masih mengandung sedikit minyak dibuat menjadi briket bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku. Tungku khusus pun sudah dirancang dan dibuat. Kulit buah yang ditampung dalam bak besar setelah diolah dan diberi tambahan bahan lain digunakan untuk pakan kambing yang dipelihara di kandang yang terletak di area kebun juga. Subhanallaah…selama ini yang kutau tidak ada bagian dari tanaman jarak yang bisa dikonsumsi dalam artian bisa dimakan karena mengandung racun.
 
Aku sempat berkeliling dan melihat-lihat produk hasil buatan peneliti yang dipajang. Ternyata yang diolah bukan hanya biji jarak, ada juga minyak kelapa sawit, minyak kemiri, nyamplung, pometia (matoa). Di satu meja aku melihat lampu teplok yang jadul banget, inget lampu di rumah Mbah Putri di Jogja jaman aku SD dulu. Aku juga ingat Ibuku pernah cerita kalau di jaman penjajahan Jepang semua orang di desa disuruh nanam pohon jarak untuk diambil minyaknya untuk penerangan lampu teplok karena harga minyak tanah mahal. Mungkin itu sebabnya hampir di seluruh Indonesia tanaman ini mudah ditemukan sebagai tanaman pagar…dan nama lokalnya pun jarak pagar. Selain ada pula yang namanya jarak kepyar, jarak ulung, jarak bali. Ternyata sejak dulu wong jepun pinter ya…makanya bisa ngejajah bangsa kita.
 
Kunjungan diakhiri dengan foto bersama. Acara berikutnya adalah makan siang. Sebenarnya ada permintaan dari rombongan untuk makan siang di resto Rindu Alam, karena Sensei pernah makan di sana mungkin terkesan dengan suasana dan makanannya. Tapi rasanya mustahil bisa sampai di sana dalam waktu 1 jam. Rundown acara di atas kertas memang mengalokasikan 1,5 jam di Pakuwon tapi kenyataannya molor jadi 2 jam. Akhirnya berhubung sudah jam 12, diputuskan makan di rumah makan lain. Seketemunya aja, kata ketua rombongan. Alhamdulillah nemu restoran yang cukup representatif yang menghidangkan menu masakan Indonesia, tempatnya juga bernuansa tradisionil…
 
Aku diminta menginventaris minuman apa yang akan dipesan oleh anggota rombongan. Agak repot karena daftar menu berbahasa Indonesia. Waktu kubacakan ada jus markisah mereka bertanya “what kind of fruit is markisah ?” Setelah kujelaskan, cukup banyak yang ingin mencoba. Beberapa ada yang memesan jus jeruk, dan air putih saja. Tapi umumnya mereka minta jus tanpa es.  Setelah kupikir-pikir mereka mungkin takut sakit perut kalau minum air mentah. Beda lah dengan di Jepang yang bisa minum langsung air dari keran.
Setelah tugasku selesai memesan menu dan minuman, aku izin sholat. Selesai sholat kulihat mereka sudah mulai makan. Beberapa yang duduk di dekatku menanyakan “what is this ?” waktu mau makan tempe goreng. Wah ada juga yang belum tau tempe ya. Padahal kelompok peneliti Jepang di Univ. Osaka ada yang sudah meneliti kandungan antioksidan pada kedelai yang sudah difermentasi menjadi tempe lho.
 
Yang lucu lagi, baru aja aku selesai menjelaskan dan baru mau bilang hati-hati dengan cabe yang pedas sekali…ee si Sensei main masukin aja cabe rawit utuh yang disediain di piring ke mulutnya. Kulihat mimik mukanya biasa aja sih…tapi dia bilang…”karai..” terus cepet-cepet minum. “Oh sorry Sensei, I just want to say it’s very hot.” Wakakak…gerakannya lebih cepat dari pada kata-kata yang akan kukeluarkan. Tapi emang dasarnya pengen tau ya, si Sensei yang satu lagi dia ambil terong bulat dari piring yang berisi lalapan trus dia tanya, ini apa. “It’s an eggplant”. Dia heran karena terong yang biasa dia makan di Jepang yang panjang ungu.  

Yokota Sensei sebenarnya menawarkan ke ketua rombongan supaya bill dibayar sharing, karena jumlah orang jepang jauh lebih banyak dalam rombongan. Tapi ketua rombongan menolak dan ingin mentraktir sebagai penghormatan dari  tuan rumah. Denger-denger sih wong jepun emang gitu, di budaya mereka jarang ada istilah traktir mentraktir, apa-apa ya bayar sendiri. Aku ingat beberapa kali pergi dengan Saki san meskipun judulnya dia nganterin aku pergi, tapi kalau mau kutraktir dia gak pernah mau. Selalu “betsu-betsu (separate)…mirip ya sama istilah kita BS-BS (bayar sendiri sendiri).
Tujuan berikutnya adalah kebun teh Gunung Mas. Kami harus melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. Dan ternyata kemacetannya jauh lebih parah dari pada tadi pagi. Bus benar-benar berhenti jegrek di jalan.  

Jam setengah lima sore baru kami sampai di Gunung mas, padahal tadi berangkat jam setengah dua dari Sukabumi. Rombongan cuma berjalan sekitar setengah jam menyusuri area perkebunan PT Gunung Mas yang merupakan daerah agrowisata. Jadwal di atas kertas sebenarnya setelah lunch di Rindu Alam dan jalan-jalan di kebun teh adalah PULANG ke Bogor. Tapi melihat antrian mobil yang turun menuju Jakarta dan Bogor juga gila, akhirnya diputuskan sebelum balik ke Bogor makan malam dulu di Rindu Alam.

Di Rindu Alam karena sudah magrib dan berkabut tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Acaranya ya langsung makan. Kami duduk terpisah menjadi 4 meja. Sementara menunggu pesanan datang, pramusaji restoran menyuguhkan berbagai kue basah jajan pasar seperti lemper dan getuk lindri. Ternyata rasa getuk lindri pas di lidah mereka sebab tidak terlalu manis. Begitu pula teh tawar yang disuguhkan seperti umumnya di restoran ala Sunda. Mereka justru tidak suka rasa teh yang terlalu manis. Sebelum makanan datang kulihat Yokota Sensei sebagai pimpinan rombongan Jepun mengumumkan sesuatu, tapi karena dalam Nihonggo aku ga ngerti apa artinya. Di akhir acara makan barulah aku ngeh, ternyata untuk acara makan itu bill dibayar oleh pihak jepun dibagi rata 17 orang…hihihi…kirain dibayarin semua sama Yokota Sensei. Yang ditugasi mengumpulkan uang Kajikawa san yang duduk di depanku. Aku geli ngeliat semua anggota rombongan nyaris serempak buka dompet dan mengeluarkan uang sejumlah Rp 60 ribu. Ada yang nyerahin pecahan 100 ribuan, ada yang 50 + 10 ada yang 50 + 20. Jumlah bill sekitar 1 juta rupiah…
Akhirnya setelah sekitar 15 menit mengumpulkan uang dan mencocokkan dengan jumlah bill, Kajikawa menyerahkan uangnya ke ketua rombongan untuk dibayarkan ke kasir. Kajikawa bilang “Your government have to redenominated the currency.” Hahaha..kebanyakan nol nya dia bilang. Bener juga siy terlalu banyak nol dan terlalu banyak pecahan uang. Secara psikologis kalau belanja pakai yen waktu di Jepang enteng aja, karena dalam yen 2 nol di rupiah ngglinding. Begitu di rumah dihitung dan dikonversi ke rupiah baru timbul rasa bersalah. Buset belanjaan gue kenapa jadi segitu mahalnya yah ?  Gimana ya nanti kalau pemerintah Indonesia beneran jadi menerapkan redenominasi ? Bisa-bisa makin konsumtif karena ngerasa harga barang tiba-tiba jadi “lebih murah”, sementara penghasilan tetap. Uhmm…yah itu dipikirin nanti aja kali yee.
Yang terpikir olehku saat itu adalah ..jam berapa kami semua sampai di rumah kalau jam 19.30 masih di Puncak ? Perkiraanku ga meleset jauh, jam 9 kurang seperempat kami tiba di hotel. Kami berpisah untuk bertemu lagi besok di acara half-day-seminar dengan audience lebih banyak dosen, peneliti, dan mahasiswa.IMG_6162